Search This Blog

Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Thursday, June 16, 2016

Sebuah Definisi mengenai "the peace religion" di Indonesia


Melihat pemberitaan media, terutama selama bulan ramadhan ini, mau tidak mau membuat tak sedikit orang yang salah paham ketika mendengar kata "Islam". Sungguh tidak sedikit. Bahkan tak sedikit pula diantaranya yang jadi membenci Islam, tanpa tahu arti sebenar-benarnya islam itu seperti apa. Tanpa mau mengenalinya, tanpa mau membuka telinganya, dan tanpa mau mengkonfirmasi kebenarannya. Hanya bermodalkan "Katanya." Namun setelahnya, orang tersebut mengklaim sudah tahu segalanya soal islam. Lewat "katanya". "Katanya" yang katanya fakta. 

Sebagai bagian dari bangsa yang multi etnis dan multi religion, Marilah kita menelisik dari akarnya. Rootnya. Pernyataan aslinya. Agar kita tak mudah menerima sesuatu yang ambigu, yang tak punya sumber yang jelas, dan hanya bermodalkan "katanya." Agar tidak terjadi miskonsepsi akibat ketidak jelasan sumber "katanya" yang entah kata siapa, kapan diucapkannya, dalam kondisi apa mengucapkannya, dan siapa yang menyuruh menyebarkannya. Tanpa melibatkan proses Tabayyun (Konfirmasi) di dalamnya.

Well...kalau dibahas sih nggak bakal ada habisnya ya. Tapi izinkanlah saya, sebagai seorang islam, menjelaskan dan mengkonfirmasi suatu hal. Sebuah pernyataan sederhana yang mampu saya nyatakan karena keterbatasan ilmu yang saya miliki. 

Secara etimologis, Kata "islam" berakar dari kata bahasa Arab "Salam" yang berarti Damai. Juga berasal dari kosakata Arab "salm" yang bermakna "berserah diri pada Tuhan yang maha Esa." Sehingga secara harafiah, islam bermakna damai, yang didapat dari beserah diri pada Tuhan yang Maha Esa.Orang yang berserah diri pada Tuhan yang Maha Esa disebut muslimin jika laki-laki, dan muslimah jika dia perempuan.

Banyak orang mengira kalau Islam ditemukan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun kenyataannya tidak demikian, islam sudah ada sejak dunia ini ada. Nabi Muhammad SAW bukanlah penemu ajaran ini, tetapi utusan terakhir dari Tuhan Yang Maha Esa. Besertanya, Tuhan YME menurunkan Al-Quran. Sebuah buku yang berisi pernyataan terakhir dari Tuhan YME kepada seluruh umat manusia. Buku yang merupakan proklamasi bagi kemanusiaan, didalamnya berisi sumber dari rahmat dan hikmah, petunjuk, peringatan, pelipur lara, dan harapan. 

Islam tak pernah disebarkan dengan kekerasan. Tak pula dengan bom, senjata nuklir, fitnah, apalagi sekedar bungkusan mie instant agar seseorang mau memeluknya. Karena Allah berfiman dalam Q.S Al Baqarah (Sub bab 2, ayat 256) bahwa "Tidak ada paksaan untuk menganut agama islam" Sehingga umat islam sejati selalu menyampaikan islam dengan cara yang lembut. Karena Allah Maha lembut. Menyampaikan dengan cara yang indah, karena Allah Maha indah. Kalaupun ada kekerasan, coba telisik dulu siapa yang melakukannya. Islamkah ia? ataukah hanya boneka yang disuruh mengaku islam?

Karena sejatinya, Tuhan YME memberikan manusia kehendak bebas, yang tak dimiliki oleh makhluk lain. Allah memberikan pilihan pada manusia lewat akal dan pikiran, yang membedakannya dengan makhluk lain. Agar manusia dapat berpikir. Dapat menelaah sehingga nantinya akan menemukan kebenaran tentang siapa dirinya, mengapa dirinya diciptakan, dari apa dia diciptakan, dan siapa yang sebenar-benarnya telah menciptakannya.

kami orang islam mencintai kedamaian. mencintai perdamaian. karena kami meyakini pernyataan Tuhan Yang Maha Esa, lakum diinukum waliyadiin. 

Wallahualam bisshawab.

Cerita tentang sebuah buku petunjuk

Andaikata Al-Quran ditulis oleh manusia, pastinya akan ada Al-Quran edisi 1, edisi 2, edisi 3, edisi ke 100, dan seterusnya. Karena kodrat manusia adalah selalu ada kesalahan, sehingga memerlukan pembaharuan dan perbaikan sesuai perkembangan jaman. 

Andaikata Al-Quran adalah kitab biasa, tentunya engkau takkan menemukan kalimat yang mengandung fakta, yang bahkan baru sanggup dibuktikan oleh para ilmuwan terbaik dunia, ribuan tahun setelah Al-Quran diturunkan.

Andaikata Al-Quran hanyalah sebatas dokumen dari masa lampau, tentunya kau takkan menemukan jawaban atas segala pertanyaanmu hari ini, apalagi hari esok.
Dan masih banyak andaikata lainnya, dari pandangan seorang manusia.

Namun kenyataannya, segala yang ada di dunia dan seisinya, bahkan hingga kehidupan selepas kematian nanti, tertuang di ayat demi ayat dalam kitab yang kurang dari 700an halaman, 30 Bab (juz), dan 114 sub bab (surat).

Tak sedikit yang berkata, Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa? Itu hanyalah bualan semata.
Jawabannya sederhana. Tentu saja tidak mungkin, andaikata penulisnya adalah manusia. Tentu saja hanya bualan, jika penulisnya adalah seorang manusia, yang bahkan tak sanggup bernafas jika paru-parunya tak berfungsi.

Tapi kitab ini, Al-Quran, diciptakan oleh Allah SWT, sang pencipta alam semesta. Pemilik dunia dan segala isinya. Dia yang hanya satu, tempat bergantung segala sesuatu, tak bergambar, tak ada yang menyamainya, tak beranak, dan tak diperanakkan sehingga manusia tak sanggup berimajinasi seperti apa sosok Allah itu. Salah satu hal yang membuktikan betapa tidak berdayanya kita sebagai seorang hamba.

Al-Quran ini, diciptakan Allah untuk Hamba-hambaNya, agar mereka mau berpikir. Namun berpikir saja tak cukup, karena kitab ini, hanya bisa diterima jika kita bersedia membuka kalbu. Suatu ruang dalam hati yang hanya diri kita sendiri dan Allah yang bisa membukanya.

Wallahualam bisshawab.

Wednesday, March 9, 2016

9 Maret 2016. Gerhana Matahari di Daratan Indonesia

Pagi ini, kumandang takbir menggema berbeda dengan hari biasa.
melantun syahdu, mengiringi pagi yang basah dan lembab
memanggil umat muslim untuk kembali bersujud kepada Allah SWT sebelum memasuki waktu dhuha

Takbir indah, yang hanya dikumandangkan ketika kami, kaum muslim menghadapi hari yang spesial.
Idul Fitri, Idul Adha, gerhana bulan, dan gerhana matahari
Hari dimana kekuasan dan kemuliaan Allah SWT nampak jelas seterang matahari, dan kilaunya lebih dari sinaran bintang gemintang.
Tanda-tanda itu sangatlah jelas, kawan...
baik untuk engkau yang mengakui, maupun tidak mengakuiNya.
Baik untuk yang mau membuka matanya, ataupun berpura-pura menutup mata
dan nampak sangat jelas, baik untuk yang terbuka hatinya, maupun yang saat ini belum mau membukanya.


Berkat ilmu pengetahuan, seluruh penjuru negeri bisa mengetahui kapan persisnya fenomena ini terjadi.
Menikmatinya sebagai sesuatu yang langka.
Namun sejatinya, peristiwa ini bukanlah sesuatu yang baru, bukan temuan para ilmuwan, juga bukan fenomena alam semata.

Jauh sebelum manusia dilahirkan, peristiwa ini sudah jelas tercatat di lauhul mahfudz
hanya saja karena saat pertama kali terjadi, manusia menyangka gerhana matahari maupun bulan merupakan suatu kutukan
sehingga Allah memberi tahu manusia, secara eksplisit dan terang-terangan dalam Al-Quran, mengenai bulan dan matahari
Tak hanya sekali, kawan....
Berkali-kali Allah SWT menyebutkan tentang peredaran matahari dan bulan dalam orbitnya
lalu menganjurkan umat manusia untuk shalat saat gerhana ini terjadi.
Bukan untuk bersujud pada bulan, matahari, atau apapun ciptaanNya.
Sungguh tak ada gunanya. Apalagi bersujud pada ciptaan manusia yang tak berdaya guna.
Kita diperintahkan shalat hanya dan hanya untuk menyembah Allah, sang maha pencipta.


Kenapa?
Logikanya mudah saja.
Bagaimana jika matahari tak bersinar lagi?
bagaimana jika Allah berkehendak bumi ini gelap gulita selamanya?
Bagaimana jika Allah mengumpulkan bulan dan matahari?
dan bagaimana jika, Allah berkehendak untuk melepaskan orbit di alam semesta?
membiarkan bumi, matahari, bulan, dan semua planet bertumbukan?
Padahal kita semua tahu, jangankan jika dibandingkan dengan besaran bumi,
dibandingkan dengan pohon pun kita kalah besar. Kalah kuat.
Tiada daya, yang ada hanya berserah pada kekuasaan Allah SWT.
Mempercayai takdirNya, memahami keputusanNya.

Wallahu'alam bisshawab

Friday, January 1, 2016

The First Day in 2016

Selamat Tahun Baru readers....
Semoga tahun ini, segala cita-cita yang tertunda bisa tercapai. Bisa tetep jalan-jalan, kerjaan bagus, juga private live yang oke :D

Tahun lalu saya habiskan masa-masa liburan tahun baru di Malang. Kota Indah dengan segala kekhasannya. Tahun ini, moment tahun baru saya habiskan dengan kumpul bersama keluarga di Serpong. Sekedar ngerumpi bareng sambil barbeque party. Bakar Jagung, bakar seafood, bakar bebek di loteng rumah.

Salah satu menu Seafood sedikit gosong karya bokap :D
Sederhana, tapi seru. Itulah kalau kita ngumpul sama keluarga. Nggak perlu jalan kemana-mana, nggak perlu berkutat dengan macet dan huru-hara jalanan di tahun baru, nggak perlu juga ngeluarin uang banyak-banyak.

Semoga tahun ini berjalan lancar dan lebih baik dari tahun 2015.
Salam....

Tuesday, December 22, 2015

Jalani dengan senyum

Buat orang2 yang bekerja di dunia profesional, Senin identik menjadi hal yang sangat menyebalkan. Betapa setelah liburan, merilekskan pikiran dan mengistirahatkan badan, harus langsung berangkat ngantor subuh2. Nyampe kantor langsung "diseneni" pula sama bos (baca: briefing pagi untuk agenda kerja seminggu). Beres "diseneni" langsung banting pantat di kursi kerja masing2, sambil menghela nafas. Hhhhh....

Mungkin banyak yang nggak sadar, perbuatan barusan adalah yang paling menghabiskan energi. Belum apa2 sudah menghela nafas, sudah pula pasang wajah mengkerut. Walhasil kreatifitas dan semangat kerja pun bakal terbang bersama burung-burung di angkasa (hiperbola versi lebay).

Efeknya lagi, karena ngga ikhlas, kerjaan pun nggak beres2 dan nggak ada habisnya. Hanya mendatangkan keriput di wajah dan uban di kepala sebelum waktunya. Ditambah lagi wajah bersengut yang bikin orang lain nggak betah ngeliatnya. Bikin atasan nambahin beban kerjaan lagi karena dia males liat karyawannya bersengut di depan dia, sehingga dia berpikir, lebih baik tuh orang bersengut di depan komputer daripada di hadapan gue. 

Coba deh kita liat dari persepsi yang beda....
Bahwa kerja adalah bukti cinta kita sama Tuhan. Namanya juga cinta, pake senyum kan ya...masakan aja kalau dibuatnya pakai cinta jadi enak rasanya. Gitu juga sama kerjaan. Ketika dijalani dengan senyum, insyaAllah jadi ringan ngerjainnya. Bagus pula hasilnya. 

Terus gimana kalo nggak bisa cinta sama kerjaannya?

Ada hadist sahih mengatakan, "jangan berlama-lama dalam keadaan tidak baik" Kalau nggak bisa cinta dan jatuh cinta sama kerjaannya, ya tinggalin aja. Cari kerjaan yang kamu cintai. Yang bisa bikin kamu ikhlas.

Tapi...usia udah segini, mana ada perusahaan yang mau nerima?
Ah sayang, jabatan udah tinggi.
Duh, udah terlanjur jadi PNS. Mau gimana lagi?

Maaf-maaf kata ya, kalimat diatas biasanya tercetus dari mulut orang2 yang pengeluh. Yups, hanya pengeluh yang nggak punya kapabilitas apa2. Nggak punya keberanian, dan hanya berani ngomong di belakang. Omdo istilahnya. Makanya dia khawatir nggak ada perusahaan lain yg mau terima. Makanya dia nggak ikhlas kerjanya. Makanya juga dia nggak percaya sama kemampuan dirinya yang sudah dianugerahkan oleh Tuhannya. Kategori ini juga selalu lupa caranya bersyukur, sehingga seolah semua jalan buntu. Padahal mah dibuntu-buntuin supaya punya alasan buat selalu mengeluh.

Yuk ah, kita coba untuk mengawali hari dengan tersenyum. Bahasa universal yang santun dan indah, juga paling mudah untuk dilakukan, oleh bayi yang baru lahir sekalipun. Kalau beban kerja terasa menghimpit, inget2 aja Tuhan selalu berkata, "Maka nikmatKu yang mana yang bisa kau dustakan?"

Masa nggak percaya?

Udah dikasih nafas, dikasih udara gratis, masih aja ngeluh. Malu dong sama kembang. Nggak bisa jalan aja dia selalu mekar demi membuat orang lain tersenyum melihat keindahannya. Bukti tasbihnya sama Yang Maha Kuasa. 

Sekarang balik lagi ke laptop deh. Tarik nafas panjang, terus senyum.
Bilang, terima kasih Tuhan, sudah Engkau mudahkan aku sampai ke posisi yang sekarang ini. Maka mudahkanlah selalu langkahku untuk menapak ke posisi terbaik menurutMu, hingga aku kembali ke sisiMu.

Have a nice work

Saturday, September 12, 2015

Kuliah Umum bersama SBY dan Taman Keanekaragaman Hayati Kiara Payung



Jumat, 11 September 2015 saya menghadiri kuliah umum dalam rangka Dies Natalis Universitas Padjadjaran ke – 58. Pematerinya adalah Presiden Republik Indonesia ke-6, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, dengan Judul “Trilogi Pembangunan Abad 21”. Dalam kuliah umum yang berlangsung kurang lebih satu jam tersebut, Pak SBY menekankan berkali-kali pada pelestarian lingkungan, demi kehidupan lebih baik. Kalimat yang tak lagi asing di telinga kita, tentu saja. Saking nggak asingnya, seringkali kalimat tersebut masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Alias, bosen. Namun kali ini berbeda. Saya, yang gampang bosen ini justru bisa meresapi betul apa arti kata-kata Pak SBY. 

Tepat seminggu sebelum saya menghadiri kuliah umum Pak SBY tersebut, Jumat 5 September 2015, Allah mengizinkan saya untuk melihat dari dekat bagaimana usaha pelestarian lingkungan itu. Tim kami dikasih kesempatan untuk mengunjungi Blok 5 Taman Keanekaragaman Hayati di Desa Cikeyeup, Kiara Payung – Jatinangor. Taman kehati tersebut adalah hasil kerjasama Pertamina Bandung Group dengan BPLHD Jabar (Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah). Dari situ, kami berkenalan dengan Pak Didin, seorang pahlawan tanpa tanda jasa yang merupakan aktifis LSM Peduli Citarum. Beliau inilah yang tanpa lelah mengurus program reboisasi hutan gundul. 

Taman Keanekaragaman Hayati Kiara Payung sendiri mulai dirintis tahun 2010. Saat itu Pertamina menanam kurang lebih 800 pohon di Blok 5. Setelah 5 tahun, kurang lebih tampilannya jadi seperti ini:
Taman Keanekaragaman Hayati Kiara Payung, Jatinangor
Pasokan Oksigen yang baik membuat langit pun membiru (no edit)
“Dulunya, tempat ini merupakan lahan gundul bekas perkebunan Teh di jaman penjajahan Jepang.” Tutur Pak Udin, sang ketua kelompok pemeliharaan Taman Kehati Kiara Payung. Selanjutnya beliau juga menyatakan, "Setelah ditanami, lingkungan mulai teduh. Debit air meningkat, langit membiru, dan satwa mulai datang. Mulai dari burung-burung unik, Elang Jawa, juga spesies lainnya."

Namun seiring datangnya satwa dan lebatnya hutan tersebut, pemburu dan pembalak liar juga mulai berdatangan. Tak sedikit pula warga yang mengambil daun-daun pohon tersebut untuk dijadikan pakan ternak. Pak Udin bahkan pernah diikat di pohon gara-gara melindungi hutan agar tanamannya tidak ditebangi sembarangan dan satwanya tidak diburu. 


Pohon Sonokeling, Kayunya dijadikan bahan baku untuk membuat Gitar
Proses Pelabelan pun tidak mudah. Butuh keahlian dan konsistensi tersendiri
Sudah seperti cerita di sinetron ya? Tapi itulah kejahatan manusia. Nggak usahlah kita mikir jauh-jauh para “pembakar” hutan di belantara Sumatera. Di Jatinangor saja kelakuan manusia sudah anarkis begitu. Padahal kalau hutan lebat, cadangan air pun meningkat. Udara lebih segar, suhu juga menurun. Nggak terlalu panas. Karena apa? alam sudah menyediakan oksigen sedemikian banyak, air sedemikian melimpah, persediaan kayu yang cukup, asalkan kita sebagai manusia nggak serakah. Ambil seperlunya, di saat yang tepat, dan jangan lupa, tanam kembali. Satu pohon butuh waktu bertahun-tahun buat dia tumbuh. Bahkan ada yang hingga puluhan tahun. Tapi menebangnya hanya butuh sepersekian menit. Alam jadi nggak seimbang karenanya.

Contoh saja, Pak Udin bukanlah seorang akademisi. Bukan juga orang yang memiliki latar belakang pendidikan formal bidang lingkungan maupun Biologi. Pak Udin adalah orang desa yang sejak kecil akrab dengan alam. Beliau memahami alam dan segala perilakunya melalui pengalaman. Melalui pengamatan langsung serta berbekal kearifan manusia.

Bersama Para Volunteer Pelestari Lingkungan
Usaha pemerintah sudah oke kok. Buktinya sekarang perusahaan sudah menggiatkan usaha pelestarian keanekaragaman hayati karena hal tersebut menjadi wajib, dengan adanya Undang-undang yang mengatur. Tinggal kita saja sebagai masyarakat turut membantu program tersebut. Kalau nggak bantu pun nggak apa-apa. Tapi, jangan rusak lingkungan kita. Minimal, jangan buang sampah sembarangan. Nggak usah juga selalu mencibir pemerintah. Nanti percuma mulut monyong tapi nggak ngefek apa-apa tanpa disertai partisipasi. Ayo mulai dari diri kita sendiri. Mulai dari yang kecil. 

Karena hukum alam itu pasti. Ketika kita bersahabat dengannya, Ia pun akan bersikap jauh lebih bersahabat dengan kita. Siapa menebar benih, dia yang akan menuainya.

Monday, August 17, 2015

Selamat Ulang Tahun ke-70 Negeriku,

Apapun kata orang tentang engkau, bagaimanapun sinisnya segelintir rakyatmu menghujat, menganggap engkau negeri yang terpuruk, juga mencemooh pemimpin bangsa ini, buatku engkau tetap yang terhebat, Indonesiaku. Negeri indah dan luar biasa, tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan akan selalu kubela dengan segenap jiwa dan raga hingga ajal menjemput.


Karena kau Indonesiaku, negeriku yang bersanding di hatiku, setelah Tuhan dan Agamaku.

Dari Belakang Tamansari Water Castle

Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika Bandung


Wednesday, June 10, 2015

Sebuah Tulisan

Saat jemari mengetik, saya berpikir, setiap hasil ketikan saya, baik maupun buruk, ada yang mencatatnya.
Entah yang di pundak sebelah kanan saya yang mencatat, ataukah yang di pundak sebelah kiri saya yang mencatat.
Wallahualambisshawab.

Kemudian saya berpikir, sebuah tulisan, apalagi yang dibaca orang banyak, pasti akan memberikan efek pada pembacanya. Baik itu dibaca sekilas, atau dibaca dengan penghayatan hingga akhirnya diserap ke dalam pikiran. Diamalkan dalam perbuatan.

Dari tulisan tersebut pula maka akan terbentuk sebuah OPINI. Dan Opini ini tergantung pada pemahaman masing-masing pembaca. Karena pembaca heterogen, alias punya latar belakang yang berbeda, dengan pemikiran yang berbeda-beda pula, besar kemungkinan setelah membaca tulisan kita, penerimaan mereka pun berbeda-beda.

Bisa legowo,
Bisa anarkis.
Bisa bikin cerah pandangan,
Bisa juga bikin gelap masa depan.
Bisa membangkitkan gairah hidup,
Bisa juga bikin orang mengakhiri hidup.

Betapa dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan.
Betapa tajamnya sebuah tulisan, bahkan sungguh jauh lebih tajam dari belati tertajam sekalipun.
Tulisan adalah penyambung lidah. Dimana semua juga tahu kalau lidah itu lebih berbisa dari segala apapun di dunia, jika tidak dikendalikan.

Lantas masihkah kita rela membiarkan jemari menari untuk menorehkan hal-hal yang belum jelas rimbanya? Menghina orang yang bahkan nggak kita kenal? Ikut terbawa arus propaganda negatif sehingga membangkitkan benci di dalam dada, mengobarkan amarah dan disebar ke dunia maya. 

Si itu melakukan inilah, melakukan itulah. Terus saja...mencari celah untuk dapat menuliskan hal buruk orang yang dibencinya. Minimal meng-klik tombol share.
Sekuat tenaga menahan ghibah, tidak banyak ngerumpi apalagi menjelek-jelekkan orang lain dengan mulut. 
tapi tidak mengendalikan jemari untuk menuliskan sesuatu yang belum jelas kebenarannya. Bahkan kenal pun tidak dengan orang yang dijelek-jelekkan. Alasannya curhat.
Padahal sebenernya mengeluh. Atau bahkan memfitnah jika tulisan tersebut tidak benar.

Terus apa kabar kehidupan kita selanjutnya nanti?
Ketika mulut tak dapat berkata-kata,
Ketika hanya tangan dan kaki yang bicara.
Apa yang terjadi ketika tangan kita mengadu pada Allah akan apa yang telah ditorehkannya di dunia?
Sanggupkah kita menahan konsekuensinya? Sanggupkah kita bertanggung-jawab atas perbuatan kita?

Mungkin sekarang, saat kita masih hidup, masih kuat, masih sehat, 
Tanpa sadar menulis dengan menjelek-jelekkan orang lain di media sosial adalah bagian dari gaya hidup.
Ngeshare-ngeshare berita yang belum jelas kebenarannya adalah bagian dari menyebarkan informasi.
Tapi kalau informasi itu bener-bener nggak bener gimana? 
Kalau informasi itu membangkitkan kebencian juga gimana?
Kalau informasi itu menyengsarakan orang lain gimana?

Terus nanti, jawabnya ke Allah gimana?

Padahal jelas sekali Allah memerintahkan kita untuk saling menyayangi, menjaga lisan, dan tak membangkitkan kebencian di dalam dada.

Tulisan saya nggak ngejudge siapapun, sama sekali tidak. Hanya sebuah renungan pribadi. Mencoba menelaah makna sebuah tulisan yang terangkai dari kalimat-kalimat. Saya mencintai hidup damai, dengan tulisan dan kalimat yang indah. Kalimat yang sarat maknanya, yang direnungkan sebelum disebar apalagi dipublikasikan. Sebuah kalimat santun yang bisa menjadi bagian dari terapi jiwa. Dan layak untuk diamalkan dalam perbuatan.






Friday, March 20, 2015

The power of Mind

Beberapa minggu lalu saya terlibat diskusi dengan seorang profesor senior.
beliau berkata, "don't ever under estimate yourself. Even if you just think that you can't do something good, it will influenced your mind that you can't. And then your brain will instruct all over your body that you can't doing something good, that you don't have capabilities to reach your dreams, that you can do nothing.
After that, you will end with "what you think in your mind that you can't do anything."

Sebegitu besarnya pengaruh "Mind" terhadap diri kita.

Sederhana, namun cukup menggelitik. Saya pun mencoba menelisiknya dari sudut pandang saya.
Dalam agama, kita tentunya seringkali mendengar, kata-kata adalah doa.
Segala yang kita ucapkan, bisa saja terjadi atas izin Tuhan.
bisa kapan saja diaminkan oleh Malaikat.
Sehingga agama memerintahkan kita untuk selalu berkata-kata baik.
Agar malaikat mengaminkan hal baik yang kita katakan.
Agar Tuhan mengabulkan hal baik yang kita ucapkan.

Soal kemampuan.
Sebagai manusia, kita adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.
Defaultnya saja sudah sempurna. Dengan anatomi unik yang berbeda dengan makhluk lainnya.
Dengan akal pikiran yang tidak dipunyai oleh makhluk hidup lainnya.
Dengan Gen dan DNA yang begitu kompleksnya,
namun dari berjuta-juta manusia, tak satupun ada yang sama.
Dengan keunikan pola berpikir yang berbeda-beda antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya.

Sebuah analogi sederhana. Ada seseorang yang punya impian ingin naik haji. Katakanlah namanya Odong.
Dengan melonjaknya nilai dollar saat ini, dengan meningkatnya juga ongkos naik haji,
belum lagi kebutuhan sehari-hari dan harga BBM yang juga naik,
dia pun mengatakan "Duh...kayaknya bakal susah nih ane naik haji. Segalanya naik. Dengan gaji seorang PNS Golongan I A, Jangankan buat naik haji. Makan aja susah."

Maka yang terjadi adalah...seperti apa yang Odong katakan. Hidupnya susah. Cari uang susah. Makan susah. Apalagi naik haji. Super susah.
Siapa yang bikin susah?
Pemerintah yang naikin harga BBM dan sembako?
Konflik Politik yang bikin dollar naik?
Tetangga yang nggak peduli saat Odong lapar?
Teman2 dan saudara yang nggak mau bantu?
Tentu tidak. Menyalahkan orang lain tidak akan ada gunanya.
Sejatinya, kesusahan tersebut dibuat oleh dirinya sendiri.
Karena dalam pikiran si Odong, Dia nggak mampu buat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dia susah dalam menjalani hidup. Maka yang terjadi ya sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

Masih ragu? Ingat ayat dalam kitab suci. "Aku, ada di prasangka hambaKu."

Semua manusia butuh makan untuk hidupnya. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa makan.
Semua manusia juga butuh minum demi bisa bertahan hidup. Tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini yang bisa bertahan hidup tanpa cairan dalam tubuhnya.

Lalu kenapa ada manusia yang bisa naik haji, kenapa ada yang tidak?

Jawabannya juga sederhana. Manusia yang bisa itu punya kemauan.
Sedangkan yang tidak bisa, bukan karena dia tak mampu, melainkan karena tak mau.
Hanya ingin saja. Tapi tak mau.
Atau berpikir bahwa...dirinya tak mampu.

Lalu ada pertanyaan, "Ah masa?"
Balik lagi ke soal kemampuan tadi. Secara histori dan bukti, Manusia adalah makhluk yang paling sempurna.
Sama-sama diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Sama-sama butuh makan, butuh minum.

Kalau nggak mampu di bidang yang satu, pasti punya keunggulan di bidang lainnya.
Tuhan tidak menciptakan seseorang berkekurangan, tanpa menciptakan kelebihannya.
Begitupula sebaliknya. Tuhan tidak menciptakan manusia yang mempunyai kelebihan, tanpa menciptakan kekurangannya.
Kalau kata peribahasa, "Tiada gading yang tak retak". Tiada manusia yang sempurna.

Namun sebuah kebenaran mutlak adalah...tak ada manusia sehat jiwa dan raganya yang tak mampu.
Masalahnya hanyalah, Maukah ia berpikir bahwa ia mampu?
Cukup itu saja kok awalnya.
Selanjutnya, yang dilibatkan adalah : berusaha lebih keras dari biasanya, bekerja lebih giat dari biasanya, berlatih lebih banyak dari biasanya.
Sesuai peribahasa, "alah bisa karena biasa." dan dilengkapi dengan berdoa lebih banyak dari biasanya.
Setelah doa, cukupkah?
Tentu saja tidak.
Implementasikan doa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Niscaya Tuhan akan mengabulkan segala permintaan, baik itu secara Cash, Delay, maupun Deposit.

Dalam hidup ini...tidak ada sesuatu yang tak bermakna.
Karena kita dibekali akal dan pikiran, "Mind" pun punya Power yang luar biasa. Sungguh luar biasa.

Namun ketika seorang manusia sudah menata Mind, sudah berusaha tapi tetap tak mampu, Maka Tuhan yang akan memampukan lewat "The invisible hands" nya.
Disitulah letak The Power of Mind. Merasuk dalam sanubari, mengalir dalam darah, dan memberi kekuatan ke jiwa dan raga. Hingga pada akhirnya, dalam dunia ini tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan ketidakmungkinan itu sendiri adalah kemungkinan terakhir.

Bandung, 20 Maret 2015
Arum Silviani

Saturday, June 29, 2013

Kategori Sikap Hati

Ketika hati seseorang dihianati, ada tiga kategori yang jadi kemungkinan atas responnya terhadap hal tersebut.

yang pertama, dia akan berkoar2, marah, menjelek2an orang yang menyakitinya, tidak ada kata maaf.

Kedua, dia akan membalas dendam atas apa yang diperbuat oleh orang yang sudah mengganggu kenyamanan hatinya.

Ketiga, dia akan marah, menangis, tapi langsung mengadu pada Tuhannya. Dia tidak membalas dendam, tidak pula mengeksiskan diri sendiri agar orang yang menghianatinya menyesal telah membuatnya tersakiti. Karena buatnya, pembalasan adalah hak prerogatif Tuhannya, yang tidak pantas dicampurinya.

Hidup ini pilihan, kawan. Sungguh2 pilihan. Dan pilihan untuk bersabar selalu jadi alternatif yang tak mudah, meskipun pastinya akan berakhir manis. Sangat manis

Barometer Sukses

Seringkali yang jadi barometer kesuksesan adalah punya kendaraan yg keren, rumah mewah, penampilan kayak artis, trus bawa2 gadget canggih. Oh iya, ditambah lagi, punya pin BB.

Masih ada yg mikir gitu? ih bener2 ketinggalan jaman dehh

Saya kasih tau yaa...pemikiran ky gitu ngga salah2 amat sih...tapi nggak bener juga. Buat saya, kesuksesan model tadi, masih jadi trademarknya OKB. Alias orang kaya baru, yang pikirannya teramat sangat DANGKAL. Karena dia masih peduli banget tuh sama sanjungan n pujian orang lain. Secaraa...yang paling gampang diliat adalah tampilan luar.

Padahal sejatinya, kesuksesan buat para manusia modern adalah terbukanya sebuah pemikiran. Dari yang semula pemikirannya cuma segede selokan, sekarang jadi seluas samudra. Dari yang kerjaannya bilang nggak bisa, sekarang bilang apapun bisa. Dari yang tadinya bilang nggak mungkin, sekarang bisa bilang, "semua bisa diusahakan".

Nah, sayangnyaaa niihh...banyak orang yang ngaku sukses, masiiiih saja barometer sukses versi DANGKAL dipelihara di otaknya. Kalaulah dia mau lihat orang2 sukses yang sudah bener2 sukses, akan ditemukan fakta bahwa: Orang sukses yang sebenarnya penampilannya pasti sederhana. bicaranya santun, nggak merendahkan orang. Nggak pamer, apalagi nulis2 status di fesbuk kalo dia baru beli mobil baru, rumah baru, gadget baru, apalagi nyebarin pin BB.

Nggak percaya? Silakan ditelaah kembali.

Berpikir di luar Kota Besar

Memilih hidup di kota besar memang ada dua sisi. Satu sisi yang menarik adalah, apapun tersedia di kota besar. Namun sisi sebaliknya menyodorkan fakta bahwa, kehidupan di kota besar begitu menyesakkan dada, otak sama pikiran. Bukan semata karena biaya hidupnya, melainkan masalah terbuangnya waktu dan tenaga untuk hal yang namanya transportasi. Jarak yang semestinya bisa ditempuh setengah jam, jadi tiga jam. Kalau normalnya satu jam, bisa empat jam. Mau jalan kaki, udara full polusi. Bawa kendaraan sendiri, ilfil. Naik moda transportasi umum, lebih bikin ilfil lagi. Sampai di kantor sudah lelah, penat, stress. Maka sebenarnya tak usah dipertanyakan lagi sebab musabab menurunnya produktivitas masyarakatnya.

Coba bandingkan jika hidup di kota kecil, waktu segitu bisa bermanfaat banyaaaak sekali. Tak hanya bisa produktif, tapi juga ekonomis dan efisien. Apalagi kalau kita adalah kaum terdidik. Manfaatnya jauh lebih banyak lagi. Permasalahannya hanyalah pola pikir. Banyak orang masih beranggapan bahwa, Kalau mau sukses ya ke Kota besar. Yang tinggal di kota kecil dianggap cupu dan katro. Hmm...persepsi salah kaprah bener keblinger berjalan dengan mulusnya.

Let's think out of the box, dear... Peluang kehidupan yang jauh lebih baik membentang seluas mata memandang. Asal...ulet dan kreatif. Satu lagi, open minded. Terbuka akan hal-hal baru bikin mimpi makin mudah tercapai. Apapun kalau mau sukses ada syaratnya, kan?

Sekali lagi, sungguh, banyak peluang2 besar berceceran di luar sana. Namun hanya orang2 "berani" yang memungutnya dan menjadikannya roket menuju langit mimpi.

The injury time theory

Ini dikhususkan buat orang2 yang suka menunda. Termasuk saya sendiri tentunya. Padahal saya tahu pasti, bahwa menunda itu masalah. Bahkan lagi, dosen pembimbing saya pun jelas2 menuliskan saya selalu menunda tugas di surat rekomendasinya. Tapi untuuuung dia juga nulis tingkat intelegensia dan pemikiran saya nggak tertunda. Dulu saya selalu berpikir, setiap mau mengerjakan sesuatu harus nunggu mood. Akhirnya muncullah mata kuliah baru.

The injury time theory.

Dimana cara menanganinya adalah dengan the power of kepepet. Seru sih ngerjain sesuatu saat kepepet. Dikejar deadline ceritanya. Ide dan inspirasi muncul sedemikian derasnya. Tapi yaa...dasar kepepet, akhirnya nggak bisa maksimal. Adaa aja yang kurang. Capek pula. Ditambah ngos-ngosan. Tangan pegel, kaki pegel, jantung olahraga.

Sampai disini, hanya bisa garuk2 kepala. Mengingat lagi kalau my injury time theory sesungguhnya teramat sangat berbahaya. Dengan tingkat risiko diatas 50:50 antara keberhasilan dan kehancuran. Ihh amit-amiit...

Makanya, semestinya hidup itu penuh perencanaan dan pertimbangan yang matang. Jangan hanya mengandalkan rumus kepepet.
Kalau bisa diusahakan, kenapa harus menunda?

night, night.

Keraguan itu...

Keraguan memang seringkali muncul. Awalnya dari alam bawah sadar, lalu mencuat, tumbuh bak penyakit yang menjamur dalam benak. Menggerogoti kalbu, menyelipkan resah, membisikkan kata "jika".

Jika begini maka begitu. Jika kesana maka kesitu. Padahal semuanya belum tentu. Semua masih kelabu.

Lalu siapa sih yang pingin ragu?
Siapa pula yang senang memelihara keraguannya?
Membiarkannya menelikung tubuh, menghimpit nafas, menyulitkan tidur, dan menyesakkan dada.
Sungguh tidak ada, kawan.

Baiknya, lemparkanlah jauh-jauh keraguan itu.
Pasang tembok keyakinan setinggi-tingginya untuk menghalangi kembalinya si keraguan.
Cari kepastian dalam janjiNya.
Lakukan, apa yang seharusnya kau lakukan,
sambil berucap,

Hasbunallah wa ni'mal wakiil, Ni'mal mawla wa ni'man nashir.

Kenapa Tuhan ciptakan cinta?

Kalau ada kenapa, biasanya dengan cepat kita menjawab dengan awalan KARENA. Untuk menunjukkan sebuah atau beberapa alasan penciptaan cinta.

Padahal sesungguhnya, cinta sejati justru cinta tanpa karena.
Mengalir tulus tanpa syarat, tak mengharap pujian, apalagi sekedar ucapan "terima kasih".

Demikianlah, Tuhan mengatur manusia agar bisa mencapai titik ekuilibrium dalam hidupnya. Dia perintahkan manusia yang berlainan suku, agama, budaya, dan bahasa untuk dapat saling mengenal, untuk saling mendalami karakter, sehingga timbul rasa toleransi, saling menyayangi, dan selanjutnya mencintai.

Dengan cinta yang sejati.

Tuesday, December 4, 2012

Seuntai Cerita untukmu yang disana






Sayang, aku dalam sebuah perjalanan lagi.
Banyak sekali peristiwa yang kulalui beberapa hari belakangan ini. Banyak pelajaran yang kupetik. Sayangnya kau tak berada di sampingku.

Sulitnya berkomunikasi denganmu, membuat waktu terasa begitu mahal. Kesibukanmu, kesibukanku, dan ketidaksiapan kita membuat kita belum dapat dipertemukan. Maka dari itu, tak apa lah kali ini kutampung ceritaku dalam sebuah goresan pena. Kuharap kau akan membacanya nanti.

Sayang...peristiwa demi peristiwa, kejadian demi kejadian, dan makin banyaknya menapaki sebuah perjalanan semakin meyakinkan aku, kalau hidup adalah sebuah skenario. Ada penulis, ada sutradara, ada produser, ada kru, dan ada artisnya.

Jika kita berada dalam dunia "skenario versi manusia", maka seringkali antara penulis, sutradara dan produser adalah orang yang berbeda.

Karena apa?

kemampuan manusia berbeda, sayang...Kemampuan manusia terbatas. Manusia, punya kekurangan. Kalaupun ada yang sanggup memerankan ketiganya, tetap saja ada kurangnya. Tidak maksimal. itu bahasa yang sering digunakan oleh manusia. Bahkan ada peribahasa yang mengatakan, kalau kau duduk diantara dua kursi, niscaya kau akan terjatuh diantaranya.

Lain halnya pada skenario kehidupan. Penulis, Sutradara, dan produsernya bisa dipastikan, SATU.
Ya.
Hanya satu.

Dia, mempunyai kemampuan tak berbatas. Dia sanggup menjadi apapun, siapapun, dan bertindak apapun. Dia yang menjadikan tiada menjadi ada, yang ada menjadi tiada, yang tak mungkin jadi mungkin.

Dia sang penulis skenario, yang menceritakan semuanya. Semua, sayangku... tanpa ada satu hal pun yang tak tertulis atau terlewatkan. Termasuk cerita tentang kita. Dia tuangkan dalam sebuah buku. Buku  skenario yang isinya takkan dapat ditiru oleh makhluk manapun di dunia ini. Buku Skenario yang tak seorang pun dapat menebak, kemana arahnya. Karena tak seorangpun dapat membuka lembar berikutnya, sebelum tiba saatnya.

Buku skenario itu dinamakan, Kitab Lauhul Mahfudz.

Dia menciptakan setting lokasi, kostum, peralatan, perlengkapan, maupun segala yang diperlukan demi menjalankan skenario kehidupan.

Itulah Dunia dan segala isinya.

Dia sang sutradara. Bedanya, Dia tak melakukan proses casting untuk para aktor dan aktrisnya. Tetapi menciptakan sendiri aktor dan aktris yang dikehendakiNya. Dia tiupkan ruh,  Dia titipkan nyawa, Dia titipkan akal, pikiran, dan hati.

Kitalah yang berperan dalam skenario tersebut. kita aktor dan aktrisnya.

Dia punya Kru untuk mendampingi para aktor dan aktrisnya. Lagi-lagi, kru tersebut Dia ciptakan sendiri. Tanpa melalui proses rekrutmen. Dia ciptakan kru tersebut dengan zat yang berbeda dengan manusia. Zat yang tak kasat mata. Zat yang kita kenal sebagai cahaya.

Merekalah Para Malaikat.

Dia perintahkan kruNya untuk mencatat setiap  adegan. Sejak kita dilahirkan, sampai nanti di akhir cerita. Kuberitahu padamu, sayang...Manajemen kearsipan mereka jauh lebih canggih dari teknologi database tercanggih yang ada di dunia ini. Setiap adegan dicatat rapi. Tidak ada yang meleset, salah tulis, salah tanggal dan lain sebagainya. Semua tercatat rapi, berikut Tahun, Bulan, Minggu, Hari, tanggal, jam, menit, hingga detiknya. Jika akting mereka bagus, maka para kru yang berada di sebelah kanan mencatatnya satu kali. Dan Dia melipatgandakan bonus, dengan memberikan nilai antara 7 hingga 700 kali lipat kebaikan. Jika adegan yang dilakukan aktor dan aktris itu salah, maka kru mencatatnya satu kali. Disinilah kebijaksanaan sang sutradara. Dia hanya memerintahkan para kru untuk mencatatnya satu kali.

Adegan itulah yang dinamakan amalan dan dosa.

Sekali lagi kubilang disini, kitalah yang manjadi aktor dan aktrisnya. Kita...manusia.
Kita, yang menjalani skenario yang telah dibuatnya dengan amat sempurna. Skenario yang amat indah, adil, dan tak memihak. Kita bahkan diperkenankan mengubah nasib kita dalam skenario itu. Dengan sebuah usaha.
Kita juga bisa mengubah takdir yang Dia gariskan, dengan DOA.

Lantas, apa yang kurang dari Nya?

Kalaulah analogi itu bisa diterima oleh manusia dengan pemahaman dan keyakinan yang baik, tentunya tak ada lagi kegalauan dan keresahan yang menyelimuti hati. Tak ada lagi ketakutan akan masa depan. Tak ada kata tak menerima sebuah kehilangan.

Karena pada dasarnya, Dunia ini panggung sandiwara.
Sebuah sandiwara, pastilah ada endingnya.
Happy, hanging, or sad ending.

Bedanya, kalau dalam sebuah sandiwara dengan hanging end, kita sebagai penonton diperkenankan berimajinasi sendiri. Pada kasus selesainya pementasan skenario kehidupan, hanging end akan diselesaikan oleh sang penulis, sutradara, sekaligus produsernya.

Dia memastikan dalam firmanNya, kalau Dia menguasai hari pembalasan. Hari dimana amalan dan dosa selesai ditimbang. Barulah dengan keadilan langit, bumi, dan segala yang bernaung di dalam galaksi, Dia memutuskan balasan apa yang pantas untuk sang aktor dan aktris.

Buat aktor dan aktris yang sukses memainkan perannya, diberikanlah padanya Penghargaan berupa Piala surga. Sisanya, kau tebaklah sendiri. Kemana kiranya para aktor dan aktris yang tak sukses.

Sayang...sudah dulu yaa..
Kuceritakan lagi isi hati dan pikiranku di lain waktu. Namun kuminta, kau sabarlah menungguku. karena aku pun demikian.


Saat notes ini kutulis, kata Pilot aku sedang berada sekitar 39000 kaki di atas permukaan laut, Di atas langit, entah langit yang keberapa. Namun kurasa bukan langit ketujuh.

Salam Sayang,

Arum Silviani