Search This Blog

Sunday, August 9, 2015

Mulih ka Desa - Hari Kedua

Jembatan Kereta Api Kaliwangi - Losari
Setelah selesai silaturahmi di Desa Sidabowa Kecamatan Patikraja, saya dan keluarga kembali ke rumah Eyang saya dari Bapak di Rawalo. Tempat saya menghabiskan masa SMA. Tempat ini penuh kenangan buat saya tentunya. Saya banyak belajar jadi manusia sebenar-benarnya disini.

Pintu

Nah, kalau ini adalah Pintu kamar saya, tidak ada yang berubah. Di kamar itulah saya memulai mimpi bahwa suatu hari nanti, saya bisa mengelilingi Indonesia, bisa menjajaki dunia luas. Tak hanya duduk diam dan terlena dengan kenyamanan di desa. Keadaan rumah juga masih sama seperti dulu. Hanya bedanya, nggak ada lagi Eyang Kakung yang super cerewet dan senang mendongeng. Hanya ada Eyang Putri yang selalu sendirian, kangen sama anak cucunya yang sebagian besar tinggal di Jakarta. Sayangnya, Yangti nggak mau difoto :D

Kondisi ruang tamu yang berantakan :D
Hari ketiga kami habiskan dengan bermalas-malasan di rumah eyang. Istirahat, sambil menikmati suasana desa. Tentu saja Daya, adik saya yang gembul itu protes, minta jajan. Akhirnya saya ajak ke Pasar Rawalo untuk menikmati bakso langganan saya dulu. Langsung deh dia senyum-senyum.
Bakso Rawalo, Rp. 10.000/porsi

Daya dan semangkuk Bakso
Hari keempat, saatnya kembali ke Jakarta. Berat rasanya pamitan sama Eyang Putri. Tapi sebelumnya, kami mampir dulu beli oleh-oleh di Pasar Sampang, Kabupaten Cilacap. Letaknya tak terlalu jauh dari rumah eyang saya di Rawalo. Karena panas terik, saya mengajak kedua adik saya nongkrong di  warung es kelapa muda. Tapi saya memang strict kalau soal makanan ke mereka berdua. Apalagi habis puasa, salah makan bisa-bisa penyakit menyerang. Saya pesankan kelapa muda dengan gula merah organik, tanpa es. Ternyata rasanya sangat enak dan menyegarkan. Kelapanya juga asli, sehingga benar-benar segar. Harga per gelasnya hanya Rp. 3000,- saja. 
Penjual Es Kelapa Muda di Depan Pasar Sampang, Cilacap
Daya & Pia. Kakaknya kalah gede sama adiknya
Segelas Kelapa Muda & Gula Merah Organik
Sebelum pulang, boleh dong menikmati pinggiran Sungai Serayu. Letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah Eyang saya di Kebasen. Sore itu air sungai berwarna hijau, dan debit airnya tak terlalu tinggi. Mungkin karena musim kemarau. Dari sisi ini, kita bisa melihat Kereta Api melintas di seberang sana. 
Diambil dari sisi kecamatan Kebasen
Bersama sepupu-sepupu
 

Kadang kita perlu kembali ke kampung halaman, untuk tahu dan mengingatkan, darimana kita bermula.

1 comment:

  1. dadi asline Sidabowa apa Rawalo Mb,
    kok ra nyemplung serayu,
    ahahahaha

    ReplyDelete