Search This Blog

Showing posts with label Review Tempat Nginep. Show all posts
Showing posts with label Review Tempat Nginep. Show all posts

Tuesday, February 3, 2015

Ngekost Harian kala Backpackeran? Kenapa nggak?



Urusan penginapan merupakan hal yang paling penting kalau kita mau traveling. Saya kategori orang yang ribet dan memasang standar tinggi untuk sebuah penginapan. Harus bersih, nyaman, dan aman. Intinya, meskipun di kota orang dan lagi ngetrip, kenyamanan tetap terjaga lah ya. Memang sih penginapan fungsinya cuma buat tidur saja, karena kita bakal lebih sering keluar. Tapi menurut saya, kalau kita istirahat cukup dengan kualitas tidur yang baik maka traveling pun akan lebih menyenangkan.

Sebelumnya saya dan teman-teman berniat menginap di Kota Batu. Supaya dekat dengan tempat tujuan wisata yang memang rata-rata ada di Batu. Mulailah saya browsing-browsing penginapan di sekitar Kota Batu. Tapi apa yang saya temukan? Untuk homestay sederhana yang harga normalnya Rp. 400-500 ribu per malam, pada tahun baru dari tanggal 31 Des 2014 sampai tanggal 4 Jan 2015 harganya “menjelma” jadi Rp. 2 juta per malamnya. Sedangkan untuk yang harganya sekitar 700 ribu pada hari biasa, maka pada malam tahun baru harganya “disulap” jadi Rp. 3 juta per malamnya. Kalau menurut saya sih teramat sangat nggak mix sense ya harga segitu. Sudah gitu, dari semua kontak person homestay yang terpajang di website, nggak ada yang berhasil saya telepon. Memang ada kontak kayak line, bbm, whatsapp yang dipajang, tapi nggak direspon sama sekali.

Hanya satu yang respon, Mas Tiger Clan yang saya temukan kontaknya di kaskus. Tapi sayangnya, semua homestay yang dipegang dia penuh. Oke, saya nggak patah arang. Saya putuskan untuk menginap di Malang. Melihat rate kamar yang ditawarkan, ternyata hotel dan penginapan di Kota Malang tetap memasang harga normal dan masuk akal. Kenaikan harga karena peak season pun saya nilai wajar. Namun demikian, saya tetap masih cari yang termurah. Sehingga akhirnya terbersit ide, kenapa nggak ngekost saja? Sekarang kan banyak kost eksklusif yang murah meriah, juga nyaman dengan keamanan yang terjaga pula. 

So...saya mulai browsing lagi tentang kost harian di Kota Malang. Pertama saya kontak Kost Harian Bunga Putri yang reviewnya lumayan bagus, namun ternyata penuh. Kemudian saya kontak Kost Harian Safa, yang terletak di Jalan Danau Tondano, Sawojajar. Ternyata ada kamar kosong! Harga sewa per malamnya hanya Rp. 150 ribu dengan fasilitas AC, Televisi 21 inch, meja, lemari, Kamar mandi dalam (Shower dan WC duduk), dan tempat tidur springbed ukuran double. Di harga normal biasanya antara Rp. 110 ribu sampai 120 ribu saja. Langsung saya sewa untuk 4 malam, 2 kamar. Mbak Adrina Mulyani, pemilik tempat kost juga ramah orangnya. Berikut adalah tampilan Safa Kost & Homestay (Semua gambar diambil dari Facebook Safa).
Gedung Safa Kost & Homestay Malang
Oh iya, di kost harian ini, ada fasilitas wifi, kulkas bersama, dan dispenser sehingga kita bisa membuat minuman sendiri. Keamanan lebih terjaga karena dilengkapi CCTV 24 jam. Sayangnya, kamar mandinya tidak dilengkapi fasilitas air panas. Tapi so far, kami nyaman kok nginep 4 hari disini. Terhitung sejak tanggal 31 Januari hingga 4 Januari. Tanpa batasan waktu check in dan check out seperti jika kita menginap di hotel/losmen. Pagi datang, bisa langsung masuk tanpa kena charge lagi.

Kamar Tidur
Kamar Mandi
Koridor
Ruang duduk
Buat yang pengen rental mobil, di daerah ini banyak. Tinggal pilih saja. Atau mau pakai punya mbak Adrina juga bisa. Tapi buat yang nggak pengen rental mobil, transportasinya mudah kok. Di depan Safa Kost & Homestay ini ada angkutan umum yang bisa mengantarkan kita ke pusat kota Malang. Atau kalau mau, bisa telepon taksi biar diantar keliling-keliling. Terus nggak usah khawatir soal makanan, di Jl. Sawojajar, Jl. Danau Kerinci, yang letaknya nggak jauh dari Homestay banyak terdapat rumah makan yang menyediakan menu makanan dengan rasa yang lezat, dengan harga super murah. Mini market juga dekat sekali dari Safa. 

So, buat kalian yang mau menjelajah Indonesia tapi nggak punya uang lebih untuk akomodasi, atau yang ingin tetap nyaman meskipun lagi backpackeran, kost harian bisa menjadi pilihan yang tepat. Pastinya, kost harian ini lebih bersih dan terawat dibandingkan dengan motel, hostel, atau losmen kecil. Dan pastinya, lebih aman karena kost harian biasanya berada di tengah pemukiman warga, atau dekat dengan kampus sehingga risiko bahwa tempat tersebut merupakan “daerah mesum” sangatlah kecil.

Alamat dan CP Safa Kost & Homestay :
Jl. Danau Tondano Raya F4 A14 Sawojajar, Malang.
Adrina Mulyani (085796005757/081248064907)
Facebook : Safa Kost & Homestay

*Kalau dari stasiun, Bisa Naik Angkot MM, lalu sambung CKL. Ongkosnya per orang Rp. 4000 untuk masing-masing angkot. Atau bisa naik taksi dari depan stasiun untuk langsung diantar ke Safa dengan tarif Rp. 35.000.
*Kalau ke Bandara, perjalanan sekitar 20 menit saja. Ongkos taksi juga nggak jauh beda, kalau pakai argo (Ken Dedes Taxi) hanya sekitar 37 ribu. Tapi biasanya supir minta tips dan uang parkir Rp. 5000. Kalau pakai taksi bandara 70 ribu.

Kelebihan :  
Bersih, fasilitas lumayan lengkap, daerah tidak terlalu jauh dari pusat kota, pusat kuliner, pusat oleh-oleh, stasiun, dan bandara.

Kekurangan :
Bagi yang tidak menyewa mobil dan menggunakan angkot sebagai sarana transportasi, angkot khusus kompleks (CKL) hanya sampai jam 6 sore. Lebih dari jam itu, jarang ada angkot yang melintas. Dan karena menggunakan angkot, rute yang ditempuh jadi berputar, sehingga seolah Safa ini jauh kemana-mana.
Meskipun bersih dan modern, ukuran kamar mandinya terlalu sempit.
Recommended : (Rate : 3,5/5)

Selamat bertualang!

Sunday, August 31, 2014

Review Hotel : Double One Villas, Amed. Spot terbaik untuk menikmati Terbitnya mentari pagi dengan Sempurna

Pemandangan Kamar saya dari tepi pantai
Pertengahan Mei lalu, saya beserta sahabat IDC berlayar dari Gili Trawangan ke Amed dengan menggunakan kapal cepat. Rencananya, kami memang mau ngadem setelah lima hari bertualang mengelilingi Kepulauan Lombok. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya, Amed adalah sebuah tempat di wilayah kecamatan Karang Asem Bali, yang menawarkan ketenangan juga pemandangan menawan Pulau Dewata. Sebagai akomodasi, kami memilih resort. Alasannya supaya bisa menikmati pulau dewata dengan nyaman, tentram dan sejahtera. Gitu deh bahasa kami.

Setelah melakukan survei ke berbagai resort yang bertebaran di Amed, pilihan kami jatuh pada Double One Villas yang letaknya tak jauh dari pelabuhan speedboat Amed. Hanya sekitar 5 menit perjalanan dengan menggunakan mobil. 

Pertama yang terasa begitu masuk ke kawasan Double One Villas adalah rasa nyaman serta nuansa Bali yang sangat khas berpadu dengan keindahan panorama dan keramahan para petugas Villa. Kami bahkan disambut langsung oleh Bli Rai, sang pemilik Resort yang super ramah dan helpful.

Bli Rai sendiri yang memandu kami untuk melihat kamar-kamar yang tersedia. Kalau front desknya berada tepat di areal paling tinggi villa ini, atau dekat dengan jalan raya, kamar-kamarnya justru terletak terpisah di tanah berundak. Kami harus menuruni banyak anak tangga. Kalau menurut saya, kamar-kamar di tempat ini seperti cottage yang terdiri atas bangunan-bangunan kamar yang tidak terhubung satu sama lain. Hal ini tentunya membuat privasi penghuni kamar sangatlah terjaga.

Tak perlu jauh melangkah, seketika terlihatlah Amed Beach yang membentang di bawah sana. Kamar saya kebetulan yang menghadap ke pantai dan kolam renang. Dalam cuaca panas begitu, tentulah sangat menggoda kami untuk menceburkan diri ke dalamnya.

Kondisi dalam Kamar
Sampai di kamar, kondisinya sesuai dengan ekspektasi kami. Sangat Cozy dan bersih. Ada balkon yang luas di masing-masing kamar, sehingga kalaupun kita malas berpanas-panas di tepi pantai, kita tetap bisa menikmati keindahannya dari balkon ini. Untuk kondisi dalam kamar, saya menempati kamar yang bisa dihuni tiga orang. Terdapat 1 tempat tidur double king size,  dan satu tempat tidur ukuran single. Saya menebak, mungkin karenanya resort ini dinamakan Double One (*Ngarang).

Foto diambil dari expedia.co.nz
Selain itu, terdapat pula meja nakas, meja rias, dan lemari dua pintu. Tersedia juga Kursi Panjang dan satu meja untuk sekedar bersantai. Disini tidak dilengkapi dengan televisi. Tapi saya malah justru menyukainya. Kita bisa lebih dekat dengan alam, mendengarkan merdunya suara deburan ombak, sehingga kita merasakan seperti sedang berada di belahan surga dunia.

Double One Villas Amed, Bathroom
Selanjutnya, fasilitas kamar mandi dalam kamar yang terdiri dari bathub jacuzzi, dan satu ruang shower. Kamar mandinya luas, jadi kita bisa nyaman kalaupun mau berendam lama-lama menikmati lembutnya tekanan air di jacuzzi. Soal kebersihan, juara deh. Saya kasih nilai 5 dari skala 5.

Urusan kamar sudah oke, giliran urusan perut. Double One Villas Amed dilengkapi dengan fasilitas restaurant yang menawarkan menu masakan Bali dan Western Food. Jangan takut kemahalan, harga yang ditawarkan sangat terjangkau, nggak seperti hotel/resort yang biasa saya singgahi sebelumnya. Rasa masakannya juga oke, apalagi buat anda pecinta masakan pedas. Sambil makan, kita juga bisa menikmati panorama Amed Beach di depan mata.

Suasana Restaurant
Buat anda yang suka snorkeling, resort juga menyediakan tempat penyewaan alat-alat snorkeling. Tarifnya berkisar antara IDR 15ribu sampai IDR 25ribu saja. Masih sangat reasonable lah ya...

Namun berhubung nyali saya ciut kalau berenang di laut, saya dan beberapa teman memeilih untuk nyebur ke kolam renang. Setelahnya, saya ditawari massage oleh ibu-ibu setempat. Saya coba massage tradisional, ternyata lumayan banget. Hanya dengan IDR 70 ribu rupiah, anda akan dimassage selama satu jam.

Sayangnya, sore hari hujan mengguyur Amed, sehingga mentari pun bersembunyi dibalik tabirnya. Tak patah semangat, setelah shubuh kami keluar kamar, lalu berjalan menuju pantai. Disitulah Mentari memamerkan keindahannya. Untuk pertama kalinya, saya menikmati sunrise sempurna bulat. Dia muncul perlahan-lahan seperti telur yang hendak menetas. Mungkin ini ya salah satu rahasia Tuhan kenapa kita diperintahkan bangun pagi.

Menikmati Keajaiban Sunrise di tepi pantai Amed
Sunrise di Amed
Over all, menginap di Double One Villas Amed sungguh berkesan dan melengkapi liburan saya bersama sahabat IDC. Kamarnya nyaman, suasananya bikin betah, udaranya segar bebas polusi, dan pemilik juga petugas resort memperlakukan kami laiknya family. Ketika saya cek, ternyata resort ini sudah masuk dalam rekomendasi lonely planet lho...jadi memang sudah terbukti bagusnya secara internasional. 

Sebagai informasi, kamar di Double One Villas ini hanya 10 unit, dengan harga sewa kamar bervariasi antara 350 ribu hingga 700 ribu rupiah. Tergantung view kamarnya. Biasanya yang garden view villa akan jauh lebih murah daripada ocean view villa.

Double One Villas Amed, Highly Recommended!


Sunday, September 22, 2013

Pengalaman pertama backpackeran, Bandung-Solo



Memang sih, perjalanannya tahun lalu, tapi karena berkesan banget, baru saya tulis sekarang. hehehe....kata lain dari males nulis. Rencananya sudah matang sekali (baca: dadakan), bulan Mei 2012. Saya sama Bhekti dan Mbak Yanti akhirnya jalan-jalan ke Solo. Solo gitu looh... (*mulai norak). Ya, saya memang cinta sama kota yang satu ini (Hayoh we...bilang cinta ke semua kota di Indonesia). Kami memutuskan naik kereta. Karena saat itu saya awam naik kereta, di pikiran saya kelas-kelas dalam kereta api ya kayak di pesawat gitu. Ada kelas bisnis dan ekonomi. Berhubung mencari kenyamanan dan keamanan, akhirnya saya pilih kelas bisnis. Bhekti menatap saya takjub waktu saya bilang mau naik di kelas bisnis. Dia bilang gini, 

“Teteh yakin, beli tiket kelas bisnis?”

“Iya dongg...yakin banget. Kapan lagi coba bisa nyobain kelas bisnis?” Kata saya penuh percaya diri sambil ngitung duit di dompet, terus bayar deh ke loket. Tiketnya murah banget, cuma IDR 140ribu. Bhekti hanya manggut-manggut. Setelah itu, kami masuk stasiun, melewati kereta Malabar. Terus saya nowel lengan si Bhekti, 

Saya : Bhek, nanti tempat duduk kita kayak gitu kan? (Tanya saya antusias tentunya).

Bhekti : (*mengernyitkan kening) bukan lah, itu kelas eksekutif teh. Kita tuh, yang kayak gerbong di belakang. Yang kursinya nggak bisa diapa-apain, nggak ada ACnya, tapi pake kipas angin.

Saya : Haaaaahhh??? Yang bener aja bek? (*shock)

Karena saya nggak berniat jadi backpacker super ngirit kali ini. Saya juga nggak berniat untuk jajan sepanjang jalan karena banyak tukang dagang berseliweran (waktu itu PT. KAI belum melakukan perbaikan layanan).

Bhekti : Makanya tadi aku tanya teteh, beneran mau naik bisnis? Orang biasanya rewel gitu.

Saya hanya bisa menelan ludah. Menatap tiket di tangan sambil berucap “Ouch....” (si Bhekti puas banget mandangin wajah saya yang shock).
 

Baiklah, singkat kata kami sudah di kereta Bisnis Lodaya, dengan saya diketawain sama Mbak Yanti dan Bhekti. Saya hanya bisa meringis. Nggak bisa komen apa-apa lagi.


Kereta Api Lodaya, Kelas Bisnis Mei 2012

And the nightmare begun. Masuk Stasiun Kiaracondong, masih aman lah ya...cuma ada satu cowok duduk di sebelah saya. Masuk Stasiun Cipeundeuy, Innalillahi...itu pedagang menyerbu masuk. So, apa bedanya kelas bisnis dan ekonomi? Nggak ada bedanya! Wuidiiihh...mana pedagangnya galak pula. Saya sampai bingung nolaknya. “MIJON MIJON!!! AQUAAA!!! KOPI SUSU ABC!!! POP MIE POP MIEEE! PECEL-PECEEL! MIJOOON!”

Ya, mereka menyebut minuman berenergi Mizone dengan Mijon.

“TAHU TAHU! GEHU ANGEETT!!!”

“Neng, bade? Gehu anget?!”

Ini orang mau dagang apa nyekokin gue, ya? Pikir saya waktu itu. Habisnya, galak banget.

Saya sampai pengin bilang ke si mamang Gehu, Mang, sabar mang...keluarga menunggu dirumah. #Halah.

Sekitar sepuluh menit berhenti, kereta kembali melaju. Daaan...saya melihat Mbak Yanti dengan bahagianya lagi makan jagung rebus! Dan si Bhekti lagi senyum-senyum sambil makan pop mie. Aduh, dua orang itu. Si hobby makan. Padahal di stasiun Bandung tadi sudah makan *-*

Anyway...saya sama sekali nggak enjoy di jalan. Serangan-serangan pedagang makin membabi-buta. Belum lagi kipas angin yang bikin masuk angin, dan angin menembus lewat kaca jendela kereta yang pecah. Udah gitu, cowok di sebelah saya ini nggak asyik banget. Boro-boro bisa ngobrol. Wajahnya malah galau tingkat dewa. Setiap saya gerak sedikit, dia seolah mau makan saya. Wuaaa....ampun mas...ampuuun...

Walhasil, sepanjang perjalanan Bandung-Solo, saya nggak tidur sama sekali. Melalui kaca jendela, saya menikmati lampu-lampu, jalanan, dan berkhayal, andai aku bisa terbang...

Sampai Stasiun Tugu Yogyakarta jam setengah empat pagi. Nah, ini baru mulai bisa tenang. Hampir semua penumpang turun. Termasuk mas-mas yang duduk di sebelah saya tadi. Bahkan di gerbong ini hanya ada kami bertiga dan beberapa awak Kereta. Adrenalin mulai tumbuh. Wuih...Solo...I’m coming baby!!!

Norak? Bodo amat.

Jam lima...

Stasiun Solo Balapan. Langsung deh terngiang-ngiang lagunya Didi Kempot. Ning setasiun Balapan, Kutho Solo sing dadi kenangan, kowe karo aku...naliko ngeterke lungomu...

Hafal ya saya? Hehe...maklum, lagu itu kesukaan almarhum eyang kakung. Tiaaaap hari nyetel VCD campursari dulu.

Kami bersih-bersih di stasiun Solo Balapan, dimana kondisi toiletnya Kotor! Haduh, toiletnya sih sepertinya baru dibangun dan baru direnovasi. Tapi kayaknya nggak pernah dipel deh tuh.

Terus kami bertiga shalat shubuh di mushalla stasiun...sujud syukur sudah dikasih kesempatan ke Solo dengan agenda full vacation (*biasanya full kerja).

Stasiun Solo Balapan
Di depan stasiun, kami disambut supir taksi dan becak. Tapi kami menolak. Meskipun belum tahu letak Cakra Homestay, tempat kami akan menginap, namun kami memilih untuk jalan kaki dulu. beli jajan di minimarket, lalu duduk-duduk di depan minimarket tersebut sambil menikmati pagi. Indahnya...

Satu jam duduk-duduk, kami memutuskan naik becak. Bertiga! Tuh tukang becak pede banget ya? Dia bilang, “nggak usah dua becak, mbak. Sayang. Mendingan bertiga sekalian”. Haiyyah...challenge accepted! Berhubung saya paling kecil dan paling ringan badannya, maka saya yang dipangku. Alohaaa...paling tinggi deh posisi saya :D

Kami melewati jalanan yang masih sepi. Kelewat sepi malah. Maklum, kota kecil. Tapi saya seneng dengan nuansa kota ini. Ditambah naik becak dengan posisi tinggi seperti ini, bawaannya pengen dadah-dadah ala Kate Middleton.
Sekitar lima belas menit naik becak, sampailah kami di Cakra Homestay. Letaknya memang tidak jauh dari Jl. Slamet Riyadi. Tapi masuk gang gitu. Bayar becak cuma IDR 15ribu. Enaknya, Homestay ini tepat berada di kampung batik Kauman. Jadi kalau mau belanja batik tinggal melangkahkan kaki saja. Penjaganya juga ramah. Pak Wisnu namanya. Dia menyambut kami, lalu meminta kami untuk menunggu di sebuah pendopo kecil, di tepi kolam renang. Waaah...sejuk...

Di tepi kolam renang Cakra Homestay
Pendopo Tempat Latihan Gamelan, Photo By : Yanti Suprianti
Saya nggak menyangka, dengan harga hanya IDR 150rb/malam untuk kamar non AC, homestay ini punya kolam renang gede. Oleh Pak Wisnu, kami diminta untuk tidak berenang. Mungkin karena jarang dikuras kali ya? Saya lihat air kolam agak keruh. Atau mungkin juga karena kolam ini sering dipergunakan oleh bule-bule. Sedangkan kami bertiga berjilbab.

Apapun, saya cukup puas kok menikmati kolam renang hanya dengan memandangnya (*alasan buat orang yang nggak bisa renang).

Fasilitas kamarnya ada kipas angin dan kamar mandi dalam. Karena kami cuma bertiga, maka kami memutuskan untuk extra bed. Hanya saja kondisi kamar agak spooky sih menurut saya. Kami kebagian kamar di lantai 2, tidak disinari matahari, namun tertutup pepohonan nan rimbun. Nggak terlalu panas tapi agak pengap. Keadaan kamar juga agak kotor. Banyak sarang laba-labanya. Tapi...kamarnya luas. Tempat tidurnya juga bersih. Satu-satunya yang saya nggak suka adalah sarang laba-laba yang bertengger hampir di setiap sudut ruangan. Curiga, kamar yang kami pesan ini jarang dihuni. Soalnya kamar lain terlihat bersih. (*warning : rumput tetangga selalu lebih hijau, tapi hati-hati, Sintetis).

To be continue...