Search This Blog

Thursday, December 31, 2015

Pagi terakhir di Belitung : Mengenal Gang Kim Ting, Kopi Legendaris Atet, dan Geliat Pagi di Tanjung Pandan




Rangkaian Solo Traveling ke Belitung

Pagi itu, pagi terakhir saya di Belitong. Karena rencananya, pukul 11.30 saya sudah harus terbang ke Jakarta. Kembali, saya diajak Pak Hasmin untuk menikmati pagi dengan minum kopi di warung kopi legendaris, Kopi Atet.
Gang Kim Ting, kawasan Pecinan di Kota Tanjung Pandan
Saat saya keluar penginapan, saya berjalan menyusuri ujung Gang Kim Ting, dimana kedai Kopi Atet berada. Suasana pasar sudah ramai, namun suasana Pelabuhan masih tenang. Saya memotret suasana pagi di sekitar pelabuhan, kuil, dan juga geliat masyarakatnya menyambut pagi. Disini, etnis melayu dan etnis Tionghoa berbaur laiknya tak ada perbedaan diantara mereka. Semua adalah warga Belitung. Mereka tertawa bersama, minum kopi bersama, juga bercengkrama bersama tanpa memandang apa jabatan mereka, apa sukunya, dan dari golongan mana dia berasal. Semua terlihat sama, setara, serasi, dan setimbang. Indah, bukan?

Hanya sekitar 2 menit berjalan kaki, saya sudah sampai di Kedai Kopi Atet. Pagi ini kedai sudah ramai dipenuhi pelanggan setianya yang rata-rata, bapak-bapak. Kaum perempuan lebih suka menikmati kue-kuenya, dan itupun mereka bawa pulang kerumah. 

Kedai ini memang sederhana, namun rasa kopinya luar biasa. Dari sekian banyak kopi Belitong yang saya nikmati, Kopi racikan Kakek Atet adalah yang terbaik dan terenak. Tak salah Pak Hasmin mengajak saya kemari. 
Kakek Atet
Kakek Atet ini seorang keturunan Tiong Hoa yang sudah membuka kedainya selama kurang lebih 40 tahun. Usianya sudah lanjut, namun senyum dan semangatnya membuat saya kagum. Beliau sangat ramah dan sabar dalam melayani para pelanggannya. Tak sedikitpun kelelahan nampak di wajahnya, tetapi justru Ia terlihat sangat bahagia saat tangan lincahnya meracik kopi. Padahal Ia sudah membuka kedainya sejak jam 04.00 pagi hari demi melayani pedagang yang berjualan di Pasar Tanjung Pandan, juga para nelayan yang baru bersauh dari melaut.

Dulu, Kakek Atet berjualan sejak jam 04.00 pagi hari hingga jam 11 malam. Namun karena beliau sudah sepuh dan fisiknya tak lagi kuat seperti dulu, maka anaknya turut membantu. Kakek Atet hanya melayani pelanggan dari jam 04.00 hingga jam 08.00 pagi. Premier time katanya. Saya sendiri beruntung bisa menikmati kopi racikan Kakek Atet di jam premier ini. 

Kopinya yang disajikan berasal dari Manggar, tempat dimana Kopi Belitong dihasilkan. Di Kedai Kopi Atet ini, selain kita bisa membeli kopi racikan yang lezat, kita juga dapat memesan kopi bubuk. Tapi jangan lupa, pesan sehari sebelumnya.

Harga kopi per gelas di tempat ini Rp. 4000,- s.d Rp. 5000 saja. Tersedia kopi hitam dan kopi putih (kopi susu). Murah meriah. Selain itu, kita juga bisa menikmati kudapan ringan seperti kue basah, gorengan, maupun snack. Tinggal pilih, tinggal bayar. Tidak ada yang mengawasi disini, semua hanya berlandaskan kejujuran. 

Kalau anda berkunjung ke Belitong, pastikan anda mampir ke Kedai Kopi ini. Terletak di ujung Gang Kim Ting, sebelum Pasar Tanjung Pandan. Tanya saja Kedai Kopi Atet, pasti semua orang akan menunjukkan anda ke tempat ini. 

Salah satu kedai Kopi terkenal lainnya di Tanjung Pandan adalah Kopi Kong Dji. Namun karena kedai Kopi Kong Dji sudah terhitung modern, maka harga yang ditawarkan pun lebih tinggi. 

Setelah saya menikmati kopi dan ngobrol dengan warga sekitar, saya pun membeli oleh-oleh di salah satu kios sekitar Pasar Tanjung Pandan. Apalagi kalau bukan Terasi dan Lada Putih? 

Satu besek terasi ukuran kecil dihargai Rp. 50.000, dan 1/4 kg Lada Putih dihargai Rp. 50.000. Terasinya terbuat dari udang asli, dan rasanya sangat lezat. Lada Putih juga berbeda rasanya dengan lada putih yang biasa saya nikmati di pulau Jawa. Lada putih khas Belitong terasa lebih segar, lebih pedas, dan tidak ada rasa pahit sama sekali ketika dicampurkan di masakan. Pantas saja kalau lada dari sini sangat terkenal. Highly recommended buat anda untuk mencobanya.

Tuesday, December 22, 2015

Jalani dengan senyum

Buat orang2 yang bekerja di dunia profesional, Senin identik menjadi hal yang sangat menyebalkan. Betapa setelah liburan, merilekskan pikiran dan mengistirahatkan badan, harus langsung berangkat ngantor subuh2. Nyampe kantor langsung "diseneni" pula sama bos (baca: briefing pagi untuk agenda kerja seminggu). Beres "diseneni" langsung banting pantat di kursi kerja masing2, sambil menghela nafas. Hhhhh....

Mungkin banyak yang nggak sadar, perbuatan barusan adalah yang paling menghabiskan energi. Belum apa2 sudah menghela nafas, sudah pula pasang wajah mengkerut. Walhasil kreatifitas dan semangat kerja pun bakal terbang bersama burung-burung di angkasa (hiperbola versi lebay).

Efeknya lagi, karena ngga ikhlas, kerjaan pun nggak beres2 dan nggak ada habisnya. Hanya mendatangkan keriput di wajah dan uban di kepala sebelum waktunya. Ditambah lagi wajah bersengut yang bikin orang lain nggak betah ngeliatnya. Bikin atasan nambahin beban kerjaan lagi karena dia males liat karyawannya bersengut di depan dia, sehingga dia berpikir, lebih baik tuh orang bersengut di depan komputer daripada di hadapan gue. 

Coba deh kita liat dari persepsi yang beda....
Bahwa kerja adalah bukti cinta kita sama Tuhan. Namanya juga cinta, pake senyum kan ya...masakan aja kalau dibuatnya pakai cinta jadi enak rasanya. Gitu juga sama kerjaan. Ketika dijalani dengan senyum, insyaAllah jadi ringan ngerjainnya. Bagus pula hasilnya. 

Terus gimana kalo nggak bisa cinta sama kerjaannya?

Ada hadist sahih mengatakan, "jangan berlama-lama dalam keadaan tidak baik" Kalau nggak bisa cinta dan jatuh cinta sama kerjaannya, ya tinggalin aja. Cari kerjaan yang kamu cintai. Yang bisa bikin kamu ikhlas.

Tapi...usia udah segini, mana ada perusahaan yang mau nerima?
Ah sayang, jabatan udah tinggi.
Duh, udah terlanjur jadi PNS. Mau gimana lagi?

Maaf-maaf kata ya, kalimat diatas biasanya tercetus dari mulut orang2 yang pengeluh. Yups, hanya pengeluh yang nggak punya kapabilitas apa2. Nggak punya keberanian, dan hanya berani ngomong di belakang. Omdo istilahnya. Makanya dia khawatir nggak ada perusahaan lain yg mau terima. Makanya dia nggak ikhlas kerjanya. Makanya juga dia nggak percaya sama kemampuan dirinya yang sudah dianugerahkan oleh Tuhannya. Kategori ini juga selalu lupa caranya bersyukur, sehingga seolah semua jalan buntu. Padahal mah dibuntu-buntuin supaya punya alasan buat selalu mengeluh.

Yuk ah, kita coba untuk mengawali hari dengan tersenyum. Bahasa universal yang santun dan indah, juga paling mudah untuk dilakukan, oleh bayi yang baru lahir sekalipun. Kalau beban kerja terasa menghimpit, inget2 aja Tuhan selalu berkata, "Maka nikmatKu yang mana yang bisa kau dustakan?"

Masa nggak percaya?

Udah dikasih nafas, dikasih udara gratis, masih aja ngeluh. Malu dong sama kembang. Nggak bisa jalan aja dia selalu mekar demi membuat orang lain tersenyum melihat keindahannya. Bukti tasbihnya sama Yang Maha Kuasa. 

Sekarang balik lagi ke laptop deh. Tarik nafas panjang, terus senyum.
Bilang, terima kasih Tuhan, sudah Engkau mudahkan aku sampai ke posisi yang sekarang ini. Maka mudahkanlah selalu langkahku untuk menapak ke posisi terbaik menurutMu, hingga aku kembali ke sisiMu.

Have a nice work

Thursday, December 10, 2015

Tanjung Batu, Dermaga Indah di Ujung Pulau Belitong

Rangkaian Solo Traveling ke Belitong


Masih di hari ke-3 jalan-jalan saya ke Belitong, setelah puas menyambangi Pantai Batu Berahu, Pantai Tanjung Kelayang, dan Pantai Tanjung Tinggi, saya kembali ke Penginapan Surya. Rencananya, Pak Hasmin akan menjemput saya jam 16.00, untuk melihat Dermaga yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Padahal Pelabuhan ini sudah selesai dibangun semenjak 11 tahun yang lalu.

Namanya Dermaga Tanjung Batu, atau nama resminya Pelabuhan Tanjung Batu. Pelabuhan ini berjarak sekitar 30km kali ya...jauh banget rasanya. Hampir 1 jam saya berkendara motor dengan Pak Hasmin. Bedanya juga dengan jalur pantai Tanjung Pandan, jalan yang dilalui menuju Pegantungan (Tanjung Batu) teramat-sangat sepi. Dan karena saya datang saat musim kemarau, maka saya menemukan banyak titik api di sepanjang perjalanan. Dedaunan kering menjadi mudah sekali terbakar ketika terkena sinar Matahari. Meskipun demikian, jalan aspalnya mulus tanpa lubang, sehingga menyebabkan banyak kendaraan melintas dengan kecepatan tinggi.

Begitu saya memasuki Pelabuhan, saya disambut oleh Gerbang megah ini :

Gerbang Masuk Pelabuhan Tanjung Batu
Dermaganya luar biasa Panjang kalau menurut saya. Mungkin karena belum beroperasi penuh kali ya...dan juga belum banyak kapal bersandar. Saat saya menyusuri dermaga, banyak orang di sebelah kanan dan kiri kami. Mereka sedang memancing ikan. 

Kata mereka, gampang dapat ikan jika memancing disini, karena sama dengan mancing di tengah laut. Cuma kalau menurut saya bahaya banget ya, apalagi pas musim hujan, karena licin banget kelihatannya.

Long way in Tanjung Batu Port
Kapal Ferry yang sedang mengisi BBM di Tanjung Batu
Sampai di ujung dermaga, saya merasakan angin bertiup sangat kencang, sampai rasanya badan saya mau ketiup gitu. Saya juga nggak bisa lihat tuh pangkal dermaga yang tadi saya lewatin, saking panjangnya dermaga ini. Dan baru terasa bahwa saya sedang berada di tengah laut, tempat kapal-kapal besar bersandar.

Kelihatan PLTPnya
Sunset di Tanjung Batu
Kurang lebih setengah jam saya foto-foto di Tanjung Batu. Menikmati udara segarnya, juga angin laut yang luar biasa kencang berhembusnya. Karena hari mulai gelap, saya pun diajak Pak Hasmin untuk segera kembali ke Tanjung Pandan. 

Pelabuhan Tanjung Batu menawarkan panorama menarik yang tidak biasa. Koridornya membawa kita lebih dekat dengan tengah lautan tanpa harus menaiki kapal besar. Sensasi yang dirasakan juga jauh berbeda jika kita mengujungi pantai lainnya di Pulau Belitong. Enaknya lagi, masuknya nggak pakai bayar retribusi, alias gratisan. hehe...


Ikuti perjalanan saya selanjutnya di Pulau Belitong....
 


Tuesday, December 8, 2015

Welcome to Belitong

Rangkaian Solo Traveling ke Belitong

Welcome to Belitong, Tanjung Kelayang Beach

Welcome to Belitong!

Kalimat itu menyambut kedatangan saya di Pantai Tanjung Kelayang. Berjarak sekitar 27 km dari Tanjung Pandan, pantai ini menawarkan pesona kecantikan alami dengan bongkahan-bongkahan batu granit raksasa. Pasir putihnya membentang luas dengan perahu berjajar di dermaganya. Letak pantai yang strategis membuatnya menjadi tempat persinggahan Sail Belitong 2011 lalu, juga dermaga tempat bersauhnya perahu yang akan mengantarkan wisatawan untuk Hoping Islands. 

Dari pulau ini kita bisa melihat Pulau Batu Garuda, karena bentuk batu granitnya menyerupai Burung Garuda. Selain itu, Pulau Babi juga terlihat jelas dari sudut pantai Tanjung Kelayang.

Pulau Batu Garuda
Bagi wisatawan yang ingin Hoping Islands, biasanya mereka diajak menyusuri lima pulau dalam satu hari, yaitu Pulau Batu Berlayar, Pulau Pasir, Pulau Burung, Pulau Babi, dan Pulau Lengkuas. Untuk hoping islands kita bisa menyewa perahu dengan biaya IDR 400.000/hari. 

Namun kali ini, saya memilih untuk menikmati keindahan panorama pantainya saja. Menikmati aroma laut sambil bercengkrama dengan warga sekitar. Membahas hal remeh-temeh seperti kehidupan sehari-hari, kondisi pariwisatanya, dan budayanya. 

Yuk, kita lihat foto-foto selanjutnya :

Bongkahan Batu Granit
Foot Selfie is a must for Solo Traveler

Batu Granit yang terserak di Pantai Tanjung Kelayang
Hamparan Pantai Tanjung Kelayang

Setelah puas menikmati Pantai Tanjung Kelayang, saya melanjutkan perjalanan ke Pantai Tanjung Tinggi, tempat syuting utama yang menjadi Brand Laskar Pelangi. Nggak terlalu jauh, mungkin sekitar 15 menit, sudah sampai deh ke tempat tujuan. 

Saat masuk ke Pantai Tanjung Tinggi, saya disambut tugu seperti ini :

Monumen Laskar Pelangi
Bukti bahwa tempat ini dijadikan tempat syuting film Laskar Pelangi. Untuk masuk ke tempat ini, kita nggak dikenakan biaya retribusi. Masuk saja dan nikmati panorama dan pesonanya.

Setelahnya, Pak Hasmin mengajak saya ke tempat indah ini....yang mungkin nggak bisa kita temui di seluruh pantai Indonesia. Karena memang Pantai Tanjung Tinggi ini khasnya adalah batu granit yang super besar dan indah. Saya nggak begitu oke mendeskripsikannya, jadi lihat foto-fotonya aja ya...

Dan...foto-foto yang saya pajang ini jauuuuh lebih indah kalau kita lihat aslinya. Maklum, keterbatasan keterampilan motret plus kameranya yang cuma kamera pocket.








Pantai Tanjung Tinggi siang itu hening, tak banyak pengunjung yang menyambanginya pada weekday. Menambah kesyahduan hamparan pasir putih dan ombak yang saling menyapa lembut.

Life is like walking in a long corridor. You can just follow the way, or you will cracks that corridor. Or...if you belief in God, you will see the lights from heaven that illuminates every step of you.

Masuk ke tempat ini nggak ditarik biaya retribusi sama sekali. Kita tinggal masuk saja, lalu nikmati keindahannya. Sayang, tempat ini belum dilengkapi fasilitas tempat bilas, atau toilet untuk menunjang kenyamanan pengunjung. Mungkin kelak kalau saya balik lagi kesini fasilitasnya sudah dibenahi ya...

Tips Solo Traveling :
Nggak usah takut, insyaAllah Tuhan selalu bersama kita para musafir. 
Terus katanya suka khawatir kalau jalan sendirian nanti foto selfienya gimana? 
Pas membayangkan, saya juga agak ragu gimana caranya saya bisa foto-foto selfie mengingat saya sendirian. Tapi kenyataannya gampang banget. Kita bisa bawa tripod, itu kalau yang punya ya...tapi kalau nggak punya tripod atau tongsis, anda bisa berinteraksi dengan pengunjung lain, atau warga setempat. Sebagian besar foto selfie saya diambil oleh guide, warga setempat, bapak ojek, menggunakan fitur smile detection, bahkan beberapa kali juga foto saya diambil oleh fotografer beneran loh. Malah kalau menurut saya, traveling sendirian itu bisa lebih membumi. Karena kita melatih diri untuk nggak egois. Salah satu kekurangan wisata berkelompok adalah, kita suka lupa menyapa warga sekitar karena sibuk komentar ini itu dengan teman sendiri. But its up to you ya...kembali lagi ke pribadi masing-masing :D

Di pantai Tanjung Tinggi, waktu saya lagi motret, ada fotografer yang lagi motret prewedding juga. Saat dia break, dia malah nawarin motret saya. Katanya buat kenang-kenangan di blog nanti hehe...


Bersambung : Dermaga Tanjung Batu


Wednesday, December 2, 2015

Resep Lemongrass, herbs and spices beverage, minuman tradisional yang menyehatkan

Kali ini saya akan membuat lemongrass and herbs beverage, ramuan menyehatkan dan berkhasiat yang berbahan dasar rempah Indonesia. Saya membuat ini diilhami oleh negeri kita yang kaya akan rempah, sampai-sampai kalau sakit pun nggak perlu harus ke dokter. Cukup masuk dapur, dan lihat apa saja yang bisa dimanfaatkan.

Ini bahan-bahan yang saya gunakan :

2 batang sereh, memarkan
Satu ruas Jahe, memarkan
4 cm Kayumanis
5 butir cengkeh
6 sdm Madu
1 buah jeruk lemon lokal, ambil sarinya.
1 buah gula merah, iris tipis.
Gula batu sesuai selera
4 cangkir air (sekitar 600ml)

Cara membuat :
Panaskan air, masukkan Sereh, Jahe, Kayumanis, dan cengkeh, lalu tunggu hingga mendidih. Setelahnya masukkan gula merah, gula batu, dan sari lemon. Aduk hingga semua bahan merata, tunggu 3 menit, angkat.
Masukkan ke dalam gelas/cangkir. Setelah itu baru masukkan madu.

Jangan gunakan sendok berbahan besi, logam, aluminium atau stainless untuk mengaduk madu ya...karena ketika madu bertemu dengan logam, maka akan menimbulkan reaksi kimia sehingga menghasilkan senyawa beracun. Terus juga, kalau kita mencampur madu dengan air, sebaiknya menggunakan air hangat seperti yang telah diajarkan Rasulullah SAW, disarankan juga air madu tersebut langsung dihabiskan, jangan disimpan atau dinanti-nanti minumnya.

Anyway...ini dia hasilnya :

Lemongrass and herbs

Rasanya enak banget kalau buat saya. Apalagi dikonsumsi saat musim hujan begini. Selain menghangatkan, juga menyembuhkan migrain. Bahan-bahan yang digunakan pun alami dan sudah terbukti banyak khasiatnya.

Pertama sereh. Tumbuhan yang mudah ditemukan di sekitar kita ini bermanfaat untuk kesehatan seperti dapat membantu  mengurangi gangguan lambung, insomnia, gangguan pernafasan, demam, nyeri, infeksi, rematik dan edema. Pertahanan Antioksidan ramuan sereh akan membantu untuk mempertahankan tingkat kolesterol, kesehatan selular, sistem saraf, kulit yang sehat dan sistem kekebalan tubuh. Sereh juga efektif dalam mengobati diabetes tipe 2, kanker, obesitas dan membantu detoksifikasi. Hal ini banyak digunakan dalam aromaterapi dan membantu untuk mengurangi kelelahan, kecemasan dan bau badan. sumber (http://www.tipscaramanfaat.com/manfaat-sereh-untuk-kesehatan-790.html).

Jahe, bermanfaat untuk mengurangi rasa sakit, menghilangkan migrain, masuk angin, dan menghangatkan badan. Cengkeh sendiri bermanfaat untuk anti inflamasi, mengurangi peradangan, menghilangkan rasa nyeri. Sedangkan madu dan kayumanis berfungsi untuk menurunkan kolesterol dan meningkatkan daya tahan tubuh. Buat yang flu juga bisa mencampurkan kayumanis dan madu ini. Saya menambahkan lemon di dalamnya untuk kasih rasa biar enak dan menyegarkan. Tapi lemon juga kaya manfaat kok. Salah satunya untuk detoksifikasi dan vitamin C.

Nggak perlu harus obat kimia kan? Kita bisa membuatnya di rumah. Bahannya mudah didapat, murah pula.
Selamat mencoba...