Search This Blog

Tuesday, April 8, 2014

Syukurku pada Tuhanku


Tuhan...aku memang jauh dari kata sempurna
Jauh dari kata baik
Jauh dari derajat yang tinggi di mata manusia
Namun Engkau menyempurnakan aku dengan Ke-Maha besaranMu. Kau berikan aku nyawa, kau berikan aku paru-paru yang sehat untuk bernafas, otak yang normal untuk berpikir, mulut yang fasih untuk bicara, mata yang jelas untuk melihat, jemari yang lengkap untuk menulis, kaki yang kuat untuk berjalan, dan hati yang selalu Kau lindungi dari kemaksiatan. Sungguh, itu jauh lebih dari cukup, Tuhan.
Namun Engkau Maha Pengasih. Sehingga Kau terus membaikkan aku dengan kuasaMu. Kau berikan aku petunjuk saat jalan di depanku penuh kelok. Kau beri cahaya terang nan tegas saat pandanganku kelabu.
Dan Engkau, berikan aku kenaikan derajat setiap aku membuka setitik demi setitik tabir ilmu pengetahuan yang Engkau ciptakan.
Tuhan, terima kasih Engkau tak selalu memudahkan aku untuk mendapatkan apapun yang kumau.
Karena dengan demikian, aku dapat mengerti bahwa segala sesuatu yang indah takkan bisa kuraih tanpa kerja keras. Karena dengan demikian pula, aku dapat menghargai betapa mahalnya sebuah anugerah dan indahnya penantian. JanjiMu selalu terbukti. Makin keras usahaku, makin sabar hatiku, maka semakin manis rasa yang kukecap.
Tuhan, Terima kasih Engkau pernah memberikan aku kesempatan untuk menjadi orang yang dihina dan dikucilkan. Dicaci, dimaki, bahkan terpinggirkan. Karena dengan demikian kini aku tahu, mana orang yang benar tulus, mana yang bermuka dua. Kusaksikan itu sekarang, Tuhan...
Tuhan, aku tak pernah menyesal kenapa aku tak berada di posisi puncak dengan kehidupan glamour yang bergelimang harta. Tidak sama sekali, Tuhan. Sebaliknya, Engkau memberikan aku kehidupan yang sederhana. Sebuah kehidupan dimana aku akrab dengan kerja keras. Kehidupan indah yang mengajarkan aku prinsip tahu diri.
Kehidupan yang mempertemukan aku dengan para insan yang meniti jalan di atas jembatan kejujuran. Orang-orang yang rela menempuh perjalanan jauh demi mencapai tempat untuk menuntut ilmu. Orang-orang yang rela mengorbankan waktu istirahatnya setelah seharian bekerja, demi mengikuti perkuliahan di malam hari. Orang-orang yang rela menahan laparnya, demi bisa menyisihkan rupiah demi rupiah untuk belajar.
Kau perkenalkan aku pada para ibu yang rela menahan sakit saat kehamilannya demi menuntut ilmu. Seorang ibu yang terpaksa kehilangan janinnya karena tak kuat saat harus membagi waktu antara menuntut ilmu dengan istirahat. Para ibu yang aku tahu, tiap malam menangis sendu di kamarnya karena harus terpisah sementara dengan buah hatinya. Lagi-lagi demi menuntut ilmu.
Kau mempertemukan aku pada orang-orang yang rela menembus gelapnya malam dan menghadapi marabahaya demi melayani sesamanya. Demi tugas yang diembannya, dan demi sepiring nasi dari rizki yang halal untuk keluarganya.
Engkau juga memperkenalkan aku pada orang-orang yang begitu mencintai negara ini, hingga rela bekerja sampai jauh malam, demi kehidupan bangsa yang lebih baik. Orang-orang yang hatinya mempercayai bahwa, setitik air tawar yang ditebar ke lautan luas mungkin takkan bisa membuat air laut menjadi tawar. Namun mampu mengubah struktur molekulnya.  
Kau tunjukkan semua itu di depanku. Kau berikan aku kesempatan untuk mengenal orang-orang luar biasa, pekerja keras yang tak kenal kata instan untuk mencapai keberhasilan.  Golongan orang-orang yang tak menyia-nyiakan waktu. Orang-orang terpilih dan bukan ECE-ECE.
Terima kasih Tuhan, untuk tidak mendekatkan aku pada orang-orang jahat, orang-orang ingkar, orang-orang pemalas, penyuap, koruptor, dan orang ECE-ECE lainnya.
Engkau memang tak memberiku uang yang banyak. Namun Kau mengizinkan aku untuk bersujud di berbagai belahan bumi Indonesia Raya. Yang mungkin takkan sanggup kulakukan hingga aku mati, jika aku menghitung rizkiMu  hanya dari apa yang kupegang. Terima kasih karena selalu membuatku bahagia, tanpa harus menari di atas penderitaan orang lain.
Tuhan, di atas segalanya, aku bersyukur padaMu. Telah memberiku kesempatan dilahirkan sebagai muslimah, dari ibu yang luar biasa dalam mengurus anak-anaknya, dan ayah yang membesarkan aku dengan rezeki yang halal.
Tentu saja nikmatMu tak hanya itu. Banyak hal yang pastinya tak dapat kutorehkan satu persatu. Persediaan tinta, kertas, dan seluruh hard disk yang kumiliki takkan pernah cukup untuk memuatnya.

Bandung, 2 April 2014
Arum Silviani