Search This Blog

Tuesday, April 16, 2013

Manado Trip


Perjalanan ke Manado ini sebenernya waktu tahun 2012, perjalanan saya kesekian kalinya ke Sulawesi Utara. Diantara banyaknya kota Indah di Indonesia, Manado adalah destinasi vavorit saya. Kenapa? Karena Manado tuh paket Komplit sodara-sodara! Buat kamu si pecinta pantai, maka Manado punya pantai yang menakjubkan. Pasir putih dengan garis pantai yang panjang.

Buat kamu pecinta alam bawah laut, Manado adalah salah satu surga buat snorkling atau diving. Buat kamu pecinta danau, Manado punya koleksi danau yang LUAR BIASA indah. Dan buat kamu pencinta gunung, Manado juga punya pegunungan yang nggak kalah gagah dari pegunungan di pulau Jawa ataupun Sumatera. Dan satu lagi, buat kamu-kamu pecinta kuliner, jangan diragukan deh. Masakan Manado maknyuusss!!! Dari ujung ke ujung semuanya enak. *Asal pinter milihnya yaa, karena banyak juga kategori masakan yang nggak halal buat orang muslim.

23 Agustus 2012...

Wew...saya sibuk nyiapin kerjaan tuh. Akhirnya baru bisa packing jam 10 malam. Saya sengaja ambil penerbangan pagi, jam 05.40. Karena apalagi kalau bukan mau menikmati Manado, Minahasa, dan Tomohon? Udah kangen banget sama Manado. Terakhir kali saya ke Manado tahun 2010.

Nah, karena saya berangkat dari Bandung, jam dua belas sudah dijemput tuh sama supir taksi. Siap meluncur ke shuttle travel di Cihampelas bawah, terus jam setengah satu capcus deh ke Bandara Soekarno Hatta. Tiga jam berlalu, akhirnya sampai di terminal 2F Soetta jam setengah empat. Langsung aja tuh saya cetak tiket, terus masuk ke ruang check in for GFF member (Biar nggak ngantri panjang-panjang). Soalnya bandara penuh banget tuh. Maklum, peak season. Banyak orang liburan, dan penerbangan memang mulai jam lima pagi, jadi counter check in dipenuhi orang yang buru-buru.

Mata saya ngantuk beratt....akhirnya saya cari kopi. Buat kamu-kamu yang seneng kopi praktis, bisa nyobain coffee maker otomatis. Cuma 5000 perak sudah dapat secangkir kopi. Tahun lalu sih coffee maker otomatis itu ada di terminal keberangkatan, tapi sekarang hanya bisa kita temukan di terminal kedatangan 2F (mungkin karena diprotes sama starbucks dll kali ya..mereka jadi kurang laku akibat adanya coffee maker ini). Kalau kita sudah check in, kita jalan dulu tuh ke terminal 2D, karena pintu Exit ada disitu. Terus turun lewat tangga yang ada di depan terminal. Wasting time? Iya. Tapi kan memang saya lagi pengen wasting time.  Maklum, masih pagi banget. Belum masuk waktu shalat shubuh juga.

Well, saya keluarin uang 5000, terus pilih tombol chocolatte, dann...cangkir keluar otomatis. Lampu nyala. Begitu lampu indikator mati, saya langsung ambil tuh si kopi tercinta. Saya punya banyak cerita lucu soal mesin ini. Nanti deh sekali waktu saya ceritain.

Saat-saat saya sendirian sambil minum kopi seperti itu merupakan saat-saat tervavorit buat saya. Setiap saya meneguk isi cangkir, saya memperhatikan keadaan sekitar. Hal yang tentunya nggak bakalan bisa saya temukan kalau saya memilih nongkrong di executive lounge. Alias ruang tunggu eksekutif yang memungkinkan kita duduk nyaman, bebas makan dan minum sepuasnya, ditemani siaran TV kabel atau majalah dan koran yang up-to-date. Di tempat saya duduk, saya bisa lihat ada orang yang lagi tidur di bangku tunggu, sopir taksi yang sedang menawarkan jasa, supir travel gelap, mbak-mbak dan mas-mas tukang parfum yang selalu menawarkan barang jajaannya, tukang beresin troli, porter, petugas kebersihan, petugas bandara, wah...mereka sudah mulai berdinas. Padahal jam baru menunjukkan pukul 03.50. Hebat ya mereka, demi sesuap nasi, rela kerja keras kayak gitu. Demi keluarga. Demi anak istri dirumah. Hiks....jadi terharu....

Makanya saya malu kalau sampai dari mulut saya keluar keluhan, kenapa kerjaan saya banyak, kenapa saya harus begadang dsb. Bukan apa-apa, saya sih kalau kerja keras dan begadang, ada yang bayar saya dengan sangat pantas. Makan terjamin, transportasi tinggal pilih, akomodasi ditanggung nyaman. Tapi mereka? Mungkin nggak tidur semalaman, belum makan, tidur juga dimana saja. Tapi lihat, mereka bisa tetap tersenyum. Menikmati hidup seadanya. Karena sering lihat yang kayak gitu, saya selalu nafsu pengen nonjok anak-anak yang malu sama profesi orang tuanya.  Tidak akan pernah berhasil jika seorang anak mengingkari usaha orang tuanya! Tidak akan pernah. Beneran, deh.

Oke, kembali lagi ke terminal kedatangan 2F Bandara Soetta. Prosesi saya minum kopi harus berakhir segera. Bukan karena kopi saya habis, melainkan karena adzan shubuh berkumandang. Sambil menggeret koper, saya cepet-cepet tuh naik ke lantai dua, menunjukkan boarding pass pada petugas, terus masuk mushalla yang ada di ujung, dekat dengan executive lounge. Alhamdulillah dapat shalat berjamaah. FYI...imam di mushalla ini bacaannya bagus banget. Tartil. Bikin kita khusyu. Dan...kondisi mushalla di terminal 2F juga nyaman. Mukenanya bersih, tempatnya bersih, dan orang-orangnya tertib. Saya shalat, nunggu di mushalla sampai jam 5, terus langsung masuk aja ke ruang boarding. Nggak pake lama, udah dipanggil tuh sama Garuda. Penerbangan GA-MDC jam 05.40 adalah penerbangan langsung. Jadi nggak pake transit dulu di Makassar. Karena pesawatnya langsung terbang lagi ke Ternate.

Berhubung jam segitu adalah padat karya (hehe..maksudnya jam penerbangan padat), maka pesawat yang saya tumpangin ngantri terbang. Ada enam pesawat yang ngantri, dan pesawat saya berada di urutan keenam. Belum lama pesawat yang saya tumpangi ini ngantri, tau-tau di belakang sudah berjajar tuh pesawat yang mau ngantri terbang. Berasa ada di Jeddah aja ya kalau kepadatannya begitu? Hehe...

  
Manado from the air

Mendarat di Manado jam 10.20 (Waktu Manado satu jam lebih cepat daripada waktu Jakarta). Dan...ternyata...
Kolega saya lupa menjemput saya sodara-sodara! Dikiranya saya terbang dari Jakarta jam 05.40 PM. Oke deh...tentu saja saya nggak panik. Toh kota Manado sudah sangat bersahabat dengan saya. Tadinya klien saya mau langsung capcus tuh ke Bandara buat jemput saya, tapi saya langsung telepon nggak usah jemput. Saya mau jalan-jalan dulu.

Kebiasaan saya kalau mendarat di suatu tempat, saya bakalan duduk, lihat situasi sambil lihat siapa tahu nemu supir yang cocok. Saya duduk tuh di deket tiang sambil chit-chat sama sohib di Jakarta. Baru aja duduk, saya ditelpon kantor pusat, katanya saya udah mau dijemput. Saya langsung bilang nggak usah. Tolong dibatalin aja jemputannya. Walah...orang-orang udah panik aja tuh karena mengira saya terlunta-lunta di bandara Sam Ratulangi. Padahal saya lagi asyik chattingan sama temen. Nggak sampai lima menit, ada cowok kira-kira seumuran saya, duduk deket saya. Kelihatannya dia capeeekk banget. Terus dia nanya,

“Mbak mau kemana?” tanyanya sopan.
“Mas punya taksi ya?” saya balik bertanya. Dia mengangguk antusias.
“Mau nggak nganterin saya ke Danau Tondano?”
“Mau Mbak!” sahutnya bersemangat.
Dan selanjutnya kami menyepakati harga. dia ngasih diskon lho...biasanya untuk jarak luar kota begitu kita bayar 350 per harinya. Nah, sama dia saya Cuma kena 300 ribu untuk sewa mobil, plus bensin skitar 100 ribuan lah...worthed banget lhoo buat perjalanan jauh gitu. Setara kayak dari Jakarta ke Bandung lah. Nggak sampai 5 detik, saya langsung Deal. Akhirnya saya diminta nunggu sebentar, sementara Mas-mas tadi ngambil mobilnya. Waktu mau naik mobil, kolega saya nelpon lagi tuh, kayaknya dia panik saya bakal nyasar. Saya harus jelasin berkali-kali kalau saya baik-baik saja, dan nggak usah merepotkan jemput ke bandara. Toh saya udah naik mobil. Saya bilang, kalau saya bersama teman. Hihihi...teman baru maksudnya...

Di jalan, saya kenalan sama supir baru ini. namanya Glenn. Lengkapnya Glenn Willar. Orang Manado memang gitu. Ramah. Kalau kenalan nggak setengah-setengah. Pasti dia sebut tuh nama lengkapnya. Terus dia cerita, kalau umurnya 28 tahun, udah tunangan, mau nikah tahun 2013. Lucu deh si Glenn ini. dia nanya ke saya,

“Mbak nggak takut jalan ke wilayah yang belum dikenal sama orang yang baru dikenal juga?”
 Mengingatkan saya ke pertanyaan Jul dari Makassar, seorang supir rental di Ternate (nanti saya ulas tentang perjalanan Ternate yaa)
Saya jawab pertanyaan Glenn dengan jawaban yang sama dengan pertanyaan Jul. “Saya masih punya Allah, jadi saya nggak takut. Kan saya sudah izin ke Allah kalau saya mau menginjakkan kaki lagi ke Tomohon.”

Saya nggak nyebutin tuh, tadi di Bandara saya memperhatikan Glenn dulu selama beberapa detik, sebelum akhirnya memutuskan mengajaknya ke Tomohon. Saya selalu percaya dengan yang namanya feeling dan chemistry. Dan saya percaya kalau Glenn orang baik dan menyenangkan.

Sepanjang perjalanan ke Tomohon saya disuguhkan pemandangan yang indah sekali. Kalau dari Manado ke Tomohon, maka jalan yang dilalui berliku-liku, mengitari bukit dan melewati rumah-rumah penduduk. Juga restaurant-restaurant yang menyuguhkan makanan khasnya. Saya masih ingat betul rute yang kami lewati. Ada satu rumah makan Minahasa. Berdiri di pinggir jalan, tapi di tebing gitu. Dari tempat parkirnya yang tidak seberapa besar, kita bisa lihat pemandangan seluruh kota Manado. Indaah banget. Kalau di Bandung tuh sama kayak kita berdiri di Caringin Tilu deh.

Soal restaurant ini, Saya pernah singgah disitu dua kali. Pertama tahun 2006, karena menemani teman saya membeli Paniki (Kelelawar) yang diolah dengan cara dibakar. Paniki ini adalah makanan khas Minahasa. Saya sendiri sama sekali nggak tertarik mencoba. Makanan lezat di Manado masih banyak, dan saya bukan peserta Fear Factor :D

Yang kedua tahun 2010. Tadinya mau makan disitu, tapi salah seorang kolega saya bilang, kalau disitu adalah restaurant Minahasa asli, jadi kami yang muslim nggak bisa makan disitu. Nggak halal soalnya...yo wis, akhirnya cuma numpang foto aja dehh...lumayan, dapet foto berlatar belakang kota Manado from the peak.

Dan ketika ketiga kalinya, saya Cuma berhenti sebentar buat nostalgia, terus melanjutkan perjalanan ke Tomohon. Pasar tradisional Minahasa sudah saya lewati, itu berarti Tomohon sudah dekat. Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan dari Bandara Sam Ratulangi, Glenn bilang saya harus segera makan siang. Karena di Tomohon nanti akan sulit mencari makanan yang halal. Oke dehh...akhirnya saya ngikut Glenn aja. Kami memilih sebuah warung yang menjual makanan khas Makassar. Warungnya bersih, dan pemiliknya asli orang Makassar. Tambah deh yakin kalau disini memang dijaga kehalalannya. Warung ini tepat berdiri di depan UKIT (Universitas Kristen Indonesia Tomohon).

Saya pesan nasi goreng teri, dan Glenn pesan nasi goreng ayam. Disini murah banget...makan berdua plus minum es jeruk dan teh manis cuma 35 ribu. Soal rasa, lumayan lahh...sangat bisa diterima oleh lidah saya.

Terus lanjut...ke tujuan pertama kami. Tempat indah vavorit saya, dan saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dulu...

Bersambung....

Monday, March 18, 2013

Pengalaman Pertama Mengajar (Mahasiswa)



Kalau episode lalu berkisah tentang awal mula sebuah cita-cita, episode hari ini adalah versi “beberapa tahun kemudian”. Setelah terbang kesana kemari, melanglang buana, jadi instruktur pelatihan di depan seluruh rektor dan wakil rektor PTN dan PTS se-Indonesia (ciyee gayaa #tsaahh)...cerita soal ini dibahas di lain waktu*) akhirnya, tahun 2010_beberapa tahun setelah saya bergaya sotoy di depan teman-teman kuliah saya, angin membawa saya kembali ke kampus tercinta. Beeh...angin...ya pokoknya gitu deh. Waktu itu saya (dipaksa) disuruh bapak buat menggantikan beliau mengajar. Masalahnya, bapak lagi keluar kota. *Langsung garuk -garuk kepala, gimanaaa ngajarnyaaa??? Kalau 2 tahun belakangan ngajar di depan bapak-bapak dan ibu-ibu kerasanya biasa aja, eeh pas disuruh ngomong di depan mahasiswa, deg-degan! Asli! Sampe curhat ke supir taksi doong...hehehe...aneh juga ya sayaah...

Udah gitu, supir taksinya sampe mendoakan saya segala lhoo sebelum saya masuk kelas. Masih inget banget tuh si bapaknya bilang gini, “Yang sukses ya neng ngajarnya, semoga dapet suaminya dosen juga nantinya.” Lhoo...kok nggak nyambung? Tapi melihat bapaknya tulus banget ngedoain saya, maka, dipagi yang cerah itu, di depan gedung kuliah baru, saya bilang amiiiinnn.... :D

Bismillah....dengan menyebut nama Allah, mudah-mudahan semua akan baik-baik saja, dan saya nggak dibantai sama anak-anak (mengingat dulu, waktu jaman mahasiswa saya tuh bandel banget, suka bikin dosen kesel sama saya). Menyempatkan diri sms ke nyokap, ehh malah nyokap jawabnya, “Lho, kan kamu biasanya juga ngajar kemana-mana. Kenapa tingkahnya aneh cuma mau ketemu mahasiswa aja?”

Haduuuhh....si mama nggak ngerti banget ya perasaan anaknya ini yang lagi takut kena karma! Huhu...akhirnya saya sms seseorang. Dia yang sangat saya percaya buat tempat saya sharing dulu :p

Dan jawabannya sungguh menenangkan hati...dia bilang, “kan kamu yang bikin bahannya, pasti kamu menguasai. Inget, kelebihan kamu dibanding anak2 adalah, kamu udah baca duluan materinya. Sedangkan mereka, baru akan denger dari mulut kamu. Peduli amat mereka itu anak jurusan teknik atau jurusan sosial.”
Oke oke, akhirnya saya beneran masuk ke dalam kelas, disambut pandangan mata “bingung” oleh para mahasiswa. Ya iyalaah...kenapa bapak dosennya yang killer berubah jadi wanita muda nan keren macam saya? Hahaha...*Narsis :D

Saya memperkenalkan diri seperti biasa (agak kaku karena biasanya ngajar bapak-bapak dan ibu2), tapi selanjutnyaaa....mengalir begitu saja. Laiknya air yang mengalir dari hulu ke hilir. Turun dengan mudahnya seperti sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.
Awalnya saya mengalami keringat dingin plus gemeteran, tapi selanjutnya...terserah anda mau menilai bagaimana. Tapi yang jelas, anak-anak semangat banget tuh nanyanya. Semua hal dikupas habis. Udah gitu, saya juga seneng jawabnya. Karena semua dalam jangkauan saya. Dan pertanyaan mereka bagus-bagus. Hari pertama ngajar, OKE.

Di kelas yang kedua juga oke.

Nah, kendala ada di saat ngajar di kelas yang ketiga. Kelas ini, agak berbeda dengan dua kelas lainnya. *Konon katanya, anak-anaknya pinter. Saat saya masuk, kelas berantakan. Bikin mood kacau saja. Udah gitu anak-anak terlambat (Hanya satu jam). Gile!!! Dulu saya kuliah disini, mana berani saya mbadung terlambat sampe sejam begitu? Harusnya masuk jam 1, jam 2 baru pada dateng. Oke, oke, sabar. Begitu udah kumpul semua, ada beberapa anak yang ngetes saya tuh kayaknya. Hehe...belum tahu mereka, saya paham banget pertanyaan model gitu. Pertanyaan yang bukan ingin tahu materinya, tapi pengen tahu jawaban dosennya bener apa nggak. *Salahnya, dia justru bertanya soal hal yang bener2 saya hapal sampe ngelotok dari A-Z. Hal yang saya tahu benar baik praktek dan aplikasi di dunia sebenarnya seperti apa. Akhirnya saya beberkan semua jawaban beserta contoh di lapangan. Runut. Detil. Lugas. Sehingga beberapa mengangguk setuju dan matanya nggak lagi mengejek saya. Berujung anak itu nggak beres2 nanyanya. Tapi pertanyaannya beda, jadi pertanyaan ingin tahu. Belum selesai, ada satu anak yang sepertinya masih belum puas ngetest saya. Sehingga akhirnya selama setengah jam lebih cuma terjadi dialog antara saya sama tuh anak doang. Bikin teman-temannya gelisah. Ckckck...dasar darah muda yaah...sepertinya dia nggak peduli sama teman-temannya. Lama-lama anak ini ingin memojokkan saya, tapi caranya justru membelokkan pikiran teman-temannya kepada hal-hal yang jauuuuh sekali diluar konten perkuliahan yang saya berikan. Sehingga saya tersenyum dan tercetuslah kalimat santun dari mulut saya. “Begini ya, baca dulu yang banyak, telaah dulu yang dalam, baru bicara sama saya lagi.” anak itu, langsung diam.

Tapi serius, saya justru menganggap dia itu anak yang cerdas. Kenapa? Karena dia ngerti kalimat implisit khas saya. Padahal saya sering lho ngomong gitu ke lawan bicara saya, dan mereka nggak ngerti. Dia, langsung menangkap. Dan sepertinya tersinggung saya ngomong gitu. Selanjutnya, dia tidak lagi mencecar, tapi mengemukakan ide-ide yang bagus. Bikin saya respek sama kecerdasannya. Hmm...sayangnya anak secerdas ini tidak diiringi attitude yang bagus. Menurut saya, dia masih menganut hal, “Belum tua, belum boleh bicara”. Sayangnya lagi, di UTS dan UAS kelas ini justru mendapatkan nilai yang membuat saya mengelus dada sambil bolak-balik ngecek, jangan-jangan saya keliru memeriksanya. Padahal soal yang saya buat sungguh-sungguh mudah. Ada beberapa bahkan kelihatan banget saling mencontek. Astaghfirullah...

Belajar dari situ, maka di angkatan selanjutnya setiap mata kuliah saya, para mahasiswa seringkali (bahkan selalu) saya bekali dengan pembangunan karakter, atau attitude. Saya maklum di angkatan sebelumnya banyak yang attitudenya belum cukup baik, karena tidak ada pembekalan khusus buat itu. Beda sama angkatan saya dulu yang full pisaaann sama yang namanya pendidikan karakter. Di kelas, di jurusan, di kegiatan himpunan mahasiswa, di BEM, di pusat, di Job Placement Center, Semuaaaa belajarnya adalah Character building. Saya sampe punya banyak sertifikat soal hal ini. pokoknya attitude is everything dehh. Jauh lebih penting daripada IPK. Dan itu terbukti sodara-sodara! Sangat-sangat ampuh! Karena buat apa otak pinter tapi nggak bisa kasih contoh yang baik? Ujungnya dia hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri. Padahal manusia adalah makhluk sosial yang sejatinya saling membutuhkan. Saling memberi, saling menerima, saling menghargai satu sama lain. Karena kita nggak tinggal di hutan yang tak berpenghuni, nggak bisa lahh kita bersikap seenaknya sendiri.

Hmm...itu sharing saya buat anda para pengajar muda. Segala sesuatu, yang pertama pastilah jauh dari sempurna. Tapi percayalah, hal itu yang bakal membuat anda teringat sampai mati. Bahkan bagi kaum yang berpikir, hal tersebut adalah pelajaran berharga untuk bahan perbaikan di masa yang akan datang. Ada baiknya juga biarkan para mahasiswa mengutarakan ide dan ekspresinya. Seringkali ide mereka bagus-bagus lho...bikin kita terinspirasi. Bisa belajar sekaligus mengajar. Satu lagi, dengarkan ketika mereka curhat. Menandakan kalau kita ada untuk mereka. Dan itu gunanya seorang pengajar, kan? Selagi kita bisa meluruskan sesuatu, kenapa tidak?

Buat anda yang masih mahasiswa, cobalah untuk melihat pengajar dari “isi” bukan tampilan. Karena bisa jadi seseorang yang masih muda justru kapabilitasnya jauh jauh melebihi yang sudah senior sekalipun.

Oke dehh...sekian dulu, sekarang saatnya ngimel bahan kuliah buat mahasiswa belajar besok...

Thursday, March 14, 2013

Awal Mula Sebuah Cita-Cita




Lagi pengen Flashback. Mengenang sejarah kenapa saya sampai disini saat ini. Sejarah lho yaa...bukan masa lalu. Kalau sejarah itu patut dikenang, diingat, diresapi. Sedangkan masa lalu hanya pantas dijadikan spion. Alias sebagai bahan pelajaran kalau mau mengambil keputusan di masa kini, dan masa depan. Berat amir ya bahasanya...oke dehh cekidott:

Mungkin sekitar tahun 2000, saat saya SMA ada yang namanya penyuluhan siswa. Maklum, SMA saya adalah sebuah SMA Khatolik yang peraturannya super ketat. Hampir 70 persen gurunya killer. Tapi yang kacau, saya dan kawan-kawan masihhh aja berani-beraninya dateng telat dan bandel. Mungkin itulah yang membuat pihak yayasan mengadakan acara penyuluhan dan pembenahan siswa di setiap awal caturwulan (dulu masih caturwulan). Sekarang namanya semesteran ya???

Nah, biasanya tuhh...saat penyuluhan siswa adalah saat terindah saya buat tidur. Toh nggak kelihatan. Hampir 300 siswa dikumpulkan di Aula sekolah yang bergaya Gereja Vatikan gitu deeh. Gede banget. Dengan langit-langit yang tinggi, pepohonan rindang di sekitarnya, dan angin sepoi-sepoi.  Nggak salah dong kalau otak saya “memerintahkan” sang mata buat terpejam.

Tapi tidak untuk penyuluhan hari itu. Saya nggak pengen tidur. Kenapa? Bahasan penyuluhannya tak lagi soal disiplin, hukuman buat yang melanggar aturan, soal seragam yang harus rapi, anti narkoba dan lain sebagainya. Hari itu, di jam itu, narasumbernya adalah guru kami sendiri. Dia guru bahasa Inggris yang bijaksanaaa banget. Namanya Bapak FX. Muridno. Bahasannya soal...

CITA-CITA.

Saya memang orang yang bercita-cita yang setinggi langit. Meskipun dilahirkan bukan dari keluarga yang kaya, otak dan hati saya kaya raya akan mimpi. Saya nggak mau sama dengan yang lain. Selalu nggak mau sama. Pemikiran saya juga nggak mau sama kayak temen-temen saya. Pokoknya, saya menetapkan dalam diri saya, kalau sepuluh tahun lagi, saya harus jadi SESUATU dan menghasilkan SESUATU.

Oke, kembali lagi ke acara penyuluhan. Pak Guru bertanya siapa yang mau jadi Polisi? Tentara? Pedagang? Dokter? PNS?
Seru banget lah. Teman-temanku mengacungkan jarinya di “post cita-cita” mereka. Sedangkan saya, tidak satupun dari pilihan yang diberikan Pak Guru, sesuai dengan cita-cita yang saya inginkan. Terakhir, Pak Guru memberikan pilihan. “Siapa yang mau jadi Guru?”
Tiba saatnya saya tersenyum, lalu dengan tinggi saya mengacungkan tangan.
Ya. Saya ingin jadi seorang Guru.



Sebuah cita-cita, yang ada dalam alam bawah sadar sejak saya masih duduk di kelas dua SD. Kala itu, hampir tiap hari saya main guru-guruan, dan saya jadi gurunya. Dan cita-cita tersebut saya sadari penuh begitu saya duduk di bangku SMP.

Ternyata, saat itu...saya jadi satu-satunya siswa yang mengangkat tangan. Hanya saya satu-satunya yang bercita-cita jadi guru. Beberapa kawan tertawa melihat saya. Lho, kenapa? Tidak ada yang salah dengan profesi guru. Sebuah profesi yang sangat mulia, bahkan jadi ladang amal buat saya. Kalau saya jadi seorang guru, maka kelak jika umur saya habis, ilmu yang saya sebarkan akan terus memberikan syafa’at buat saya di alam sana. Hal yang tentunya tidak bisa saya dapatkan jika berprofesi bukan Guru. Pemahaman saya saat itu, saya hanya bisa mencapai posisi sebagai Guru. Karena ketidak-familiar-an saya dengan bahasa. Belakangan saat saya kuliah saya baru tahu, lebih tepatnya, cita-cita saya adalah jadi pengajar. Artinya, saya nggak hanya mengajar anak-anak yang duduk di sekolah SD, SMP, atau SMA. Saya juga bisa mengajar dimanapun, dengan audiens yang beragam.


Saya juga nggak peduli tuh waktu diejek, “Jadi guru itu harus siap miskin.”
Saya jawab, “Nggak apa-apa miskin, yang penting hatinya kaya.”
“Kamu siap miskin?”
“Kata siapa saya akan miskin? Namanya rejeki kan bisa datang darimana saja. Kan banyak guru yang kaya.”

Pede banget ya saya?

Lebih pede lagi, ketika saya kuliah. Di saat jeda pergantian mata kuliah, saya tuh hobby banget duduk di kursi dosen. Saking hobbynya, hampir semua dosen tahu kebiasaan saya itu. Bahkan ada satu dosen yang memergoki saya lagi sok mengajar di depan kelas. Ngajarin temen-temen saya gitu. Terus si bapak ini ngasih sebundel materi ke saya. Judulnya saya masih ingeet banget. “Bersikap Asertif dalam Bekerja”. Besok paginya saya disms, “kamu kasih materi itu di jam mata kuliah saya.” Suruh presentasi dengan persiapan minim? Saya melotot kaget. Tapi seneng. Tantangan doong disuruh ngasih materi dan ngajarin temen-temen saya.  Meskipun temen-temen saya juga hampir setiap hari "saya paksa" dengerin “mata kuliah” saya. Selalu saya bilang,  “teman-teman...nanti kalau anak kalian kuliah disini, saya yang ngajar yaa...” dan teman-teman saya, entah kasihan atau malas meladeni, mereka menjawab. “Aaaamiiiiiinnn....” hihihi...lucu ya mereka.Tuh foto-foto mereka :



Gaya kan mereka? Kelas 3 Marketing A yang selalu kompak dengerin ibu dosen gadungan macam saya. Nah, kalau lagi di kelas, tingkahnya tuh gini nih :



Lihat deh, itu ibu dosen benerannya (Ibu Amalia, justru ada di belakang). Sementara kita-kita, asyik sendiri main dosen-dosenan sama main sekretaris-sekretarisan. Itu lagi nyoba mesin ketik elektronik. jaman dulu keren banget tuh...meskipun sekarang juga masih sering dipake buat ngisi SPT.

Itulah awal mula kenapa saya bercita-cita jadi pengajar. Ceritanya sampai disini dulu, dilanjut dengan materi : Karena Mengajar itu Indah. Pada jam, tempat, dan waktu berikutnya.




Wednesday, March 13, 2013

Aurat oh Aurat!


Nggak bisa ditawar. Seorang wanita, kalau dia mau selamat dunia akhirat, silakan jaga penampilan. Agama memerintahkan agar para wanita menjaga aurat dan kehormatannya. Kenapa sih? Ya iyalah, seorang wanita yang penampilannya sederhana saja sudah menarik perhatian. Apalagi kalau diumbar? Berapa banyak tuh mata yang “belanja” akibat ulahnya?

Nggak usahlah lihat artis, sekarang anak-anak abege yang entahlah dia dapat inspirasi darimana, pakai hot pants dua jengkal di atas lutut, dipadu padankan dengan tank top tali lidi yang sebenernya difungsikan buat kaos dalem, terus rambut panjang disambung, bulu mata dikeriting, bibir dimaju2in terutama saat difoto, dann...giginya dipagar pula. (no offense ya, bukan maksud menyinggung anda2 yang berbehel). Oke lah kalau pake behel dari dokter gigi. Lha ini, beli behelnya aja di abang2 tukang aksesoris yang biasanya mangkal di depan sekolahan. Kalo bibirnya kejepit saat makan gorengan apa nggak bahaya tuh? Atau bahkan, di suatu saat kelupaan lantas tertelan bagaimana?

Ouch...sungguh tren yang sangat keliru. Parahnya lagi, dengan penampilan seperti itu mereka banyak mejeng di mall, di saat car free day, bahkan naik angkot! Hallo...saya aja sebagai cewek lihatnya malu, ngelus dada. Kok ya mereka nggak risih dilihat begitu banyak cowok. Termasuk disini adalah mamang supir angkot, abang becak, mamang tukang sayur, mamang tukang ojek, dan mamang2 lainnya. Terus nantinya, apa nggak rugi tuh cowok yang dapetin cewek model beginian? Hiiyy....bekas diliatin orang.

Last but not least, bagaimana pertanggungjawaban di hadapan Tuhan nanti? Tubuh ini kan sejatinya bukan punya kita. Jiwa, raga, dan nyawa ini barang titipan, yang kelak pasti kembali pada pemiliknya. Kalau dirusak dan tidak dijaga, bagaimana reaksi pemiliknya nanti? Kita saja yang menitipkan barang di swalayan, kalau kreseknya kusut sedikit atau barang kita ditaruh dengan asal-asalan sudah ngomel. Kalau sampai tercabik-cabik bagaimana?

Silakan dipikirkan dan diresapi dengan baik. Buat para wanita, buat anda yang punya saudara perempuan, buat para orang tua yang punya anak gadis, dan tentunya, buat diri saya sendiri.

Arum Silviani