Search This Blog

Friday, July 4, 2014

SISTEM ONLINE PPDB SMP YANG DIJADIKAN PELUANG OLEH TIKUS-TIKUS PENGERAT DI DUNIA PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH



Sumber : www.kesekolah.com

Beberapa waktu lalu, adik bungsu saya lulus SD, dan hendak melanjutkan ke SMP Negeri "Z" di wilayah Kota Tangerang Selatan karena terhitung dekat dari rumah. Katanya sih, mutu SMP tersebut lumayan. Adik kecil saya pun berharap banyak. Dia memilih SMP tersebut supaya bisa naik sepeda ke Sekolah, dan tidak merepotkan orang rumah lagi untuk mengantarnya. Sederhana sekali keinginannya. 

Nilainya pun tidak mengecewakan. Sekitar 25,56. Sedangkan batas masuk SMP ybs adalah 24 sekian. Jika nilai rapor dikatakan membantu, tentunya kami sekeluarga percaya diri adik saya bisa masuk. Nilai rata-rata rapornya 8 dan 9. Bahkan tidak sedikit mata pelajaran yang dapat 10. Adik saya juga lulusan SDN vavorit dan selalu masuk peringkat 5 besar di kelasnya.

Saat mendaftar di SMP tersebut, kami menggunakan sistem kolektif sekolah untuk PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) online. Karena letaknya tak jauh dari rumah, bapak saya pun datang langsung ke sekolah tsb dan sempat melihat bahwa saingan adik saya banyak yang hanya memiliki nilai akhir 20, 21, dan paling tinggi sekitar 24. Namun saat mendaftarkan adik saya, nilai yang semula 25,56, setelah ditambah nilai rapor justru menjadi 24,566. Saya pun mengernyitkan kening mendengar laporan bapak saya. Lho, nilai rapor katanya buat menambah atau membantu menaikkan nilai. Karena yang dilihat adalah histori prestasi belajar selama 6 tahun di Sekolah Dasar. Itu konsep yang saya tangkap dari PPDB SMP 2014. Tapi kenapa malah jadi turun? Okelah kalau adik saya anak bodoh atau memang nilai rapornya kebakaran. Pantas jika nilainya jadi diturunkan. Saya pun akan tahu diri dan takkan menuliskan hal ini di blog pribadi saya. Tapi ini tidak sama sekali. Saya tahu betul nilai PR hariannya, nilai ulangan, nilai ujian, dan nilai rapor serta rata-rata kelasnya. Saya memantau detil soal hal ini. 

Beberapa hari kemudian, adik kecil saya menelepon dengan girangnya. Dia diterima di SMP tersebut. Saya pun turut bahagia mendengar kabar baik ini. Apalagi dia berceloteh sudah siap menggunakan sepeda ke sekolah barunya. 

Tapi...menjelang penutupan PPDB, tiba-tiba adik saya sudah tersingkir dari SMP "Z" tersebut. Dan tergeser jauh ke pilihan keduanya. Bapak saya bilang, tiba-tiba statusnya seperti itu. Nah ini bagian kurang ajarnya. Bapak saya dapat sms, “Anak bapak bisa masuk, tapi bayar 3 juta karena nilainya termasuk tinggi. Kalau nilainya dibawah itu bisa sampai 7 atau 10 juta.”

Saya langsung say NO!

Gila banget! Oke kalau itu adalah uang gedung atau DPP atau apapun biaya sekolah. Lha ini? Biaya suap! Jelas-jelas biaya suap karena dalam situs PPDB online saya tidak menemukan satupun peraturan atau kata-kata yang menyebutkan jikalau nilai tidak memenuhi maka dengan membayar sekian nilai bisa naik. Iseng, bapak saya pun mengecek kembali ke SMP "Z". Nilai anak-anak yang semula rendah memang jadi melonjak tinggi.

Adik saya pun menelepon kembali sambil menangis sedih. Dia ingin sekali masuk SMP tersebut, tapi saya tetap bilang TIDAK. Bukan masalah besaran uangnya. Tapi masalah idealisme. Saya tidak pernah dan tidak akan pernah menyetujui hal yang bersifat korupsi maupun suap. 7 tahun sudah saya berkecimpung di dunia pendidikan, tak pernah sekalipun saya kotori tangan, pikiran, dan hati saya hanya demi lembaran-lembaran rupiah haram dan memeras orang lain. Sebaik mungkin saya melaksanakan tugas saya, saya bantu apa yang bisa saya bantu, dan saya mudahkan urusan yang bisa saya mudahkan, selama urusan tersebut mengikuti prosedur dan tidak melanggar peraturan yang ada. Dan tentu saja, tanpa sepeser pun uang suap.

Pelan-pelan saya bilang ke adik saya, “Jangan bersedih. Tuhan pasti punya jalan terbaik buat ade, tapi tidak dengan jalan menyuap. Masa ade mau sih diajarin di tempat yang nggak tulus ngajarin ade? Nanti ade mau jadi apa? Masa mau diajarin sama guru yang cuma minta uang ke ade? lebih baik masuk swasta tapi terhormat daripada masuk SMP vavorit tapi menyuap. Sekolah dimana saja sama, yang penting ade belajar giat. Pasti nanti bisa berhasil.” Begitu saya membesarkan hatinya. Akhirnya dia pun mengiyakan, meskipun saya tahu dia sangat sedih.

Padahal hati saya juga teriris rasanya mendengar isak tangis adik kecil saya. Saya mengerti betul kekecewaannya. Karena saya juga merasakannya saat saya hendak masuk SMP dulu. Dokumen saya dimanipulasi. Nilai saya yang tinggi justru terkalahkan dengan nilai anak-anak yang jauh sekali di bawah saya, bahkan jauh dibawah passing grade masuk SMP. Tapi itu dulu. Di akhir masa orde baru. Ini sudah masa reformasi dan semuanya sudah online, tetap saja bisa diakalin. Orang malah makin lihai dalam mencari celah untuk mengeruk uang haram. Bayangkan kalau orang tua lain. Melihat anaknya menangis dan merengek seperti adik saya pasti tidak akan tega. Maka mereka akan berusaha sekuat tenaga menyediakan dana demi menyuap dan demi anaknya tidak menangis lagi. Tak jarang juga, demi gengsinya sendiri karena anaknya bersekolah di SMP ini dan itu yang katanya “vavorit.”

Pada saat menuliskan hal ini, saya baru saja melihat liputan 6 SCTV edisi 4 Juli 2014 jam 05.00 WIB yang mengatakan bahwa sistem PPDB online diwarnai manipulasi angka prestasi calon siswa SMP oleh para oknum di dinas pendidikan. Dengan membayar sekian sekian maka nilai prestasi yang semula tidak ada menjadi “Diada-adakan” sehingga skor pun melonjak tinggi. Wah...baru saja akan saya publish, ehh perbuatan busuk oknum di dunia pendidikan ini sudah tercium media.  

Bulan puasa bukannya untuk berbuat baik, malah menerima suap dengan alasan buat lebaran. Ingat, sejatinya lebaran hanya berlangsung beberapa jam saja, dan hanya berhak dirayakan oleh orang-orang yang hati, pikiran, dan jiwanya telah dibersihkan. Lebaran sesungguhnya adalah kemenangan atas jiwa raga yang kembali fitrah. Bagaimana bisa kembali fitrah jika bergelimang uang kotor? Ibaratnya orang mandi. Gimana coba bisa bersih kalau mandinya pakai air got?

Kehidupan pun tidak hanya di dunia. Masih ada kehidupan akhirat yang stepnya jauh lebih panjang daripada dunia fana. Buat para oknum, semoga mereka dikasih kesempatan sama Tuhan untuk menyadari kekeliruannya. 

Alhamdulillah saat ini adik saya diterima di SMPN pilihan keduanya. Padahal saya sudah siap-siap mendaftarkannya ke SMP Swasta. Toh banyak sekolah Swasta punya mutu dan sistem belajar mengajar yang justru lebih baik daripada sekolah Negeri. Paradigma masyarakat bahwa sekolah swasta adalah sekolah untuk anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri lah yang salah kaprah. 

Buat Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud, Saya salut. Pastinya tidak mudah membuat sistem pangkalan data dan seleksi masuk SMP via online seluruh Indonesia. Butuh pemikiran, tenaga, pengkondisian server, dan sosialisasi yang tak mudah. Konsepnya sudah sangat baik, hanya saja pelaksanaan di bawah masih perlu pengawasan. Saya yakin, dengan kesabaran dan masih adanya orang-orang baik, konsep yang sudah baik ini akan berjalan dengan semestinya, sesuai dengan yang dicita-citakan. InsyaAllah.

Saturday, June 7, 2014

AMED, Sisi Lain Pulau Dewata yang membuatku Jatuh Hati



Judulnya provokatif ya? Sengaja. Biar orang tahu bagaimana perasaan saya saat dikasih kesempatan sama Allah untuk mengunjungi tempat ini. Tulisan saya kali ini sekaligus meralat pendapat dan kesan saya di masa lalu. 

Apa sih? 

Oke, saya langsung saja cerita ya...selama ini, Bali yang saya tahu dan saya kunjungi adalah tempat wisata metropolitan. Karena nggak beda jauh sama Jakarta. Apa saja ada di Bali. Dan macetnya mirip-mirip di Bandung. Namun demikian, Bali tak hentinya diekspose di televisi dan berbagai media baik nasional maupun internasional. Makanya, beberapa tahun lalu saya meluangkan waktu untuk mengeksplore tempat-tempat iconic Bali antara lain Pantai Kuta, Nusa Dua, Pantai Sanur, Dreamland, Uluwatu, Tanah Lot, GWK, Pasar Sukawati, dan tentunya seputaran Denpasar – Benoa-Nusa Dua. 

Ternyata...semua biasa saja. 

Bahkan kesan sumpek dan memusingkan membuat saya menganggap Bali adalah tempat yang terlalu biasa buat saya. Teramat sangat biasa sehingga saya dibuat bingung kenapa dunia memujanya. Nggak jarang tuh kalau di forum-forum, bahkan di film, orang menyebut, “Where is Indonesia? Is near from Bali?” mereka bahkan lebih kenal Bali daripada Indonesia.

Berkali-kali saya datang ke Bali, perasaan saya sama saja. Datar. Kalaupun ada teman yang bilang, “Wah...seneng ya ke Bali?” saya hanya mengangguk, lalu berkata dalam hati, “Biasa saja.”

Setiap ada teman yang ke Bali dan bilang tentang pesona Bali, saya nggak percaya. Lagi-lagi, Biasa saja tuh. Nggak bikin saya kepingin kesana, kecuali transit.

Itu pula sebabnya di blog saya tak sekalipun pesona Bali saya tulis. Yang ada saya berkampanye ke teman-teman, Indonesia is not only Bali, guys. Please visit Sulawesi, NTB, NTT, Ambon, Papua, Ternate...so you can find not only one or two perfect place in your life. But many...sooo many amazing place in Indonesia. And I’m sure, you will fall in love with them. 

Aneka sanggahan selalu saya lontarkan ke teman-teman, kalau Pulau Bali nggak segitu amat cantiknya. Nggak asik buat liburan. 

Tapi...suatu hari di pertengahan Mei 2014...seketika pendapat itu berubah. 

Tuhan membalikkan hati saya, dari yang semula menyanggah, mencela, kini berganti dengan mengagumi dan mensyukuri. Saya datang kembali ke Bali dengan cara yang tak biasa, ke belahan lain pulau ini. Saya naik speedboat dari Gili Trawangan, dan mendarat di AMED. Sebuah pelabuhan sederhana yang langsung mengusik hati saya, dan mampu membuat saya tersenyum lebar lalu berucap, Alhamdulillah...

Menggenggam Sunrise dari tepi Volcano Beach, Amed
Sungguh, tempat ini begitu sederhana. Baik dari segi pemandangan, fasilitas, maupun sifat orang-orangnya. Tidak ada yang istimewa. Namun yang berbeda adalah damai di hati. Rasa seperti pulang ke rumah dan disambut oleh sanak saudara. Rasa yang kuat bahwa saya sekarang sedang berada di Negara Indonesia, dengan tradisi dan keramahan Indonesia. Rasa seperti inilah yang tidak saya dapatkan setiap datang ke Bali di tahun-tahun sebelumnya. AMED, Sisi Lain Pulau Dewata yang membuatku Jatuh Hati.


Amed memang tidak terlalu istimewa. Tapi...menawan. Gimana ya jelasinnya? Kalau istimewa tuh Lombok dengan pantai-pantainya. Manado dengan pesona bawah laut dan danaunya, Yogya dengan suasananya, juga Ternate dengan keindahan ajaibnya. Sedangkan Amed tidak seperti itu. Amed, sebuah tempat di wilayah kecamatan Karangasem, punya pemandangan dan suasana yang sederhana, tapi tidak membosankan. Membuat kita betah menikmatinya dan nggak pingin pulang. Sekali lagi saya bilang, Amed itu menawan hati. Istilahnya kalau dalam cinta, kita ketemu soulmate deh. Yang meskipun nggak cakep-cakep amat, di hati nyantol terus. Selalu bikin kita senyum, dan bikin hati kita damai. 

Sekarang saya baru merasa, kenapa seluruh penjuru dunia berlomba-lomba datang ke Bali. Kenapa media tak henti mengeksposenya. Kenapa pula meskipun sudah di bom beberapa kali dan travel warning dari negaranya, tidak ada yang kapok berkunjung ke Bali. Kalau daerah Denpasar dan sekitarnya, benar. Bikin bosan. Tapi ketika kita mengeksplore belahan lain Bali, disitulah terasa Bali yang sesungguhnya. Bali yang ramah, Bali yang masyarakatnya saling menghormati dan baik hatinya, Bali yang sangat Indonesia. 

Berpose bersama Sahabat IDC di Double One Villa, Amed
Terima kasih sahabat IDC, saya sudah diajakin kesini. Trip ini membukakan mata saya bahwa tidak ada ciptaan Tuhan yang tak mempesona. Dengan tulisan ini, saya meralat segala kesan dan tulisan yang saya torehkan di masa lalu kalau Bali itu biasa saja. Karena ternyata, Bali memang luar biasa. 

Meniru proklamasi, Dengan ini saya menyatakan, Don’t just see Bali. But Explore Bali before you die!

With love,
Arum Silviani

Monday, May 26, 2014

Pantai Panjang, Pasir Putih membentang di Bumi Raflesia



Kala itu matahari belum sepenuhnya terbit. Ufuk timur masih nampak kemerahan berselaput awan. Debur ombak nan halus menyapa saya, membuat saya melangkah ke jendela, lalu menyibak tirainya. Seketika terlihatlah hamparan pasir lembut di depan sana. Mengundang saya untuk menapakinya.  


Segera saya beringsut dari tempat tidur. Dengan mengenakan sandal jepit, saya siap berlari ke halaman hotel. Air kolam renang yang sejuk sepertinya memancing hasrat saya untuk menceburkan diri. Namun niat saya tetap pada sebuah pantai di depan sana. 

Pemandangan dari Hotel Horison Bengkulu

Orang bilang, itulah Pantai Panjang.


Perlahan, saya menghirup udara segar dalam-dalam, lalu berjalan menyusuri tangga dan jalan setapak di belakang hotel. Tetesan embun pagi yang menempel di dedaunan terasa sejuk segar di kulit saat saya tak sengaja menyentuhnya. Di ujung sana, nyanyian burung pun terdengar sayup. Seolah mengajak orang-orang untuk bangun pagi dan menikmati pesona alam di bumi Raflesia.

Lorong jalan menuju Pantai Panjang
Ya. Disinilah saya sekarang. Berdiri di atas bumi Raflesia, Bengkulu. Tanah ini adalah tanah yang dahulu dipertukarkan dengan Singapura pada perjanjian The Anglo-Dutch Treaty of 1824. Perjanjian ini mengatur pertukaran kekuasaan Inggris di Bengkulu dengan kekuasaan Belanda di Melaka dan Singapura. Syukurlah, berkat perjanjian tersebut, kita punya tanah ini sekarang. Tak perlu disesali jika melihat Singapura kini sudah sedemikian maju. Kalaulah kita mampu mengelola Bengkulu, niscaya kita dapat menyaingi Negeri Singa itu.


Tak lama saya berjalan, saya melewati pepohonan nan rindang. Ranting-rantingnya seolah memeluk jalan. Karena lengah, wajah saya pun basah terkena embun. Namun demikian, basah di wajah kini tak lagi terasa ketika mendengar deburan ombak yang semakin jelas. 
 
Pantai Panjang, Bengkulu

Takjub dan terkesima, itulah kesan pertama saat saya menginjakkan kaki di Pantai Panjang. Sejauh mata memandang, pantai ini seperti tak berujung. Pantas orang menyebutnya dengan Pantai Panjang. Karena pantainya terbentang sekitar 7 km memeluk Kota Bengkulu. Gumpalan awan berlapis-lapis seperti kapas putih yang melayang di angkasa raya. Genangan air bahkan memantulkan bias awan nan menawan. Deburan ombak yang halus menjilat-jilat bibir pantai. Buihnya putih bersih, namun hilang sejenak bersamaan dengan air yang menariknya ke lautan, untuk kemudian kembali lagi ke Pantai. Begitu seterusnya.


Berdiri sendirian di Pantai ini membuat semuanya terasa syahdu. Langsung deh bersenandung.


Disini, di pantai ini...telah terkubur sejuta kenangan. Dihempas keras gelombang...dan tertimbun batu karang...


Sayangnya, di pantai ini tidak ada karang yang menghadang. Maka saat air laut pasang, jangkauannya akan lebih jauh. Hamparan pasir putih berbulir halus yang luas dan landailah jadi gantinya.


Sungguh indah Indonesiaku...

Sebagai informasi untuk anda yang ingin berkunjung ke Pantai Panjang, lokasinya terletak di sebelah barat Kota Bengkulu, yaitu di Jalan Pariwisata Kota Bengkulu. Jaraknya sekitar 1.5 km dari pusat kota dan dapat ditempuh dengan mobil, minibus, taksi, atau motor (tenang saja, jalannya mulus kok). Buat anda para backpacker, jangan khawatir. Tersedia angkutan kota yang siap mengantar anda ke tempat ini. Namun buat anda yang senang menikmati perjalanan santai di Kota Bengkulu, anda bisa mencoba naik sado atau delman. Transportasi tradisional di Kota Bengkulu.