Search This Blog

Saturday, July 19, 2014

Mahasiswa Mental Tahu



Saya nggak ngerti, makin kesini, kualitas mahasiswa semakin menurun. Adanya smartphone dan kemajuan teknologi justru ditanggapi salah. Bukannya memaksimalkan teknologi, tapi malah menyalahgunakannya. Kebetulan saya masih ngajar. Dan kalau boleh saya ngomong, semester genap tahun ini merupakan kelas dengan kualitas terburuk sepanjang saya mengajar di sebuah kampus. 

Cukup bikin saya ilfil dalam mengajar. Selama ini, kalau saya ngajar tuh saya nggak peduli anak itu pinter atau tidak.  Saya juga nggak pernah peduli dia anak siapa. Lulusan SMA mana, dan latar belakang keluarganya bagaimana. Tapi saya melihat dari sisi usahanya. Keras nggak usahanya? Tinggi nggak daya juangnya? Kuat nggak semangat belajarnya? Kalau semua itu positif, maka sekuat tenaga, pikiran, kemampuan dan hati saya curahkan buat mereka. Saya akan support mereka dalam mencapai cita-cita dengan cara membangun karakter mereka sendiri. Memupuk kepercayaan diri mereka hingga mereka berani maju menghadapi segala aral melintang.

Selama saya ngajar dari tahun 2010, sebandel-bandelnya mahasiswa yang saya ajar tuh pasti ada nilai lebihnya. Ada usahanya. Ada sopan santunnya. Paling nggak, ada keinginan untuk maju.

Namun baru kali ini, rasanya mahasiswa yang saya ajar nggak punya rasa itu. Rasa tanggung jawab sebagai mahasiswa, tanggung jawab ke orang tuanya, apalagi tanggung jawab ke bangsanya. Semua dijalani dengan prinsip “Sa’karepe.” Masuk kuliah Sa’karepe, belajar sa’karepe, ngerjain tugas sa’karepe, ujian pun nyontek dengan memanfaatkan kepintaran “Smartphone” sehingga tanpa sadar mereka miminimalisir fungsi otak, bukan mengasahnya. Ujungnya, jangankan tajam. Ini sudah masuk ke tahap kedul akibat korosi yang kronis.  

Memprihatinkan. Itu yang bisa saya katakan.

Ketika usaha dan sopan santun sudah nyaris tidak ada. Okelah, beberapa anak masih punya sopan meskipun sedikit. Tapi banyaknya ya itu. Semaunya sendiri, bahkan mengatur dosennya. Waktu Ujian dosennya diatur supaya menyesuaikan dengan mereka. Mau konsultasi dosennya diatur. Belum lagi bahasa sms dan email yang teramat-sangat tidak sopan karena bunyinya memerintah.

Saya jadi mikir, yang butuh itu siapa? Dosen atau mahasiswa? 

Disaat dosen menyediakan waktu buat bimbingan, hanya satu dua yang datang. Sisanya, alasan mengerjakan skripsi. Tapi ternyata, skripsi pun masih kacau balau. Giliran saatnya mengumpulkan tugas besar, banyaaaak banget excusenya. Dari yang mulai sakit lah, urusan keluarga lah, sibuk ngerjain yang lain lah. Kalau sudah begini, bagaimana coba? Diingatkan nggak mempan. Ditegur patah arang. Melempem. Bagaimana dengan generasi penerus bangsa ini? Bukannya semakin kuat dan kokoh malah kini bermental tahu. Ditekan langsung hancur.

Dikala bangsa lain bermentalkan baja, berperisai tekad, bersenjatakan kerja keras, berkarakter kuat dan saling menghargai, generasi penerus bangsa kita malah bermental tahu, berperisai loyo, dan bersenjatakan sa’karepe. Ditambah lagi, karakter dan attitude yang buruk. Semangatnya hanya untuk membully adik-adik kelasnya dengan OSPEK yang nonsense. 

Hasilnya? 

Aku ra’ po po.

Apakah masih ra’ po po kalau akhirnya jadi terseok-seok, diinjak, dan jadi melarat di negeri sendiri?

Saya hanya berharap, pemuda-pemudi yang saya sebutkan tadi segera sadar dan mau mencambuk dirinya sendiri untuk dapat berpikir jernih. Kalaupun tidak, mudah-mudahan, di luar sana masih banyak mahasiswa yang kuat keinginannya, kuat usahanya, dan selalu berusaha membangun karakter juga attitudenya.

No comments:

Post a Comment