Search This Blog

Saturday, June 29, 2013

Hikayat Kehidupan

Kalau kau kecewa dengan kejadian yang menimpamu hari ini, boleh jadi besok, lusa, minggu depan, atau bertahun2 yang akan datang kau justru mensyukurinya. Karena seringkali, keputusan Tuhan tidaklah instan, kawan...

Pada hakikatnya rentetan kejadian yang telah kau alami merupakan sebab, asal muasal, buat kejadian di masa mendatang. Butuh pemahaman dan penerimaan yang baik dalam menjalani suratan yang ditulisNya. Dan sungguh, itu hanya dipahami oleh kaum2 yang berpikir.

Kategori Sikap Hati

Ketika hati seseorang dihianati, ada tiga kategori yang jadi kemungkinan atas responnya terhadap hal tersebut.

yang pertama, dia akan berkoar2, marah, menjelek2an orang yang menyakitinya, tidak ada kata maaf.

Kedua, dia akan membalas dendam atas apa yang diperbuat oleh orang yang sudah mengganggu kenyamanan hatinya.

Ketiga, dia akan marah, menangis, tapi langsung mengadu pada Tuhannya. Dia tidak membalas dendam, tidak pula mengeksiskan diri sendiri agar orang yang menghianatinya menyesal telah membuatnya tersakiti. Karena buatnya, pembalasan adalah hak prerogatif Tuhannya, yang tidak pantas dicampurinya.

Hidup ini pilihan, kawan. Sungguh2 pilihan. Dan pilihan untuk bersabar selalu jadi alternatif yang tak mudah, meskipun pastinya akan berakhir manis. Sangat manis

Barometer Sukses

Seringkali yang jadi barometer kesuksesan adalah punya kendaraan yg keren, rumah mewah, penampilan kayak artis, trus bawa2 gadget canggih. Oh iya, ditambah lagi, punya pin BB.

Masih ada yg mikir gitu? ih bener2 ketinggalan jaman dehh

Saya kasih tau yaa...pemikiran ky gitu ngga salah2 amat sih...tapi nggak bener juga. Buat saya, kesuksesan model tadi, masih jadi trademarknya OKB. Alias orang kaya baru, yang pikirannya teramat sangat DANGKAL. Karena dia masih peduli banget tuh sama sanjungan n pujian orang lain. Secaraa...yang paling gampang diliat adalah tampilan luar.

Padahal sejatinya, kesuksesan buat para manusia modern adalah terbukanya sebuah pemikiran. Dari yang semula pemikirannya cuma segede selokan, sekarang jadi seluas samudra. Dari yang kerjaannya bilang nggak bisa, sekarang bilang apapun bisa. Dari yang tadinya bilang nggak mungkin, sekarang bisa bilang, "semua bisa diusahakan".

Nah, sayangnyaaa niihh...banyak orang yang ngaku sukses, masiiiih saja barometer sukses versi DANGKAL dipelihara di otaknya. Kalaulah dia mau lihat orang2 sukses yang sudah bener2 sukses, akan ditemukan fakta bahwa: Orang sukses yang sebenarnya penampilannya pasti sederhana. bicaranya santun, nggak merendahkan orang. Nggak pamer, apalagi nulis2 status di fesbuk kalo dia baru beli mobil baru, rumah baru, gadget baru, apalagi nyebarin pin BB.

Nggak percaya? Silakan ditelaah kembali.

Berpikir di luar Kota Besar

Memilih hidup di kota besar memang ada dua sisi. Satu sisi yang menarik adalah, apapun tersedia di kota besar. Namun sisi sebaliknya menyodorkan fakta bahwa, kehidupan di kota besar begitu menyesakkan dada, otak sama pikiran. Bukan semata karena biaya hidupnya, melainkan masalah terbuangnya waktu dan tenaga untuk hal yang namanya transportasi. Jarak yang semestinya bisa ditempuh setengah jam, jadi tiga jam. Kalau normalnya satu jam, bisa empat jam. Mau jalan kaki, udara full polusi. Bawa kendaraan sendiri, ilfil. Naik moda transportasi umum, lebih bikin ilfil lagi. Sampai di kantor sudah lelah, penat, stress. Maka sebenarnya tak usah dipertanyakan lagi sebab musabab menurunnya produktivitas masyarakatnya.

Coba bandingkan jika hidup di kota kecil, waktu segitu bisa bermanfaat banyaaaak sekali. Tak hanya bisa produktif, tapi juga ekonomis dan efisien. Apalagi kalau kita adalah kaum terdidik. Manfaatnya jauh lebih banyak lagi. Permasalahannya hanyalah pola pikir. Banyak orang masih beranggapan bahwa, Kalau mau sukses ya ke Kota besar. Yang tinggal di kota kecil dianggap cupu dan katro. Hmm...persepsi salah kaprah bener keblinger berjalan dengan mulusnya.

Let's think out of the box, dear... Peluang kehidupan yang jauh lebih baik membentang seluas mata memandang. Asal...ulet dan kreatif. Satu lagi, open minded. Terbuka akan hal-hal baru bikin mimpi makin mudah tercapai. Apapun kalau mau sukses ada syaratnya, kan?

Sekali lagi, sungguh, banyak peluang2 besar berceceran di luar sana. Namun hanya orang2 "berani" yang memungutnya dan menjadikannya roket menuju langit mimpi.

Sit in my class

Jam 07.27. Kelas masih kosong. Baru segelintir mahasiswa yang duduk dan membuka laptopnya. Sisanya, katanya sih mau menyambut Seminar Tugas Akhir. Kenapa ya, Tugas Akhir selalu jadi momok yang mengerikan? Kalau bisa memilih, mungkin para mahasiswa nggak mau melewati apa yang dinamakan tugas akhir, skripsi, atau apapun yang sejenis.

Padahal hakikatnya, tugas akhir kan berisi seluruh materi yang telah didapatkan selama menempuh perkuliahan. Yang bikin kita. Yang tahu kita. Yang paham kita. Dosen hanya sebagai perantara. Meluruskan jika terjadi kekeliruan.

Masalah yang terjadi adalah, banyaknya media sosial, juga terbukanya sistem informasi yang tanpa batas. Hal itu bikin orang jadi malas. Dan...menunda. Nanti ah. Ya...bahan tinggal googling. Atau, jurnal tinggal download gratis. Tinggal ngetik, tinggal bikin resume, yang parah, kalau sampai bilang, tinggal mikir. Dan tinggal2 lainnya sampai akhirnya ketinggalan segala-galanya.

Pepatah mengatakan, menunda itu masalah. Dan memang menunda akan benar2 jadi masalah. Giliran sudah mepet waktunya, maka kegalauan tingkat dewa pun melanda. Sebelum hal itu terjadi, bereskanlah, pikirkanlah. Lalu, hadapi. Badai pasti berlalu, kan?

My dear yang mau sidang tugas akhir, seminar, dan yang masih sekolah, kunci dari semuanya adalah banyak membaca. Dari situ akan ada turunannya yaitu memahami. Setelahnya ada turunan lagi yaitu mengamalkan. Maka berjuanglah. Kekuatan tekad dan hati yang teguh pasti bisa kok mengalahkan semua ketakutan berikut tantangannya.

Percayalah.

The injury time theory

Ini dikhususkan buat orang2 yang suka menunda. Termasuk saya sendiri tentunya. Padahal saya tahu pasti, bahwa menunda itu masalah. Bahkan lagi, dosen pembimbing saya pun jelas2 menuliskan saya selalu menunda tugas di surat rekomendasinya. Tapi untuuuung dia juga nulis tingkat intelegensia dan pemikiran saya nggak tertunda. Dulu saya selalu berpikir, setiap mau mengerjakan sesuatu harus nunggu mood. Akhirnya muncullah mata kuliah baru.

The injury time theory.

Dimana cara menanganinya adalah dengan the power of kepepet. Seru sih ngerjain sesuatu saat kepepet. Dikejar deadline ceritanya. Ide dan inspirasi muncul sedemikian derasnya. Tapi yaa...dasar kepepet, akhirnya nggak bisa maksimal. Adaa aja yang kurang. Capek pula. Ditambah ngos-ngosan. Tangan pegel, kaki pegel, jantung olahraga.

Sampai disini, hanya bisa garuk2 kepala. Mengingat lagi kalau my injury time theory sesungguhnya teramat sangat berbahaya. Dengan tingkat risiko diatas 50:50 antara keberhasilan dan kehancuran. Ihh amit-amiit...

Makanya, semestinya hidup itu penuh perencanaan dan pertimbangan yang matang. Jangan hanya mengandalkan rumus kepepet.
Kalau bisa diusahakan, kenapa harus menunda?

night, night.

Keraguan itu...

Keraguan memang seringkali muncul. Awalnya dari alam bawah sadar, lalu mencuat, tumbuh bak penyakit yang menjamur dalam benak. Menggerogoti kalbu, menyelipkan resah, membisikkan kata "jika".

Jika begini maka begitu. Jika kesana maka kesitu. Padahal semuanya belum tentu. Semua masih kelabu.

Lalu siapa sih yang pingin ragu?
Siapa pula yang senang memelihara keraguannya?
Membiarkannya menelikung tubuh, menghimpit nafas, menyulitkan tidur, dan menyesakkan dada.
Sungguh tidak ada, kawan.

Baiknya, lemparkanlah jauh-jauh keraguan itu.
Pasang tembok keyakinan setinggi-tingginya untuk menghalangi kembalinya si keraguan.
Cari kepastian dalam janjiNya.
Lakukan, apa yang seharusnya kau lakukan,
sambil berucap,

Hasbunallah wa ni'mal wakiil, Ni'mal mawla wa ni'man nashir.

Kenapa Tuhan ciptakan cinta?

Kalau ada kenapa, biasanya dengan cepat kita menjawab dengan awalan KARENA. Untuk menunjukkan sebuah atau beberapa alasan penciptaan cinta.

Padahal sesungguhnya, cinta sejati justru cinta tanpa karena.
Mengalir tulus tanpa syarat, tak mengharap pujian, apalagi sekedar ucapan "terima kasih".

Demikianlah, Tuhan mengatur manusia agar bisa mencapai titik ekuilibrium dalam hidupnya. Dia perintahkan manusia yang berlainan suku, agama, budaya, dan bahasa untuk dapat saling mengenal, untuk saling mendalami karakter, sehingga timbul rasa toleransi, saling menyayangi, dan selanjutnya mencintai.

Dengan cinta yang sejati.