Search This Blog

Wednesday, April 30, 2014

Sebuah Cerita dari Ujung Banda #Part 2



Hari kedua #Banda Aceh City Tour
Di selat Malaka, di Ujung Sumatera....
Saat saya kecil, Selat Malaka hanyalah sebatas angan dan bagian dari syair lagu yang sering saya nyanyikan. Tak pernah terbayangkan bisa melihat langsung dan menjejakkan kaki disini. Namun kini, saya benar-benar berdiri diatas gundukan pasir putih di tepian Selat Malaka. Memandang beningnya air laut dan merasakan kelembutan pasirnya. Indah sekali pantai ini. Sepi, seolah pantai milik pribadi. Salah satu kolega saya malah dengan asyiknya berfoto ria. Kapan lagi bisa ke Selat Malaka? Demikian ujarnya.

Ada tulisan ini juga lhoo...
Undang-Undang Setempat

Nah...perjalanan menuju Selat Malaka ini melewati perumahan yang tidak berpenghuni. Sisa-sisa bencana Tsunami masih terlihat jelas. Namun yang mencengangkan, ada satu musholla yang masih berdiri dengan anggunnya. Konon kabarnya, musholla ini tetap bertahan di tengah kerasnya hempasan bencana yang melanda. Sungguh Kuasa Tuhan tak berbatas.
Makam Syiah Kuala
Teuku Syiah Kuala, berasal dari bahasa Aceh, yang artinya Syekh Ulama di Kuala. Nama aslinya adalah Aminuddin Abdul Rauf bin Al-Jawi Tsumal Fansuri, seorang ulama besar dari Singkil yang terkenal dan memiliki pengaruh besar dalam penyebaran agama islam di Sumatera dan Nusantara.
Disinilah kami sekarang. Melihat secara langsung makam ulama besar tersebut. 
Plang di depan Makam Syiah Kuala
Ada kejadian konyol di tempat ini. Saya, diomeli oleh seorang kakek penjaga makam karena saya mengenakan celana. Saya pun dikasih sarung, disuruh pakai. Meskipun dengan berat hati, saya pun memakainya. Namun selanjutnya, saya diomeli lagi. Dibilang bukan muhrim karena pergi dengan para bapak-bapak. Perasaan larangannya cuma buat pasangan non muhrim deh. Dan saya kesitu bukan dengan pasangan saya. Ah, daripada ribet, lebih baik saya tidak berlama-lama disini. Sarung pun saya kembalikan, dan langsung masuk mobil. Saat itu saya agak sebal juga sih, saya berpakaian sopan dan tidak ketat saja masih diperlakukan seperti ini. Ditolak karena pakai celana. Bagaimana yang tidak menggunakan jilbab?
Tapi mungkin sudah budaya. Persepsi orang jaman dulu tentu jauh berbeda dengan hari ini. Di tempat lain kota Banda Aceh saya aman-aman saja. Artinya, kini orang-orang sudah fleksibel. Sorry to say, buat saya tempat ini kurang recommended ya...
Tergantung preference sih...Hanya saja buat saya, kalau kita berkunjung ke suatu tempat, kita butuh adanya rasa “aman” dan “diterima”.
Boat di atas rumah
Cuma numpang foto-foto disini. Karena ajaib, boat itu “bertengger” di atap rumah warga. 
Boat di atas Rumah
Tampak dari atas
Bagi pengunjung, disediakan tangga untuk menuju ke boat tersebut. Boatnya sendiri tidak boleh dinaiki, karena mungkin sudah rapuh. Namun kita dapat melihatnya secara jelas, serta mendapatkan satu buah buku kisah nyata warga yang selamat dalam boat yang tersangkut di atas rumah H. Misbah Lampulo. Boat tersebut tersangkut di atas rumah akibat bencana alam berupa gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada Minggu, 26 Desember 2004 silam. Kini ditetapkan sebagai monumen Tsunami dan dijadikan sebagai salah satu objek dan daya tarik wisata dengan nama objek wisata Peringatan Allah. Penamaan objek wisata ini dimaksudkan agar setiap pengunjung yang menyaksikan boat tersebut tidak hanya sekedar sebagai pertanda telah berkunjung ke Kampung Lampulo Banda Aceh, tetapi menjadi renungan akan peringatan Allah terhadap ketakwaan manusia kepada Allah SWT. Betapa atas kuasaNya, manusia dapat bertahan di tengah bencana mahadahsyat sekalipun.

Museum Tsunami
Museum ini dirancang oleh Ridwan Kamil, dosen Arsitektur Institut Teknologi Bandung yang kini menjabat sebagai Walikota Bandung. Jika dilihat dari atas, museum ini merefleksikan gelombang tsunami. Namun kalau kita melihat dari bawah, nampak seperti kapal penyelamat dengan geladak yang luas.
Begitu masuk ke dalam, saya serasa memasuki lorong gelap dan berliku. Bulu kuduk merinding seketika, apalagi saat mendengar lantunan suara Al-Quran yang syahdu. Lorong ini memiliki ketinggian kurang lebih 40 meter, dan ternyata...ada air berjatuhan. Baju dan kerudung saya pun basah terkena percikan air itu.
Tips buat anda yang hendak mengunjungi museum tsunami Banda Aceh: Siapkan topi berukuran lebar sehingga baju dan kepala anda tidak kebasahan. 
Fighting Room
Selanjutnya, ujung dari ruangan ini adalah “Ruang Penentuan Nasib” atau “Fighting Room”, banyak juga yang menyebutnya The Light of God. Lagi-lagi, saya merinding di tempat ini. Ruangan yang berbentuk seperti cerobong dan gelap ini ternyata punya arti tersendiri. Dindingnya penuh dengan nama-nama korban Tsunami, dan di atapnya ada tulisan Allah dalam aksara Arab, yang menyala terang. Seolah memberikan harapan pada kita, untuk tidak menyerah pada nasib. Jika kita berdoa dan tak putus asa, maka pertolongan Tuhan teramat dekat.
Aksara Allah di Cerobong Museum Tsunami
Selanjutnya, kami keluar dari ruangan ini. Lagi-lagi dengan jalan yang berliku. Seolah menggambarkan gelombang tsunami yang tak berujung. Di depan sana, ada “Hope Bridge”, yaitu jembatan harapan yang di atapnya terpajang bendera 52 Negara. Artinya, 52 negara ini seolah siap mengulurkan bantuan pada para korban bencana.
Nah...disinilah tempat saya narsis :D
Hope Bridge Museum Tsunami
Selanjutnya, kami menyusuri scientific room (nama benerannya lupa). Disini terpampang alat-alat simulasi bencana gempa dan tsunami 4D. Amazing! Seumur-umur saya keliling museum, inilah museum terbaik yang pernah saya kunjungi. Sungguh mengagumkan dan jauh dari kata membosankan. Karena selain dapat pengalaman baru, pengunjung bisa sekalian belajar dengan alat-alat canggih ini. 
Miniatur PLTD Apung
Ruangan berikutnya memajang foto-foto sebelum dan setelah bencana, juga bagaimana penanggulangan korban yang terkena bencana. Mujurnya saya, saat kesitu tepat teater dibuka. Teater ini memutar film tsunami selama 15 menit. Dari mulai gempa, tsunami, hingga saat pertolongan. Waa...bikin saya nangis. Untung ruangan gelap. Sebelum keluar, saya buru-buru mengelap mata dengan tissue. Malu kalau kelihatan orang. 

Nah...buat anda yang berkunjung ke Banda Aceh, highly recommended deh ke tempat ini. Berikut informasi yang mungkin bermanfaat buat anda:
Jam buka museum Tsunami Banda Aceh :
Selasa-Kamis dan Sabtu-Minggu buka pukul  09.00 – 12.00 WIB. Tutup pukul 12.00-14.00, dan buka kembali jam 14.00-16.30.
Jumat buka pukul 09.00 – 11.30, Tutup pukul 11.30-14.30. Buka kembali jam 14.30-16.30.
Alamat Museum Tsunami :
Jl. Sultan Iskandar Muda, Blang Padang, Banda Aceh.
Telp : (0651) 40571/(0651) 40572/(0651) 40572

Masjid Baiturrahman
Masjid Baiturrahman Banda Aceh
Belum lengkap rasanya ke Banda Aceh jika belum sujud di Masjid Baiturrahman. Sebuah masjid yang arsitekturnya mirip Taj Mahal di India. Sayang saya tak sempat memotret secara tepat di depannya karena kebetulan hari itu hujan deras mengguyur tanah Banda.
Setelah melepas penat di Masjid ini, kami pun melanjutkan perjalanan ke Bandara. Namun lagi, kami mampir ke toko oleh-oleh dan tentunya...minum kopi di Warung Kopi Jasa Ayah. Rasa kopinya memang berbeda. Aromanya kuat dengan rasa sangat enak. Kita juga bisa membeli kopi untuk dibawa pulang sebagai tanda mata buat keluarga di rumah.
di toko oleh-oleh
Jangan ragu untuk mengunjungi Banda Aceh. Asal anda bersikap sopan dan pandai menjaga sikap, tentunya tidak akan timbul masalah. Khusus untuk anda yang wanita, kenakan pakaian tertutup dan tidak ketat, juga siapkan pashmina. Kalaupun anda tidak berkerudung, tutuplah rambut anda dengan pashmina tersebut. Hal ini untuk menghormati budaya masyarakat setempat. Seperti halnya kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.
Salam Cinta Indonesia,
Arum Silviani

Sebuah Cerita dari Ujung Banda #Part 1



Begitu dengar Aceh, biasanya orang akan langsung teringat : GAM, Tsunami, Masyarakat yang anarkis, dan Tentara Syariah. Banyak banget berita tentang hal-hal tersebut. Media juga seringkali membesar-besarkan hingga akhirnya muncullah “cap buruk” tentang Aceh yang di-overgeneralization. Artinya, memandang Aceh dengan persepsi buruk. Makanya, di artikel ini saya pengin kasih tahu ke pembaca, Aceh dalam nuansa yang berbeda. Aceh yang aman dan kini tengah berbenah.

Suatu hari di penghujung Desember, untuk pertama kalinya saya terbang ke Banda Aceh. Bersama beberapa kolega, kami memilih penerbangan Garuda Indonesia dari Bandara Soekarno-Hatta. Penerbangan ini singgah di Medan selama kurang lebih 30 menit, dan melanjutkan perjalanan ke Bandar Udara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh.

Banda Aceh siang itu berawan, dengan suhu sekitar 33 derajat celcius. Jarak pandang dan landasan pacu yang panjang pun turut mendukung hingga pendaratan berlangsung mulus. 

Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda
Kesan pertama mendarat di bandara ini : Bersih dan teratur. Juga tidak terlalu padat seperti bandara sibuk lainnya. Kami pun turun dari pesawat dengan menggunakan garbarata yang dilengkapi penyejuk udara. Padahal biasanya, bandara di daerah banyak yang tidak mempunyai fasilitas ini. Seringkali saya harus jalan kaki di atas landasan aspal bersuhu di atas 40 derajat celcius untuk menuju terminal kedatangan. Dengan perbandingan demikian, dapat saya katakan bahwa Bandara Sultan Iskandar Muda sudah layak disebut bandara internasional seperti nama yang disandangnya. 

Kondisi sesaat setelah pendaratan
Begitu sampai ke terminal kedatangan, kami disambut oleh rekan-rekan dosen dari Universitas Syiah Kuala. Rencananya memang kami akan silaturahmi ke Universitas terbesar di Banda Aceh ini. Kami pun langsung menuju kampus Unsyiah. Dalam perjalanan, kami melewati pemakaman massal korban Tsunami. Tidak ada nisan disana. Hanya ada tanah lapang dengan rerumputan yang hijau membentang. 

Pemandangan lainnya adalah tanah kosong dengan rimbunnya pepohonan serta rumah penduduk yang tertata rapi. Informasi yang saya dapatkan dari supir, dulu daerah ini sangat tidak diminati sebagai tempat permukiman warga. Namun semenjak Tsunami menghantam pusat kota Banda Aceh dan menguras habis perumahan di tepian pantai, daerah ini menjadi tempat favorit untuk rumah tinggal. Karena selain tergolong dataran tinggi, tempat ini jauh dari pantai. Saya memaklumi sikap masyarakat yang demikian. Bencana sedahsyat itu tentunya meninggalkan trauma yang tak mudah untuk dihilangkan.

Kondisi jalan pun sangat baik. Lebar dan mulus. Hingga masuk ke kota Banda Aceh, kondisi jalan tetap mulus. Geliat pesatnya ekonomi kentara jelas. Ruko-ruko yang menjual aneka kebutuhan masyarakat seperti pakaian, bahan makanan pokok, bahkan mainan anak-anak pun berjajar disini. Artinya, Persaingan bisnis sudah berjalan seperti halnya di kota yang sedang berkembang. 

Kekhasan kota ini pun dapat dilihat dengan banyaknya jajaran warung kopi. Seperti yang sering kita dengar, warung kopi adalah icon sejati Ujung Banda. Jokesnya, setiap meter ada warung kopi. Meskipun demikian, sepanjang hari dan malam warung kopi tersebut tak pernah sepi pengunjung. 

Hmm...Banda Aceh kini benar-benar sudah berbenah. Demikian saya membenak.

Setelah urusan kami di Unsyiah selesai, kami pun menemui hulubalang saya waktu di Bandung. Apalagi kalau bukan minta dianter jalan-jalan? Hehe...
Hal pertama yang saya lakukan tentunya nyobain nongkrong di warung kopi. Menikmati kopi sanger (ulasannya sudah saya tulis disini) dan aneka cemilan khas Aceh. Tidak hanya kopi. Banda Aceh juga menawarkan kuliner yang tak kalah lezatnya. Menu khas daerah ini yang saya coba adalah ayam tangkap, gulai kambing, sate matang, dan tentu saja...Mie Kepiting Aceh. 

Semua masakah khas Aceh mempunyai citarasa yang otentik, dengan aneka rempah yang menggelitik lidah anda.

Untuk akomodasi, kami menginap Hotel Madinah, Jl. Teuku Daud Bereuh. Hotel ini terletak di pusat kota Banda Aceh. Di seberangnya terdapat rumah sakit yang dibangun atas kerjasama Program kemitraan Australia Indonesia. Menurut pelayan hotel, rumah sakit tersebut memang dibangun untuk menanggulangi korban bencana tsunami Aceh 2004 lalu.
Sekilas tentang kondisi hotel : Kamarnya luas dan lumayan bersih, namun dasar saya yang suka parno, terasanya malah agak spooky. Fasilitasnya juga minim. Mirip losmen gitu. Padahal kalau tidak salah, ini hotel bintang 3. Hal menyenangkan menginap di hotel ini adalah aksesnya, karena dekat kemana-mana. Selain itu, meskipun tampilan restaurant dan menunya teramat sangat sederhana, namun breakfastnya lumayan enak. Memang cuma nasi goreng, tapi dimasaknya secara baik dan benar. Jadi citarasanya seperti masakan rumah.
Setelah istirahat sejenak, malam harinya berlanjut lagi mencoba Mie kepiting Aceh di warung Mie Razali. Kepiting dan mienya fresh. Hanya saja bumbunya terlalu pekat di lidah saya yang orang Jawa. Rempah-rempahnya sangat terasa. 

Masih belum puas, kami pun jalan-jalan ke Ulee Lheue Port, Banda Aceh. Disini pelabuhan tempat bersandarnya Kapal Ferry dan Speedboat ke Pulau Weh. Waaa....saya mupeng banget. Pulau Weh adalah salah satu Destinasi yang wajib dan harus saya kunjungi. Saya kan punya cita-cita : See Weh Island before married. Hehehe...Sayangnya...belum kesampaian kesana. Kini, saya harus berpuas diri menikmati jagung bakar di atas jembatan Ulee Lheue, dengan mata terus memandang ke lautan...(*Lebay ya?)
Bismillah...suatu saat nanti....
Destinasi berikutnya, kami mengunjungi PLTD Apung. Sebuah kapal tongkang berukuran raksasa yang membangkitkan listrik dengan tenaga diesel. Sebelum Tsunami melanda, Kapal ini mengapung di tengah laut Malaka hingga disebut sebagai PLTD Apung. Pada saat bencana, kapal pun tersapu hingga akhirnya terseret ke daratan. Kini, kapal tersebut digunakan sebagai salah satu tempat wisata Banda Aceh.
Sayangnya, di malam hari kami tidak boleh mengeksplore PLTD apung. Kebetulan, saat itu sedang ada maintenance. Akan dibuat jalur koridor untuk pengunjung untuk kenyamanan berwisata. Nggak apa-apa lah, yang penting sudah lihat dengan mata kepala sendiri.
Well...itu petualangan saya hari pertama di Ujung Banda. Next post adalah petualangan keliling Banda Aceh City Tour.

Sunday, April 20, 2014

Riam Pinang, Keindahan tersembunyi Borneo di balik Karang Intan



Mentari di Kabupaten Banjar

Riam Pinang merupakan sebuah tempat eksotis yang termasuk dalam wilayah Desa Pulau Nyiur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Kalau dalam bahasa Banjar, Riam berarti Danau, yang biasanya terletak di daerah dataran tinggi. Begitupula dengan Riam Pinang yang terletak jauh tersembunyi di dalam hutan karet. Dipeluk perbukitan nan menghijau dan terlindungi dari geliat kilap dunia luar. 

Tidak banyak orang yang menyambanginya. Bukan karena ia tak cantik. Bukan pula karena ia tak memesona hati. Melainkan karena terjalnya bebatuan dan licinnya tanah lempung seringkali membuat nyali ciut. Hingga akhirnya, tak banyak ulasan mengenai tempat ini.

Pada suatu kesempatan di bulan November, saya diizinkan Tuhan untuk meniliknya sebentar. Selasa Pagi hari, saya bersama beberapa teman berangkat dari Kota Banjarbaru menuju Kecamatan Karang Intan. Awal cerita karena ingin melihat peta jaringan listrik di salah satu kawasan perbukitan daerah tersebut, yang kabarnya belum terjangkau oleh Gardu distribusi PLN. Kami pun direkomendasikan menuju tempat ini. 

Dari kota Banjarbaru ke Kecamatan Karang Intan, perjalanan kurang lebih ditempuh sekitar 40 menit, dengan kondisi jalan berkelok namun mulus. 

Tanpa banyak hambatan, kami pun tiba di sebuah bangunan kecamatan yang ternyata sangat sederhana jika dibandingkan dengan beberapa kantor kecamatan yang pernah saya temui sebelumnya. “Oh...ini Kecamatan Karang Intan.” Demikian desis saya. Lega karena tidak salah jalan. Tepat di sebelah kecamatan, ada bangunan UPJ pembantu PLN. Kami pun masuk ke tempat itu dan menjelaskan maksud kedatangan kami. Selanjutnya, kami dipandu untuk mengunjungi tempat tujuan. Top deh petugas disini. Meskipun bertugas sendirian, tapi tetap semangat melayani warga, dan semangat membantu kami. 
UPJ PLN Karang Intan
Info pertama yang kami dapatkan, tempatnya sangat jauh dari Kecamatan.

Hmm...kalau jauh sudah biasa. Daerah yang belum terjangkau listrik negara bisa dipastikan terletak jauh dari kecamatan dengan kondisi jalan yang tak laik. 

Perlahan namun pasti, mulailah kami melintasi desa demi desa. Di samping kanan dan kiri terlihat rumah-rumah panggung berdiri anggun namun sangat kokoh. Saka, dinding, dan lantainya terbuat dari Kayu Ulin yang telah menghitam. Kayu Ulin merupakan salah satu kekayaan tanah Borneo yang tidak diragukan lagi kekuatannya. Saking kuatnya, bahkan orang menamainya “Kayu Besi”. Karena selain kuat, kayu tersebut mampu bertahan ratusan tahun lamanya. 

Tambak Ikan dan Udang di Kecamatan Karang Intan
Hampir setiap rumah di perdesaan yang kami lewati memiliki pekarangan yang luas. Kalau di kota besar, pekarangan luas digunakan untuk tempat parkir kendaraan bermotor. Sedangkan disini, pekarangan digunakan sebagai tempat untuk menjemur biji padi, memelihara ternak, atau sebagai tempat anak-anak berinteraksi dengan teman sebayanya. 

Beberapa ibu nampak sedang duduk di beranda sambil mencari kutu rambut. Hal yang sudah jauh ditinggalkan oleh penduduk perkotaan. Saya saja terkagum-kagum melihat pemandangan ini. Sebaliknya, mereka pun terkagum-kagum melihat kendaraan kami. Satu-satunya kendaraan pribadi yang melaju menembus rimbunnya hutan karet. 

Lepas dari perdesaan, kami mulai berhadapan dengan rimbunnya hutan belantara. Tidak ada rumah di sekitar daerah ini. Hanya jalan tanah berbatu terjal, becek, berliku dengan dikelilingi jurang di sebelah kanan dan kirinya yang menyambut kedatangan kami. Lama kami melaju, kami pun bertemu dengan sebuah mobil bak yang dimodifikasi untuk mengangkut barang dagangan dan komoditas pertanian. Termasuk juga tabung gas. Dengan kondisi jalan yang tak stabil, mobil tersebut menempuh perjalanan dengan sejuta risiko. Melihatnya saja sudah ngeri. 
Akses Jalan ke Riam Pinang
Seorang Penduduk yang hendak membawa hasil bumi ke Kecamatan
Sungguh bertolak belakang dengan kondisi mobil kami. Kami yang jelas-jelas aman di mobil tertutup, dengan mesin dan bahan bakar memadai yang sudah di cek sedemikian rupa sebelum menuju tempat ini, serta menggunakan sabuk pengaman pun tubuh masih berguncang hebat dan terpental-pental. Apalagi mereka? Namun baik supir maupun penumpang di mobil bak tersebut justru terlihat tenang-tenang saja.
Diapit Hutan Karet
Akses jalan di hutan Karet
Dua jam sudah kami melaju, tak nampak tanda-tanda dimana letak tujuan kami. Jurang terjal kini berganti kawasan hutan karet yang tertata rapi. Jalan yang semula tanah berbatu kini berubah menjadi jalan tanah yang dikeraskan dan layak untuk dilewati. Hawa pun mulai sejuk karena rindangnya pepohonan yang menaungi kami. Bau tanah basah dan dedaunan kering yang khas mulai menyeruak, membuat kami membuka kaca jendela dan mematikan AC demi mendapatkan sensasinya.

Hingga pada suatu tempat, Amat, supir kami yang setia mengantar keliling pedalaman Kalsel kini menghentikan mobilnya. Di depan kami kini terbentang danau yang airnya bening, sejuk, dan menentramkan hati. Kami pun berhenti sejenak untuk menikmati keindahannya. 
 



Ternyata, inilah Riam Pinang. Danau indah yang tak kami sangka ada di depan mata. Semburat matahari menyinari dari balik rimbunnya dedaunan pepohonan liar. 

Akhirnya....kami sudah sampai di tempat tujuan. Ada beberapa rumah di depan kami. Rumah-rumah tersebut nampak sepi. Mungkin penghuninya sedang bekerja di ladang atau sedang bertugas di kebun karet. Hanya nampak sebuah warung yang masih buka, dan seorang ibu pemilik warung yang menatap heran ke arah kami. Saat kami mendekat dan mengucapkan salam, ibu itu justru berlari. Dia yang hendak kami tanyai mengenai jaringan listrik perumahan malah lari terbirit-birit masuk kamar, menutup semua pintu dan jendela, tak mau menemui kami. Alasannya, takut! Bahkan setelah dibujuk-bujuk oleh petugas PLN yang menemani kami pun, ibu itu tetap tak mau keluar rumah. Takut melihat kami.

Saya hanya menghela nafas, lalu melihat penampilan saya dan teman saya dari atas ke bawah. Standar. Kami mengenakan celana jeans dan blazer, juga sepatu kets. Bersih kok. Tampang kami pun tampang baik-baik. Bahkan ada tanda pengenal yang kami kalungi. 

Lama, akhirnya kami pun tertawa. Ada ya orang yang takut sama kita-kita ini. Mungkin karena wajah dan penampilan yang berbeda, sehingga kami dianggap orang asing. Belakangan, pak RT di Desa Pulau Nyiur mengatakan bahwa, penduduk dusun Riam Pinang memang jarang kedatangan tamu. Apalagi dari luar pulau. Yang mereka tahu hanyalah kebun karet, hutan, perbukitan, dan tetangga serumpun. Mereka jarang keluar daerah, bahkan ke Desa Pulau Nyiur sekalipun. Padahal kawasan Riam Pinang termasuk dalam wilayah Desa Pulau Nyiur. 

Selain masyarakatnya, satu lagi yang khas dari desa ini. 
Durian. 
Ya, salah satu jenis buah asli Asia Tenggara yang populer itu berasal dari tempat ini. Durian Karang Intan. Demikian masyarakat menyebutnya. Bentuk buahnya khas, lebih kecil dari durian pada umumnya, namun rasanya sangat manis. Sayang, karena kehabisan baterai baik kamera digital maupun handphone, saya tak sempat mengabadikan Durian Karang Intan ini.

Serunya Indonesia. Dengan ragam budaya, kekayaan, dan keindahan alam yang tak terkira. Kalau dilihat dari foto, memang tak seberapa indahnya. Tapi sekali waktu, datanglah sendiri mengelilingi bumi Borneo. Nikmati suasana dan nuansanya. Maka keindahan sejati bisa anda rasakan.

Saya hanya menggunakan kamera minim, akibat kehabisan baterai. Jangan harap bisa numpang mencharge gadget disini. Belum ada listrik di daerah Riam Pinang. Mereka menggunakan pembangkit rumahan berupa genset yang hanya diaktifkan pada malam hari saja. Dan...tebak berapa uang yang mereka keluarkan demi penerangan?

800 ribu rupiah dalam satu bulan. Hanya untuk listrik saja. Mereka sabar menghadapinya. Sehingga jadi bahan pelajaran saya. Betapa beruntungnya kita dibandingkan mereka...

Salam Indonesia,
Arum Silviani