Search This Blog

Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Saturday, June 29, 2013

Berpikir di luar Kota Besar

Memilih hidup di kota besar memang ada dua sisi. Satu sisi yang menarik adalah, apapun tersedia di kota besar. Namun sisi sebaliknya menyodorkan fakta bahwa, kehidupan di kota besar begitu menyesakkan dada, otak sama pikiran. Bukan semata karena biaya hidupnya, melainkan masalah terbuangnya waktu dan tenaga untuk hal yang namanya transportasi. Jarak yang semestinya bisa ditempuh setengah jam, jadi tiga jam. Kalau normalnya satu jam, bisa empat jam. Mau jalan kaki, udara full polusi. Bawa kendaraan sendiri, ilfil. Naik moda transportasi umum, lebih bikin ilfil lagi. Sampai di kantor sudah lelah, penat, stress. Maka sebenarnya tak usah dipertanyakan lagi sebab musabab menurunnya produktivitas masyarakatnya.

Coba bandingkan jika hidup di kota kecil, waktu segitu bisa bermanfaat banyaaaak sekali. Tak hanya bisa produktif, tapi juga ekonomis dan efisien. Apalagi kalau kita adalah kaum terdidik. Manfaatnya jauh lebih banyak lagi. Permasalahannya hanyalah pola pikir. Banyak orang masih beranggapan bahwa, Kalau mau sukses ya ke Kota besar. Yang tinggal di kota kecil dianggap cupu dan katro. Hmm...persepsi salah kaprah bener keblinger berjalan dengan mulusnya.

Let's think out of the box, dear... Peluang kehidupan yang jauh lebih baik membentang seluas mata memandang. Asal...ulet dan kreatif. Satu lagi, open minded. Terbuka akan hal-hal baru bikin mimpi makin mudah tercapai. Apapun kalau mau sukses ada syaratnya, kan?

Sekali lagi, sungguh, banyak peluang2 besar berceceran di luar sana. Namun hanya orang2 "berani" yang memungutnya dan menjadikannya roket menuju langit mimpi.

Friday, May 24, 2013

Menikmati Keindahan Benteng Tolukko dan Bella International Hotel Ternate

Benteng Tolukko


Sebelum masuk ke Benteng Tolukko, saya sempat ngobrol sama Zul tentang asal mula Benteng ini. Dia malah bilang, "Ini lho mbak, yang buat syuting sama Bambang Pamungkas waktu iklan K**u B**a E*e*g*. Hehe...saya juga baru "ngeh". Wajar sih, Benteng ini berdiri di atas bukit batuan beku yang memanjang ke arah barat laut tenggara. Letaknya menjorok ke laut dalam. Biru tua laut berpadu dengan birunya langit Ternate yang bersih. Hmm...nggak heran kenapa dulu Portugis bikin Benteng disini. Letaknya sangat strategis.
Benteng Tolukko dulunya bernama Benteng Santo Lucas. Benteng ini merupakan Benteng yang pertama dibuat di Ternate pada tahun 1512 oleh Fransisco Serraow, sebagai Benteng pertahanan oleh bangsa Portugis. Mereka datang menawarkan janji persahabatan dan perdagangan antarnegara. Lama-lama ngelunjak, ingin menguasai rempah-rempah milik masyarakat Ternate. Mereka membuat perjanjian monopoli terhadap perdagangan rempah-rempah tersebut. Tentu saja, perjanjian ini merugikan masyarakat Ternate yang harus menjual hasil buminya ke bangsa Portugis, dengan harga yang rendah. Hal ini menyulut kemarahan rakyat Ternate. 

Singkat cerita, Pada tahun 1661 Sultan Ternate Mandar Syah diberi ijin menempati Benteng Tolukko dengan personil sekitar 160 orang. Penyebutan Benteng Tolukko sendiri diberikan berdasarkan nama penguasa Ternate yang memerintah pada tahun 1692 (TOLUKKO).

Saat saya berkunjung ke tempat ini, keadaan sudah sepi. Mungkin karena sudah sore. Gerbang sudah ditutup dan dikunci. 


Masuk ke tempat ini gratis. Nggak tau tuh kalau misalkan kita boleh masuk ke dalam Benteng. Nggak ada tulisannya kita harus bayar berapa. Tapi yang pasti, tempat ini bersiiiih banget. Selesai berpose di Benteng Tolukko, saya memutuskan pulang ke Hotel. Shalat ashar, dzuhur, terus shalat maghrib. Jam 7 malam saya dijemput Zul buat makan malam. Kami memilih makan di pinggir laut, di kawasan Masjid Raya Ternate. Menunya, Coto Makassar. Sebenernya banyak sih makanan disitu, cuma rasanya Coto Makassar yang paling bisa diterima di lidah saya. Selesai makan, mampir ke pasar (Apa ya namanya? lupa). Saya beli perhiasan dari besi putih. Oleh-oleh khas Ternate. Saya kenal besi putih ini waktu saya berkunjung ke Ambon. Bentuk perhiasannya simpel, tapi berkesan elegan. Awet pula. Meskipun sering saya pakai waktu mandi, perhiasan dari besi putih ini nggak luntur warnanya.

Anyway...saya suka sama Ternate, cuma nggak suka sama biaya hidupnya yang super tinggi. Maklum sih, pulau ini kan terletak jauh dari gugusan pulau-pulau besar di Indonesia. Saya suka pemandangannya, saya suka pantainya, danaunya, Lautnya juga. Bersiih..perpaduan warna hijau dan biru tua. Kalau langit sih jangan ditanya. Keren banget. Beberapa foto saya ambil dari Balkon hotel yang menghadap ke Pulau Tidore dan Maitara:


Kalau yang di atas persis ini, fotonya diambil dari kamar saya, jam 7 pagi. Masih berkabut. Sedangkan dua foto di atasnya saya ambil dari balkon hotel, di lantai 2. Balkon ini memang diperuntukkan bagi pengunjung hotel yang hendak berfoto dengan pulau Tidore dan Maitara sebagai latar belakangnya. Saya sendiri puas ya dengan fasilitas hotel Bella International (*ini pendapat konsumen yang puas ya). Tapi...tetep aja ada tapinya :D Pelayanan hotel ini terkesan lambaaat banget. Semestinya, kalau sudah kelas internasional ya layanan dipercepat gitu. Stafnya nanya ke saya berulang-ulang. Padahal saya nggak suka jika sekali saya kasih tahu, orang itu nggak ngerti. Pada saat check in awal, saya ditangani staf hotel yang rada maaf, onyon kayanya. Setelah dijelaskan berkali-kali, Dia sudah oke. Bilang kamar sedang dibersihkan. Nah, pas saya pulang jalan-jalan dan mau ambil kamar, ganti lagi tuh orangnya. Prosedurnya diulang dari awal. Haduuh cape deeh...ternyata staf yang tadi nggak ngasih tahu ke temennya dooong...

Ya sudahlah. Toh fasilitas hotel ini dan staf yang lain lumayan oke. Kamarnya luas, bersih, perabotnya bagus, dan balkonnya bisa lihat pemandangan keren. Pantes lah kalau dia menyandang bintang 5. Ini tampilan kamarnya :






Oh iya, di hotel ini juga ada counter Garuda Indonesia. Jadi memudahkan saya. Tinggal city check-in, beres deh. Nggak usah ngantri lagi di Bandara Sultan Baabullah yang sempit itu :D. Sebagai penutup, saya kasih foto hasil jepretan saya dari tangga di Hotel Bella. 


Dann...marilah pulaang...


Thursday, May 23, 2013

Batu Hangus, Lava indah dari Gamalama

Tulisan ini merupakan lanjutan dari perjalanan saya ke Ternate. Kalau pada tulisan sebelumnya saya membahas tentang Danau Tolire dan misterinya, kali ini saya akan mengajak anda untuk menyusuri Batu Hangus. Satu lokasi di batas kota Ternate yang dipenuhi bongkahan indah bebatuan berwarna hitam. Batu Hangus sebenarnya merupakan bekas muntahan lava Gunung Gamalama ratusan tahun lalu. Lava tersebut mengeras, menjadi batu, dan berwarna hitam pekat. Sehingga oleh masyarakat setempat disebut sebagai Batu Hangus. Namun lokasi Batu Hangus yang saya susuri adalah bekas letusan Gunung Gamalama tahun 1980an. Karena lokasi tersebut berada di pinggir jalan, dan gampang parkirnya.

Pada saat saya kesana, Gunung Gamalama baru saja meletus. Bekas-bekas letusan masih terlihat jelas. Jalanan berpasir, pepohonan yang terbakar, bebatuan yang memenuhi jalan, jembatan yang hancur (padahal saat itu baru saja jadi), dan rumah-rumah penduduk yang terbawa arus lahar panas Gunung Gamalama. Dahsyat sekali letusannya. 


Gambar di atas ini tadinya adalah bekas rumah-rumah penduduk. Namun letusan Gunung Gamalama memporak-porandakan semuanya. Kini hanya tinggal pepohonan dan bebatuan yang berserakan. Menyisakan kesan gersang dan miris. Mengingat musibah tersebut banyak memakan korban.



Setelah menyusuri jalanan berpasir, kami kembali melewati jalan mulus. Bersih. Dengan latar Gunung Gamalama dan lautan yang membiru. Bentangan pulau Halmahera terlihat dari sini. Menjadi perpaduan yang sempurna untuk menikmati sore. Untuk mencapai ke lokasi ini, kita bisa menempuhnya dengan kendaraan bermotor. Jangan khawatir, kecuali lokasi bekas bencana, kondisi jalan menuju Bongkahan Batu Hangus sangatlah mulus. Kayak gini nih:

Dan....Inilah dia! Si Cantik Batu Hangus dari Gunung Gamalama :
Kami menghentikan mobil beberapa saat untuk berfoto. Nggak menyia-nyiakan kesempatan berpose tentunya. Lagi-lagi, Zul jadi fotografer dadakan :D
 

Setelah puas menikmati suasana di Batu Hangus, tujuan berikutnya adalah Benteng Tolukko! Sebuah situs peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu penjajahan Bangsa Portugis. 



Thursday, April 18, 2013

Si Cantik Pagoda Ekayana


Pagoda ini punya kisah tersendiri buat saya. Tahun 2010, saya bersama 3 mom’s jalan-jalan juga ke tempat ini. Pulang dari Danau Linow, ibu Meis bilang kalau kami harus lihat satu tempat ibadah umat Buddha yang cantik sekali. Saya sempat mengerutkan kening waktu itu. Kalau lihat Gereja di Manado, itu biasa. Masjid juga terdapat beberapa, meskipun tempatnya tidak di pinggir jalan. Tapi Pagoda? Saya saja belum pernah lihat secara langsung Pagoda itu seperti apa. Bu Meis mengantarkan kami kesana. Saat itu waktu menunjukkan pukul 18.30 WITA. Sayaang sekali, Pagoda sudah tutup. Dan kami, hanya bisa menikmati Keindahan Pagoda dari pintu gerbang. Sempat ambil gambar juga. Tapi meskipun hanya bisa memandang dari jauh, mata saya langsung “cling!” Subhanallah...indaaah sekali Pagoda ini dalam balutan cahaya lampu. Berkerlap-kerlip di puncak pegunungan yang gelap. Seperti perhiasan emas yang berkilauan. Begini penampakannya :

 
Sehingga saya berjanji ke diri sendiri, kalau saya dikasih kesempatan terbang ke Manado kelak, saya ingin berkunjung lagi ke tempat ini. InsyaAllah. 

Dan Tuhan mengizinkannya...

Hari itu, 24 Agustus 2012, sore hari, saya sudah memasuki pelataran Pagoda Ekayana. Nama pagoda baru saya ketahui hari itu juga. Dulu kan papan namanya nggak kelihatan, gelap soalnya...
Baiklah, mulai cerita tentang Pagoda Ekayana. 

Pagoda Ekayana, atau orang biasa sebut sebagai Vihara Ekayana, merupakan tempat ibadah umat Hindu yang Pertama berdiri di Tomohon. Pagoda ini berada di kelurahan Keskasken Dua, Tomohon. Lokasinya nggak begitu jauh dari jalan utama kota Tomohon. Masuk ke perumahan penduduk, dan tempatnya di tengah-tengah alam yang asri. Halamannya luas dan udaranya sejuk yang menghadap ke Gunung Lokon.

Masuk ke Pagoda Ekayana nggak ada tiket khusus. Kita hanya diharuskan mengisi buku tamu, dan memberikan sumbangan sukarela di kotak amal. Nah, uang ini dipergunakan untuk biaya pemeliharaan Pagoda. Nggak dipatok berapa uang yang harus dimasukkan ke dalam kotak amal. Pokoknya, seridhonya deh. Saya saja waktu itu cuma ngasih 10K aja. Begini nih bentuk kotak amalnya :



Masuk ke dalam, saya menemukan ada beberapa bangunan disitu. Ada Pagoda Ekayana yang jadi bangunan utama, terdiri atas 9 lantai yang menjulang tinggi dengan arsitektur khas Cina. Jadi ingat film Sun Go Kong. Karena setelah Pagoda Ekayana, di sebelahnya tuh ada Istana Dewi Kwan Im. Itu lho...Dewi cantik yang baik hati dan selalu menolong Sun Go Kong and the Gank. Saya sempat ragu, tapi kata Glenn kita diperbolehkan masuk ke dalam bangunan tersebut. Jangan lupa yaa...alas kaki harus dilepas untuk menjaga kesucian tempat ibadah. 

 

Ternyata di dalam istana Dewi Kwan Im indah sekali. Ada patung Dewi Kwan Im yang super besar. Terus tempat ibadahnya juga luas dan terdengar kidung-kidung pujian yang dilantunkan kepada dewa dewi (hehe saya cuma nebak itu kidung pujian, mungkin kalau dalam islam itu kayak sholawat nabi kali ya?). Sayangnya, kita dilarang mengambil gambar di dalam tempat ibadah ini. Meskipun demikian masih saja ada yang nyolong-nyolong ngambil gambar. Buat apa coba? Padahal apa susahnya menjaga sopan santun di tempat ibadah agama lain?

Karena di Istana Dewi Kwan Im boleh masuk, akhirnya saya juga pengen masuk ke Pagoda Ekayana. Bagus banget...tapi di dalamnya bukan patung Dewi Kwan Im. Melainkan Patung Budha Rulai (Eh bener nggak ya Budha Rulai?) pokoknya yang gede banget deh. Patung Budha terbesar yang pernah saya lihat. Maklum, saya kan nggak pernah ke vihara sebelumnya. Sama dengan di istana Dewi Kwan Im, disini juga nggak boleh ambil gambar di dalam tempat ibadah. Kalau diluar sih boleh-boleh saja. Nih contohnya kenarsisan saya :D

 Beradu keren dengan Pagoda Ekayana :D

Waktu saya majang foto itu di fb, banyak yang mengira saya lagi di Bangkok lho...padahal masih di Indonesia tercinta. Hihihi...

Nah diluar pagoda ini, bagi anda yang berminat, anda bisa melakukan ramalan kuno Ciam Si. Jadi inget film-film China. Ciam Si sendiri merupakan ramalan yang berdasarkan syair-syair kuno China. Cara kerjanya, beberapa batang bambu seperti sumpit lebar diletakkan dalam wadah bambu bulat. Masing-masing batang bambu berisikan nomor. Setelah itu wadah bambu dikocok sampai mengeluarkan satu batang bambu. Dari nomor yang tertera di batang bambu, anda tinggal mencocokannya dengan kotak yang berada di sisi kiri dinding. Nah, di kotak tersebut ada kertas berisikan ramalan. Ramalan tertera dalam kanji-kanji khas tulisan China. Ada juga terjemahannya dalam bahasa Indonesia. 

Glenn nawarin saya buat ikutan diramal. Saya langsung menggeleng. No. Saya jadi pengamat saja. Lagian dalam agama saya, namanya ramal meramal itu haram. Sedangkan buat saya sendiri, ramalan membuat hidup tak lagi hidup. Hehe...karena pada dasarnya, kehidupan itu indah kalau kita jalani, kan? Sisi menarik kehidupan justru terletak pada kemisteriusan akan masa depan. Contohnya saja kalau kita mau nonton film, terus ternyata teman kita yang sudah nonton duluan ngasih tahu jalan cerita film itu ke kita. Jadi nggak seru lagi kan filmnya? Nggak ada sisi menariknya. Karena semuanya sudah bisa ditebak.

Saya jalan lagi ke belakang vihara, dan menemukan patung Kodok raksasa. Di depan patung kodok itu ada kolam air, yang tengahnya ada lonceng. Nah...disini kita boleh melempar koin. Jadi inget sama air mancur di Roma, yang kalau kita lemparkan koin kesitu, nanti bisa ketemu jodoh. Tapi di Roma kalah canggih sama yang disini. Di depan patung kodok, ada beberapa patok yang bertuliskan Bahagia, Harta, Panjang Umur, Kedudukan atau Pangkat, dan Keberuntungan. Patok ini diperuntukkan sebagai posisi untuk melempar koin. Nggak cuma minta jodoh saja. 


Kelihatannya gampang ya, melempar koin ke lonceng? Tapi kenyataannya susah banget lho...karena ada replika koin kuno yang ada lubang di tengahnya, menghalangi si lonceng. Koin replika raksasa ini muter-muter terus mengelilingi lonceng. Padahal si lonceng ada di tengah-tengah. Hahaha...pantesan banyak yang meleset. Jadi banyak koin numpuk tuh di kolam. Saya sih tertariknya duduk dan berpose aja di patok itu. nggak usah melempar koin, hanya dengan keyakinan hati maka saya bisa dapatkan yang berikut ini :


Posisi menentukan prestasi. Hahaha maksa yaa...

 
 

Selesai berpose di belakang, saya ke bagian depan Vihara Ekayana. Saya menemukan patung budha. Tapi versi India. Namanya patung Bodhidharma. Setelah itu ada patung Baradvaja yang lagi duduk di atas rusa, Kanaka the Vatsa, Vanavasha si patung galau, Nakula, dan lainnya. Patung-patung ini menggambarkan karakter manusia. Ada yang rajin, pemalas, pengemis, petani, dan lain sebagainya. 
 
So, menurut saya tempat ini highly recomended buat dikunjungi kalau anda ke Tomohon. 

Puas mengelilingi Pagoda Ekayana, sudah menjelang maghrib sih...tapi hari masih terang. Matahari terlihat sudah mulai ngumpet tuh...mendung pula. Bahkan hujan sudah rintik-rintik turun. Tapi kata Glenn, kalau kami langsung pulang ke Manado sayang...masih ada satu tempat yang worthed banget dikunjungi.


Lets see...