Search This Blog

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Wednesday, February 11, 2015

Menguak Tragedi Gerbong Maut di Museum Brawijaya


Pintu Masuk Museum Brawijaya

Gagah. Itu kesan pertama saat saya menginjakkan kaki di pelataran Museum Brawijaya. Museum yang terletak di Jalan Ijen No. 25 Malang ini diresmikan tanggal 4 Mei 1968 oleh Kolonel Pur. Dr. Sewondo. Dengan mengusung semboyan “Citra Uthapana Cakra” yang artinya “sinar yang membangkitkan kekuatan”, saya rasa museum ini memang demikian adanya. Tepat di tengah pintu masuk, terpampang patung Sang Panglima besar yang terkenal gagah berani dengan strategi gerilyanya yang brilian, Jenderal Soedirman. Saya tersenyum sejenak. Bangga juga kalau saya satu kampung halaman dengan Sang Panglima ini. 

Tanpa buang waktu, saya menaiki tangga, lalu masuk lewat pintu utama. Membeli tiket seharga 3 ribu rupiah saja. Tepat di atas meja resepsionis ini, saya melihat jajaran foto Para Pangdam Brawijaya dari periode ke periode. Selanjutnya, saya melangkah ke sisi kanan gedung, dimana terdapat sebuah mobil kuno berwarna hitam, serta deretan senjata laras panjang aneka tipe, granat, meriam hasil rampasan arek-arek Suroboyo dari musuh. Galeri foto dan lukisan juga menghiasi ruangan ini. Foto disusun berdasarkan urutan sejarah, yang menggambarkan betapa gagah beraninya Tentara Nasional Indonesia pada saat itu. Meskipun dengan keterbatasan, semangat mereka tetap berkobar demi mempertahankan ibu pertiwi.

 

Koleksi Senjata
Selanjutnya saya melangkah ke sayap kiri gedung. Disini terpajang aneka senjata, piagam penghargaan, juga foto-foto yang memuat operasi pemberantasan pemberontakan yang pernah ada di negara Indonesia. Entahlah, ketika saya melihat foto-foto itu, saya justru bertanya-tanya, apakah sungguh mereka pelakunya? Mungkin diantaranya ada yang benar-benar terlibat, terpancar dari sorot mata yang cerdas juga licik. Namun ada beberapa orang yang ekspresi wajah juga sorot matanya memancarkan ketidaktahuannya, ketakutan, kepasrahan yang mendalam, dan meminta pertolongan. Terus terang, untuk di bagian ini, saya agak kurang suka, terlebih ketika foto-foto tersebut menampilkan mayat “sang pemberontak” yang mengenaskan. Sungguh membuat nyali ciut. Sehingga saya pun buru-buru menyingkir dari tempat ini. 

Saya melangkah ke taman belakang. Disitulah terdapat salah satu dari tiga gerbong maut yang melegenda. Yang kisahnya bisa membuat siapapun trenyuh, pilu, juga berpikir, betapa jahatnya manusia. Perbuatannya justru jauh lebih kejam dibandingkan dengan hantu-hantu yang katanya sih suka mengganggu. Gerbong ini merupakan saksi bisu sepenggal kisah sejarah para pejuang bangsa. Pada tanggal 23 September 1947 pukul 01.00 WIB para pejuang kemerdekaan yang ditawan di penjara Bondowoso (sekitar 100 orang) diangkut dengan menggunakan gerbong barang untuk dipindahkan ke Penjara Bubutan Surabaya. Kondisi yang berdesak-desakan dalam gerbong sempit, ditambah pintu dan jendela yang ditutup rapat selama perjalanan membuat udara dalam gerbong sangat panas. Sehingga ketika sampai di Stasiun Wonokromo Surabaya, 46 orang meninggal, 11 orang sakit parah, 31 orang sakit, dan yang sehat hanya 12 orang. Itulah awal mula kenapa gerbong ini disebut gerbong maut. 
 
Gerbong Maut (Tampak Samping)

Gerbong Maut (Tampak Depan)
Puas melihat-lihat, saya pun naik ke rooftop gedung museum ini. Ternyata...pemandangan dari rooftop sangatlah menawan. Kita bisa melihat Jalan Ijen yang terkenal dan bersejarah terbentang cantik di bawah sana. Di kanan kirinya terdapat pohon Palem raksasa yang tinggi menjulang. Gedung-gedung kuno pun berjajar anggun, memberikan suasana hangat saat menatapnya. 

Pemandangan dari Rooftop Museum Brawijaya
Penilaian saya, untuk harga tiket 3 ribu rupiah saja, worthed lah ya...kita bisa melihat benda-benda bersejarah yang dapat memberikan pengetahuan tambahan dan membuka cakrawala tentang dunia kemiliteran. 

Recommended (3,5/5)

Mengulik Sejarah Masa Lampau di Museum Malang Tempoe Doeloe




Ceritanya memang lagi penasaran karena Museum ini pernah diliput di salah satu stasiun TV swasta. Nah, hari pertama saat bertandang ke Kota Malang, saya dan kawan-kawan langsung menuju tempat ini. Letaknya nggak terlalu jauh dari penginapan kami. Tepatnya di Jalan Gadjah Mada, belakang Balai Kota Malang. Harga tiketnya Rp. 15.000/orang.


Museum ini cukup unik buat saya, karena kita diajak menyusuri lorong sejarah. Sejak jaman purbakala, kemudian kejayaan kerajaan Majapahit, masa-masa penjajahan Portugis, Belanda, Jepang, hingga ke masa kini. Semuanya dilengkapi dengan koleksi benda-benda purbakala, arca-arca, artefak, benda seni, benda-benda bersejarah seperti Alu, alat-alat pertanian, kamera, blueprint gedung-gedung tempo dulu, sepeda, dan masih banyak lagi yang lainnya. Disini juga terdapat beberapa patung unik yang menarik mata. Diantaranya ada patung Brahmana yang melayang di udara dengan membawa kendi untuk pemberkatan, patung seorang laki-laki yang sedang duduk takzim dan bertapa, patung yang duduk di atas gubuk beratapkan jerami, dan yang paling unik, adalah patung tentara yang sedang berada dalam tahanan. 


Kalau untuk saya, konsep yang dihadirkan museum ini cukup menarik. Kesan misterius juga terasa di beberapa spot. Nggak usah saya sebutkan lah ya spotnya dimana...kalau anda datang sendiri, anda bisa merasakannya secara langsung. Sekilas, dari depan tempat ini tidak begitu besar. Tapi begitu masuk, ternyata di dalamnya cukup luas, dengan penataan yang apik sehingga meskipun artifisial, kita tidak bosan dan seperti ditarik untuk menyusuri lorong sejarah di setiap bagiannya.

Notes : Recommended (4/5)

Monday, September 23, 2013

Kutho Solo #Day 2 - Rumah Batik Iwan Setiawan, Kampung Batik Kauman Surakarta & Pusat Grosir Solo



Bangun pagi-pagi, sarapan sebentar, terus dianterin sama Pak Wisnu ke Rumah Batik Iwan Setiawan. Mau kursus batik singkat. Bayar IDR 50ribu, tapi disuruh siapin pensil sendiri. Ya udah, kami beli dulu pensil deh. Eh...di tempat kursus dikasih pensil lagi. Meskipun kondisi pensilnya sudah nggak karuan.

Rumah batik Iwan Setiawan ini letaknya nggak jauh dari homestay. Jalan kaki lima menit saja, sampai deh...kami sudah ditunggu mbaknya disana. Satu buah kanvas berukuran 30x30cm diberikan pada kami. “Lho...ini mau diapain, mbak?” tanya saya bego. Kata si mbaknya suruh digambar pola batik. Hah? Gambar? Saya kan paling nggak bisa gambar. Apalagi gambar batik. *tepok jidat. Tapi kata mbaknya harus gambar sendiri. Maka mulailah kami berkreasi.

Ini pengalaman pertama saya membatik. Juga pertama buat kami bertiga. Berkali-kali malam dalam canting saya keluar seenaknya, memberikan titik-titik noda jelek di atas kanvas. Butuh kesabaran ekstra untuk membatik seperti ini. Kurang lebih satu jam kemudian...jadilah batik kami...

Masih sketsa yang ditorehkan malam. Selanjutnya proses pewarnaan. Kami menggunakan pewarna buatan. Ya sudah, saya pun mewarnai bebas. Terus saya kasih tanda tangan. Narsis banget ya? Biarin lah. Batik ciptaaan saya kok. Hihihi...

Eng ing eng....inilah salah satu batik narsis milik Bhekti :
Batik Narsis

Setelah membatik kami beli beberapa souvenir buat dibawa pulang. Di depan galeri juga kami membeli makanan khas buat oleh-oleh. Oh iya, untuk belajar membatik ini, kita dikenakan tarif IDR 50ribu/orang. Hasil batik juga bisa dibawa pulang. 

Balik lagi ke homestay, terus di tengah jalan ketemu penjual sate. Langsung lah kami beli sate 30 tusuk, kami bawa pulang ke homestay. Rasanya enaaak....

Pusat Grosir Solo
Semula setelah belajar batik kami hendak ke tawang mangu. Namun ternyata sewa mobil dari homestay mahal banget. IDR 400ribu hanya untuk sekitar empat jam. Langsung berhitung dong...supir yang biasa nganterin saya Bandung-Jakarta saja nggak segitu. Akhirnya kami nggak jadi. Memutuskan jalan-jalan keliling kota Solo saja. Apalagi kalau bukan shopping? Belanja di PGS! Batik tentunya...


Buat anda yang tidak pandai menawar, memang disarankan belanja di PGS daripada di Pasar Klewer. Pusat Grosir Solo ini terletak di tengah-tengah kota. Isinya lengkap. Mulai dari kain batik, kaos batik, tenun batik, dan lain sebagainya. Komplit. Namun yang saya kecewa, batik yang dijual disini jarang banget batik Solo. Kebanyakan justru batik Pekalongan. Dimana batiknya adalah jenis batik printing. Bukan kain batik, melainkan kain bermotif batik. Buat saya pecinta batik tulis dan batik cap, tentunya malas membelinya. Sedangkan batik asli Solo saya tidak tahu tempatnya di sebelah mana. Kami hanya membeli beberapa bahan kain dan kaos batik untuk keluarga dirumah. Kaki sudah pegel, akhirnya makan rujak deh di depan PGS. Sebrangnya tepatnya. Sambil menunggu taksi yang lewat. Murah lho rujaknya, cuma IDR 5ribu. Porsinya buanyak banget. Sepiring penuh. Bahkan kita bisa memesan rujak serut. Bumbunya disiram gitu diatas serutan buah-buahan. Pedas, menyegarkan.  
Rujak di Sebrang PGS