Search This Blog

Thursday, April 18, 2013

The Lokon Boutique Resort


Saya nggak tahu tempat yang saya kunjungi selanjutnya tempat apa, tapi saya percaya sama Glenn. Kalau dia bilang tempat itu bagus, pasti bagus. Berjarak kurang lebih 3km dari Pagoda Ekayana (Kalau nggak salah ya...saya cuma nebak-nebak saja. Mungkin kurang dari itu deh jaraknya). 

Kurang dari setengah jam, saya masuk ke kawasan perumahan mewah khas Minahasa. Dan nggak lama, sampailah saya ke Lokon Boutique Resort. Sebenarnya tempat ini adalah sebuah resort yang menyediakan kamar layaknya kamar hotel. Dan yang boleh masuk hanyalah tamu hotel. Tapi karena kelihaian (halah) Glenn merayu pak Satpam, kami bisa masuk. Hanya diminta bayar parkir doang! 5k saja. Seru kann???

Tadinya saya sempat mengerutkan kening. Apa enaknya coba masuk resort? Palingan juga cuma lihat kamar hotel. Cottage, bungalow, kolam renang. Ah...standar. Pasti membosankan. 
Tapi ternyata saya salah besar! Begitu masuk, saya disambut pemandangan rerumputan hijau nan indah, laiknya permadani yang digelar di depan Gunung Lokon. Kalau dari Pagoda Ekayana Gunung Lokonnya masih sebatas “ngintip”, dari resort ini Gunung tersebut sudah dalam tahap “Narsis” dia menampakkan kecantikannya. Gunung ini nggak berdiri gagah, tapi anggun (Saya bikin pemisahan kategori gagah dan anggun soal gunung gara-gara perjalanan ke Lhokseumawe). Itu kecantikan Lokon...Haduhh bikin saya terpana selama beberapa saat. Si Glenn sampe nyengir, terus nanya. "Bagus kan mbak?"

Waaa bukan bagus lagi. Tapi Bagus Bangeeeettttttsss!!!


 



Sungguh sayang, fotonya tak seindah warna aslinya. Karena kabut, Gunung pun tersaput awan. Coba kalau lagi cerah, atau datangnya lebih siang. Pasti bisa dapet foto versi Gunung Lokon yang lagi berpose. Hehehe...mulai metafora deh...

Bangunan resortnya unik, Gaya rumah panggung khas Minahasa dengan kamar yang menghadap ke tanah lapang, dan restaurant yang menghadap Gunung Lokon. Udaranya sejuuuukkk banget. Meskipun seminggu sebelum saya datang kesitu Gunung Lokon baru saja meletus, tapi nggak mengurangi kecantikannya sama sekali. Malah makin cantik...



Lihat tuh...Glenn penasaran pengen nyoba narik Delman. Pura-pura jadi kudanya. Oh iya, sebenernya di lembah resort ini ada kolam renang dan pemandian air panas. Saat itu dalam kondisi tertutup kabut tebal. Jadi kalaupun difoto nggak akan kelihatan. Terus di dekat tempat parkir ada alat musik Kulintang. Suatu alat musik yang berasal dari Sulawesi Utara. Meskipun nggak mahir, Saya bisa mainnya lho...:D

Alat musik Kulintang 


Sulit dipercaya, hanya dengan bayar uang parkir sebesar 5k, saya bisa menikmati pemandangan yang demikian menakjubkan. InsyaAllah suatu saat nanti, saya akan kembali lagi ke Tomohon dan menginap di Lokon Boutique Resort bersama suami. Hehe...Sekarang saatnya kembali lagi ke Kota Manado. Begitu keluar dari resort, Hujan mulai menyambut. Bahkan sepanjang perjalanan ke Manado hujan turun dengan derasnya. Sebenernya saya masih pengen main dan menikmati malam di kota Manado. Tapi badan dan mata sudah nggak kuat. Belum tidur semalaman soalnya...

Sebelum kembali ke hotel, saya diajak Glenn makan di tempat yang murah meriah. Murah bangeet...sepotong ikan tengiri yang besar, sayur, plus nasi dan minuman dingin hanya 25k saja. Soal rasa, nggak kalah deh sama Restaurant Nelayan yang besar itu. Restaurant ini terletak di pinggir pantai dan selalu penuh pengunjung. Apalagi jam makan malam. Tapi memang dasar rejeki, kami tetap dapat tempat parkir, dan dapet spot duduk di pinggir pantai. Sambil menikmati hidangan, hembusan angin bertiup nggak sepoi-sepoi. Karena sudah malam kali yaa, bukan angin darat lagi, melainkan angin laut.

Sampai akhirnya saya harus berpisah dengan Glenn di depan hotel. Oh iya, saya menginap di Swiss-belhotel Maleosan Manado yang terletak di Jl. Jend. Soedirman Manado. Hotel ini cukup nyaman buat saya. Pelayanannya juga bagus dan menu makanannya enak. Saat itu saya dapat harga Rp.650.000,00/malamnya. Begitu masuk kamar, saya langsung bersih-bersih kemudian istirahat. Karena esok harinya saya harus ngasih pelatihan buat seluruh perguruan tinggi swasta di Sulawesi Utara dan Gorontalo, terus sorenya langsung terbang ke Jakarta.

Terima kasih Glenn, sudah mengantarkan saya ke tempat yang luar biasa indah. Buat saya, Glenn nggak hanya supir rental. Tapi teman perjalanan yang menyenangkan, sahabat, fotografer, sekaligus pemandu wisata yang yahuddd! Kalau saya ke Manado lagi, pasti saya hubungin Glenn. Saya masih mengincar destinasi selanjutnya. Kakidangan, Bukit Kasih, dan Taman Laut Bitung. Sekali lagi, terima kasih ya Glenn...sampai ketemu lagi. See you next time. Sayonara!










Wednesday, April 17, 2013

Menjelang senja di Remboken - Danau Tondano

Dari danau Linow, saya lanjut perjalanan ke Danau Tondano. Bukan lanjut sih, melainkan putar balik. Sebenernya kalau mau perjalanannya satu rute urutannya adalah Danau Tondano dulu, baru danau Linow. Seperti yang saya lakukan tahun 2010 lalu. Tapi karena hati saya lagi pengen ngadem di danau Linow, ya udah deh...*Keinginan hati mengalahkan rute :D

Danau Tondano sendiri merupakan danau terbesar di Sulawesi Utara. Menurut Wikipedia, Danau ini diapit oleh pegunungan Lembean, Gunung Kaweng, Bukit Tampusu, dan Gunung Masarang. Luas danau ini 4.278 ha, dan terdapat pulau kecil bernama Likri (depan desa Tandengan kecamatan Eris) dan pulau papalembet depat Toulumembet. Di tepi Danau Tondano terlihat jelas Gunung Kaweng. Konon danau ini terjadi karena letusan yang dahsyat karena ada kisah sepasang insan manusia yang berlainan jenis melanggar larangan orang tua untuk kawin (bahasa Minahasa: kaweng) dengan nekat lari (tumingkas) di hutan. Sebagai akibat melanggar nasihat orang tua maka meletuslah kembaran gunung kaweng tersebut sehingga menjadi danau Tondano.

Kalau dulu saya masuknya selalu lewat gerbang Universitas Negeri Manado, perjalanan kali ini, saya ikut Glenn. Masuk lewat Boulevard Tountimomor. Menurut Glenn, Boulevard ini adalah pusat gaulnya anak-anak muda di Kota Tomohon. Padahal nggak ada hiburan apapun lho..tukang jualan juga rasanya nggak ada. Yang saya temukan hanyalah jalan besar yang lurus dan mulus. Mungkin trotoarnya kali yang jadi daya tarik. Beberapa anak muda terlihat sedang duduk-duduk di trotoar sambil bersenda gurau.

Nah, begitu masuk kawasan Tondano, itu pemandangan ya...Subhanallah...sulit dilukiskan dengan kata-kata. Berkali-kali saya ke kawasan Tondano, sensasinya nggak pernah hilang. Tetap membekas di hati. Sepanjang perjalanan kita melewati ilalang-ilalang yang sudah menguning dan berkilauan seperti emas ketika tertimpa mentari sore hari. Lebih jauh ke dalam, ada tanaman jagung yang berjajar rapi. Sudah siap dipanen. Saya juga sempat berpapasan dengan beberapa ibu-ibu yang baru selesai memanen jagung dan membawa hasil panennya dengan bakul besar. (kalau di Tomohon apa ya namanya?) Sudah gitu, banyak daun-daun berguguran, jadi kayak musim Autumn di Jerman. Landscapenya kereeeenn!!!!

Lanjut, tiba-tiba mata saya tertumpu pada bangunan kayu yang berdiri anggun di atas air. Indah sekali. Apakah itu yang dinamakan Pondok Kinakas? Kalau kata Glenn, mungkin itu rumah contoh. Rumah adat orang Minahasa. Khas sekali. Rumahnya berbentuk panggung. Namun rumah ini hanya ada beberapa. Waduh...mupeng tingkat tinggi deh. Asli. Indaaah banget. Tapi saking indahnya, seperti biasa saya lupa menjepretkan kamera saya. hufft...lagi-lagi...

Anyway, setelah itu kami memutuskan untuk masuk ke kawasan wisata Sumaru Endo, Remboken. Disini biaya masuknya Rp. 6000,00/orang ditambah parkir Rp. 5000,00. Tapi saya ngerasa disitu nggak worthed ya...nggak terawat gitu tempatnya. Jadi berasa kayak masuk sarang jin. Padahal kalau perawatannya bagus, tempat ini menarik banget lho...ada kolam renang air panas yang berasal dari sumber air panas alami, ada restaurant, tempat meeting, penginapan, lengkap sebenarnya. Tapi ya itu...nggak terawat. Bangunannya sudah usang dan tidak layak ditempati. Sungguh miris dan jauh berbeda dengan tempat sebelumnya. Mungkin karena ini milik pemerintah daerah kali ya? Biasanya kan gitu. Taman hiburan rakyat, kalau dikelola sama pemerintah malah carut-marut. Karena maintenance dianggap sebagai biaya. Bukannya dilihat sebagai investasi. Sudah gitu pas saya sampai disana, saya hampir nggak yakin tuh kalau yang saya masuki adalah kawasan wisata. Soalnya sepi banget. Pengunjungnya cuma saya sama Glenn saja.


Meskipun demikian, tetap saja ada sisi menariknya. Saya melihat sampan teronggok di tengah-tengah tanaman enceng gondok. Namun beberapa saat kemudian, sampan itu diambil oleh pemiliknya, dan mulai memasang jaring ke tengah danau. Dalam hati saya ngeri. Sore itu, air Danau Tondano seperti lautan yang sedang pasang. Meliuk-liuk seperti ombak. Tapi orang di atas sampan kok ya berani banget.


Danau ini merupakan danau penghasil ikan air tawar seperti ikan mujair, pior/kabos, payangka wiko (udang kecil), nike, sepat siang (arwana),tawes, pongkor, bontayan, lobster hitam, gurame kupu-kupu, dan ikan karper.Tapi sayangnya lagi nih...ikan nike (sejenis ikan kecil-kecil yang rasanya lezat sekali), terancam punah. Aduh sayang banget ya...jangan sampai deh. Soalnya rasa ikan nike itu khas banget dan enaak banget. Mudah-mudahan berhasil dibudidayakan :)

Air pasang di Danau Tondano

Suasana di Kawasan Wisata Remboken

Saya berharap, pemerintah kota Tomohon dan pemerintah Provinsi Sulawesi Utara memberikan perhatian lebih pada kawasan wisata ini. Modal utamanya sudah luar biasa. Alam yang indah, udara sejuk, dan tentunya fasilitas bangunan yang lengkap. Sayang kan kalau teronggok begitu saja? Mudah-mudahan, saat saya kembali kesini kelak, tempat ini sudah jadi  destinasi yang worthed untuk dikunjungi.

Satu lagi pengalaman yang seru. Saat meninggalkan Danau Tondano, waktu menunjukkan pukul 16.00 WITA. Saya belum shalat dzuhur dan ashar. Mau menggelar sajadah, saya nggak yakin tanahnya suci, karena banyak anjing berkeliaran. Akhirnya saya minta tolong Glenn kalau nemu mushalla atau masjid, bisa berhenti sejenak supaya saya bisa menunaikan ibadah shalat. Tapi sampai jam lima, kami nggak nemu juga mushalla atau masjid disitu. Saya maklum, karena wilayah ini mayoritas dihuni oleh kaum nasrani. Saya juga maklum Glenn nggak tahu dimana tempat ibadah orang muslim, karena dia juga pemeluk nasrani. Akhirnya Glenn berusaha keras tuh sampe nanya-nanya ke orang. Dan semua orang yang ditanya pun nggak tahu. Bukan nggak tahu, tepatnya nggak ada. Hihihi...karena masih muter-muter, saya menyarankan supaya kita balik ke kampus Unima. Siapa tahu, Kampus punya masjid. Tapi yang kami temui, hanyalah kolam renang tua yang sudah usang. Bekas dipakai buat olimpiade dulu. Terus ketemu mahasiswa, dan...seperti yang sudah saya duga, mereka semua nggak tahu masjid itu dimana. Satu mahasiswa yang kami temui bilang, kalau di sekitar kampus memang nggak punya masjid. Saya menghela nafas. Baru terasa rasanya jadi kaum minoritas.

Yang kasihan tuh Glenn, dia kayaknya ngerasa bersalah banget ke saya karena nggak nemu tempat ibadah. Tapi saya bilang ke dia, "nggak apa-apa. Saya bisa shalat dimana saja. Kamu nyetir yang konsen, saya shalat." Glenn pun memandang saya bingung. 

"Tapi kan nggak ada air, mbak." katanya. Yang Glenn tahu, setiap seorang muslim akan shalat, maka harus membasuh beberapa bagian tubuhnya dengan air. Terus saya jelaskan deh ke dia, kalau kita dalam keadaan darurat, kita boleh kok shalat di kendaraan. Dan saya mulai bertayamum dengan menepuk-nepuk jok mobil, pasang mukena, dan shalat. Sekilas, saya lihat Glenn benar-benar melongo melihat saya. Bahkan dia menghentikan mobilnya beberapa saat, hanya untuk tercengang!

Saya Qashar shalat Dzuhur dan Ashar. Masing-masing dua rakaat, dua salam. Saat selesai shalat ashar, saya melihat ke luar jendela. Betapa saya jadi pemandangan orang-orang sekitar! Hahaha...ternyata sejak tadi kami terkena macet di Kota Tomohon. Mungkin orang-orang bingung melihat orang pakai mukena di mobil. Pemandangan aneh kali ya...

Dan Glenn pun kembali bertanya kepada saya. "Mbak, ibadahnya bisa seperti itu saja?"
Saya mengangguk. Glenn menggaruk kepala. "Seumur-umur, baru kali ini saya melihat orang shalat di mobil. Ternyata islam itu mudah ya, mbak."
Saya hanya tersenyum. Dan dengan bahasa sederhana, saya kasih penjelasan kalau islam tidak pernah menyulitkan pemeluknya untuk beribadah. Diambil praktis-praktisnya saja...hehehe..yang paling penting adalah, menghargai antar agama. Seperti di Sulawesi Utara yang punya semboyan, 

Sulut yang Sulit disulut. Karena masyarakat dan pemuka agamanya tahu bahwasanya, "Lakum diinukum waliyadiin." Untukmu Agamamu, Untukku Agamaku.

Bersambung ke...Vihara Ekayana