Keraguan
memang seringkali muncul. Awalnya dari alam bawah sadar, lalu mencuat,
tumbuh bak penyakit yang menjamur dalam benak. Menggerogoti kalbu,
menyelipkan resah, membisikkan kata "jika".
Jika begini maka begitu. Jika kesana maka kesitu. Padahal semuanya belum tentu. Semua masih kelabu.
Lalu siapa sih yang pingin ragu?
Siapa pula yang senang memelihara keraguannya?
Membiarkannya menelikung tubuh, menghimpit nafas, menyulitkan tidur, dan menyesakkan dada.
Sungguh tidak ada, kawan.
Baiknya, lemparkanlah jauh-jauh keraguan itu.
Pasang tembok keyakinan setinggi-tingginya untuk menghalangi kembalinya si keraguan.
Cari kepastian dalam janjiNya.
Lakukan, apa yang seharusnya kau lakukan,
sambil berucap,
Hasbunallah wa ni'mal wakiil, Ni'mal mawla wa ni'man nashir.
Search This Blog
Saturday, June 29, 2013
Kenapa Tuhan ciptakan cinta?
Kalau ada kenapa, biasanya dengan cepat kita menjawab dengan awalan
KARENA. Untuk menunjukkan sebuah atau beberapa alasan penciptaan cinta.
Padahal sesungguhnya, cinta sejati justru cinta tanpa karena.
Mengalir tulus tanpa syarat, tak mengharap pujian, apalagi sekedar ucapan "terima kasih".
Demikianlah, Tuhan mengatur manusia agar bisa mencapai titik ekuilibrium dalam hidupnya. Dia perintahkan manusia yang berlainan suku, agama, budaya, dan bahasa untuk dapat saling mengenal, untuk saling mendalami karakter, sehingga timbul rasa toleransi, saling menyayangi, dan selanjutnya mencintai.
Dengan cinta yang sejati.
Padahal sesungguhnya, cinta sejati justru cinta tanpa karena.
Mengalir tulus tanpa syarat, tak mengharap pujian, apalagi sekedar ucapan "terima kasih".
Demikianlah, Tuhan mengatur manusia agar bisa mencapai titik ekuilibrium dalam hidupnya. Dia perintahkan manusia yang berlainan suku, agama, budaya, dan bahasa untuk dapat saling mengenal, untuk saling mendalami karakter, sehingga timbul rasa toleransi, saling menyayangi, dan selanjutnya mencintai.
Dengan cinta yang sejati.
Sunday, May 26, 2013
Langkah pertama di Banjarbaru
Kalau tulisan sebelumnya membahas tentang Indonesia Timur, kali ini saya akan menorehkan catatan perjalanan saya mengelilingi Kalimantan Selatan. Ya. Kalimantan Selatan, Provinsi penghasil emas hitam, Emas, Intan, Permata, dan batu-batu berharga lainnya.
Berawal dari sebuah pekerjaan mengenai Listrik Pedesaan dari PT. Surveyor Indonesia yang bekerjasama dengan PT. PLN Persero Wilayah Kalselteng, maka saya menginjakkan kaki kemari. Kalau perjalanan sebelumnya saya selalu "ala Koper" kali ini semua perjalanan saya adalah "ala Ransel". Kalau biasanya saya selalu menikmati fasilitas serba ada dan terbaik, kali ini saya full dengan keterbatasan. Saya benar-benar merasakan harus turun ke hutan, mengarungi sungai Barito, bahkan bertarung dengan maut di pedalaman Kalimantan Selatan.
Baiklah, awal mula perjalanan saya adalah ke Banjarbaru. Sebuah Kota di Kalimantan Selatan, yang sebentar lagi akan menggantikan Banjarmasin sebagai ibukota Kalimantan Selatan. Di Banjarbaru ini suasananya hampir mirip dengan di Bandung. Suasana lho ya, bukan iklim. Kenapa? Karena disini banyak sekali orang Sunda. Jajaran pedagang Siomay, Batagor, Bakso, Mie Ayam, sampai yang punya laundry dan tukang pulsa, semuanya orang Sunda. Rata-rata berasal dari Garut, Tasikmalaya, Bandung, Lembang, Cianjur, Purwakarta, dan tanah Sunda lainnya. Seru kan? Jauh-jauh saya ke Kalimantan, saya masih bisa menggunakan bahasa Sunda untuk berkomunikasi.
Saya menggunakan penerbangan langsung dari Bandung ke Banjarmasin dengan Lion Air. Pesawatnya baru, sehingga masih sangat nyaman. Meskipun tidak mendapatkan pelayanan sekelas Garuda Indonesia, tapi menurut saya pesawat ini memenuhi standar pelayanan minimal. Kabinnya nyaman, dengan interior yang menawan dan jarak antar kursi yang luas. Cukup leluasa untuk saya selonjoran. Kursinya juga empuk, jadi berasa di pesawat. Berbeda dengan pesawat Lion Air yang pernah saya naiki sebelumnya. Kursinya keras banget. Jadi seperti naik metromini jurusan Blok-M Tanah Abang :D
Pesawat mendarat jam 19.30 WITA di Bandara Syamsudin Noor. Sedikit terlambat dari jadwal semula gara-gara ada penumpang yang salah naik pesawat. Harusnya ke Banjarmasin, dia malah nangkring di pesawat tujuan Surabaya. Maklum sih...di Bandara Husein Sastranegara nggak jelas gitu petunjuknya. Nggak ada plang yang jelas kayak di Soekarno Hatta. Jam penerbangan pesawat berdekatan, tapi gate cuma satu. Kebayang kan, penuhnya kayak apa? Baru dua bulan nggak terbang lewat Bandung, eh...tau-tau boarding roomnya sudah kayak ikan sarden. Satu-satunya yang harus kita dengarkan adalah Mas dan Mbak pengarah jalan. Dia akan berteriak, "Banjarmasin!" "Surabaya!" Tapi namanya orang teriak di landasan tanpa pengeras suara, sekeras apapun dia berteriak kan hilang terbawa angin suaranya. Pokoknya saya sampai kasihan sama mas-mas dan mbaknya. Mana penumpangnya bandel-bandel lagi.
Saya dijemput Mas Ote dan Zhed (Seorang pria narsis, iconnya PT. Surveyor Indonesia Banjarbaru). Aduh kalau sudah ngobrol sama Zhed, nggak nahan deh. Adaaa aja celetukannya yang bikin kita ngakak. Kami makan malam di Rumah Makan Padang Sederhana. Karena rasanya itu yang masih buka dan menunya masih lengkap. Setelah itu kami diantar ke Riyadh Guesthouse yang beralamat di Komp. Citra Megah Raya blok B 34-35. Kalau ke Banjarbaru, gampang kok menemukan alamat Riyadh. Guesthouse ini nyaman banget. Meskipun pemiliknya mengatakan Riyadh adalah sebuah Guesthouse, Tapi fasilitas kamarnya kayak hotel bintang 3. Lebih rapi malah. Pelayanannya bagus, Bersih, dan desain interiornya keren. Usut punya usut, ternyata adiknya yang punya adalah seorang arsitek. Hmm...pantesan...untuk ukuran sebuah Guesthouse desainnya jauh berbeda dari Guesthouse yang pernah saya singgahi di Solo dulu. Sayang saya lupa nggak ngambil gambar Guesthouse ini. Oh iya, rate per malamnya saya kena IDR 320 ribu.
Simpang 4 Banjarbaru
Setelah istirahat satu malam di Riyadh, pagi hari saya dan tim menuju ke kantor pusat PT. PLN (Persero) Wilayah Kalselteng. Hanya berjarak tak kurang dari 1 km dari Riyadh Guesthouse. Waah..Enaknya di Banjarbaru tuh nggak ada macet. Hal itu yang selalu saya rindukan. Tata kotanya teratur, bersih, dan udaranya juga belum kena polusi seperti di Banjarmasin. Menurut saya, Banjarbaru adalah Kota yang nyaman untuk tempat tinggal.
Di kantor PLN saya berkenalan dengan anggota tim lainnya, dan diputuskan bahwa saya akan terjun langsung untuk melihat keadaan di lapangan. Khususnya desa belum berlistrik, dan desa yang rasio elektrifikasinya masih kecil. Saya nggak kaget, karena sebelumnya saya pernah ke Cianjur Selatan untuk pekerjaan yang tak jauh berbeda. Medan yang berat sudah terbayangkan oleh saya. Paling berat lainnya adalah saya nggak ngerti apa-apa soal listrik. Padahal saya harus berkutat dengan jaringan. Hahaha...parah ya?
Tapi saya dilatih langsung sama Pak Nesyandri Kahar. Biasanya beliau yang kasih pelatihan buat orang-orang PLN. Dan saya, dikasih penataran singkat soal Single Line Diagram, Grid and isolated system, tiang Tegangan Rendah, Tegangan Menengah, Tegangan Tinggi, Trafo, dan lain sebagainya. Lumayan, bikin saya pede kalau saya lagi ngobrol sama orang PLN :D (Padahal belajarnya juga baru-san).
Selesai meeting dengan tim PLN, Pak Nes nyariin saya tempat Kost. Karena saya akan bertugas selama kurang lebih satu bulan full. Dan...ketemulah satu tempat kost yang nyaman. Fasilitas lengkap, dan bapak dan ibunya baikkk banget. Pak Lazuardi namanya. Nah, ini penampakan kosan saya :
Dengan harga sewa kamar IDR 1,250 juta/bulan, saya dapat fasilitas lumayan lengkap. Ada kamar mandi dalam, AC, kasur spring bed, lemari, meja belajar, washtafel dan lobby (Bahasa keren buat ruang tamu). Jadi berasa kayak di rumah sendiri. Asyik lah buat istirahat. Cari makan juga gampang. Banyak penjual makanan di dekat tempat kost. Minimarket juga tinggal jalan sedikit ke depan. Tempat kost saya berada di Jalan Taruna Praja No. 11 (Kalau nggak salah) lupa-lupa inget soalnya. Tau nyampe aja :D. Salah satu makanan favorit saya di sekitar Taruna Praja: PENTOL. Namanya unik, ya? Sebenarnya Pentol adalah makanan khas Malang, Jawa Timur. Dibawa ke Kalsel juga sama orang Jatim. Saking banyak penggemarnya, akhirnya jadi makanan khas daerah Kalsel dehh...
Pentol
Pentol ini amat digemari di daerah Banjarbaru, Banjarmasin, bahkan sampai ke Marabahan. Kayaknya seluruh Kalsel kenal deh makanan ini. Kepopulerannya layak disamakan dengan Cilok di Bandung. Pentol sebenarnya adalah bakso. Namun orang Kalsel biasanya makan pentol dengan dicocol saus sambal dan sambal cabe. Kalau saya, memilih dikasih kuah. Harga satu porsi pentol ini IDR 7 ribu saja. Dijamin kenyang deh. Penampakan gambar di atas adalah versi sudah dimakan sama saya :D Saking seringnya saya beli pentol disini, Masnya sampai hafal sama saya. Dan kami biasanya ngomong pake bahasa Jawa. Menurut saya yang sudah mencoba pentol di Kalsel, saya menobatkan kalau Pentol Taruna Praja paling enak se-Kalsel. Hehehe...
Hari berikutnya, masih dalam rangka wisata kuliner (Kerjaan belum dimulai), saya bertiga dengan Pak Nes dan Mas Ote ke Banjarmasin. Saya lupa nama restaurantnya, tapi rasanya berada di Jalan Gatot Subroto. Menunya seafood dan beberapa makanan khas Banjar. Kami memesan 2 Es jeruk, juice alpukat, cah kangkung, dan 3 porsi ikan baronang bakar. Plus nasi putih tentu saja. Total harga makanan IDR 170 ribu saja.
Baronang Bakar
Cah Kangkung
Juice Alpukat
Soal rasa, dari skala 1-10, saya kasih nilai 7. Satu yang nyebelin, pesennya lamaaa...padahal perut sudah lapar berat. Mungkin karena kami pesannya bakar-bakar.
To be Continue, "Banjarmasin Second" with my team.
Friday, May 24, 2013
Menikmati Keindahan Benteng Tolukko dan Bella International Hotel Ternate
Benteng Tolukko
Sebelum masuk ke Benteng
Tolukko, saya sempat ngobrol sama Zul tentang asal mula Benteng ini. Dia malah bilang, "Ini lho mbak, yang buat syuting sama Bambang Pamungkas waktu iklan K**u B**a E*e*g*. Hehe...saya juga baru "ngeh". Wajar sih, Benteng ini berdiri di atas bukit batuan beku yang memanjang ke arah barat laut tenggara. Letaknya menjorok ke laut dalam. Biru tua laut berpadu dengan birunya langit Ternate yang bersih. Hmm...nggak heran kenapa dulu Portugis bikin Benteng disini. Letaknya sangat strategis.
Singkat cerita, Pada tahun 1661 Sultan Ternate Mandar Syah diberi ijin
menempati Benteng Tolukko dengan personil sekitar 160 orang. Penyebutan Benteng
Tolukko sendiri diberikan berdasarkan nama penguasa Ternate yang memerintah
pada tahun 1692 (TOLUKKO).
Saat saya berkunjung ke tempat ini, keadaan sudah sepi. Mungkin karena sudah sore. Gerbang sudah ditutup dan dikunci.
Saat saya berkunjung ke tempat ini, keadaan sudah sepi. Mungkin karena sudah sore. Gerbang sudah ditutup dan dikunci.
Masuk ke tempat ini gratis. Nggak tau tuh kalau misalkan kita boleh masuk ke dalam Benteng. Nggak ada tulisannya kita harus bayar berapa. Tapi yang pasti, tempat ini bersiiiih banget. Selesai berpose di Benteng Tolukko, saya memutuskan pulang ke Hotel. Shalat ashar, dzuhur, terus shalat maghrib. Jam 7 malam saya dijemput Zul buat makan malam. Kami memilih makan di pinggir laut, di kawasan Masjid Raya Ternate. Menunya, Coto Makassar. Sebenernya banyak sih makanan disitu, cuma rasanya Coto Makassar yang paling bisa diterima di lidah saya. Selesai makan, mampir ke pasar (Apa ya namanya? lupa). Saya beli perhiasan dari besi putih. Oleh-oleh khas Ternate. Saya kenal besi putih ini waktu saya berkunjung ke Ambon. Bentuk perhiasannya simpel, tapi berkesan elegan. Awet pula. Meskipun sering saya pakai waktu mandi, perhiasan dari besi putih ini nggak luntur warnanya.
Anyway...saya suka sama Ternate, cuma nggak suka sama biaya hidupnya yang super tinggi. Maklum sih, pulau ini kan terletak jauh dari gugusan pulau-pulau besar di Indonesia. Saya suka pemandangannya, saya suka pantainya, danaunya, Lautnya juga. Bersiih..perpaduan warna hijau dan biru tua. Kalau langit sih jangan ditanya. Keren banget. Beberapa foto saya ambil dari Balkon hotel yang menghadap ke Pulau Tidore dan Maitara:
Kalau yang di atas persis ini, fotonya diambil dari kamar saya, jam 7 pagi. Masih berkabut. Sedangkan dua foto di atasnya saya ambil dari balkon hotel, di lantai 2. Balkon ini memang diperuntukkan bagi pengunjung hotel yang hendak berfoto dengan pulau Tidore dan Maitara sebagai latar belakangnya. Saya sendiri puas ya dengan fasilitas hotel Bella International (*ini pendapat konsumen yang puas ya). Tapi...tetep aja ada tapinya :D Pelayanan hotel ini terkesan lambaaat banget. Semestinya, kalau sudah kelas internasional ya layanan dipercepat gitu. Stafnya nanya ke saya berulang-ulang. Padahal saya nggak suka jika sekali saya kasih tahu, orang itu nggak ngerti. Pada saat check in awal, saya ditangani staf hotel yang rada maaf, onyon kayanya. Setelah dijelaskan berkali-kali, Dia sudah oke. Bilang kamar sedang dibersihkan. Nah, pas saya pulang jalan-jalan dan mau ambil kamar, ganti lagi tuh orangnya. Prosedurnya diulang dari awal. Haduuh cape deeh...ternyata staf yang tadi nggak ngasih tahu ke temennya dooong...
Ya sudahlah. Toh fasilitas hotel ini dan staf yang lain lumayan oke. Kamarnya luas, bersih, perabotnya bagus, dan balkonnya bisa lihat pemandangan keren. Pantes lah kalau dia menyandang bintang 5. Ini tampilan kamarnya :
Oh iya, di hotel ini juga ada counter Garuda Indonesia. Jadi memudahkan saya. Tinggal city check-in, beres deh. Nggak usah ngantri lagi di Bandara Sultan Baabullah yang sempit itu :D. Sebagai penutup, saya kasih foto hasil jepretan saya dari tangga di Hotel Bella.
Dann...marilah pulaang...
Thursday, May 23, 2013
Batu Hangus, Lava indah dari Gamalama
Tulisan ini merupakan lanjutan dari perjalanan saya ke Ternate. Kalau pada tulisan sebelumnya saya membahas tentang Danau Tolire dan misterinya, kali ini saya akan mengajak anda untuk menyusuri Batu Hangus. Satu lokasi di batas kota Ternate yang dipenuhi bongkahan indah bebatuan berwarna hitam. Batu Hangus sebenarnya merupakan bekas muntahan lava Gunung Gamalama ratusan tahun lalu. Lava tersebut mengeras, menjadi batu, dan berwarna hitam pekat. Sehingga oleh masyarakat setempat disebut sebagai Batu Hangus. Namun lokasi Batu Hangus yang saya susuri adalah bekas letusan Gunung Gamalama tahun 1980an. Karena lokasi tersebut berada di pinggir jalan, dan gampang parkirnya.
Pada saat saya kesana, Gunung Gamalama baru saja meletus. Bekas-bekas letusan masih terlihat jelas. Jalanan berpasir, pepohonan yang terbakar, bebatuan yang memenuhi jalan, jembatan yang hancur (padahal saat itu baru saja jadi), dan rumah-rumah penduduk yang terbawa arus lahar panas Gunung Gamalama. Dahsyat sekali letusannya.
Gambar di atas ini tadinya adalah bekas rumah-rumah penduduk. Namun letusan Gunung Gamalama memporak-porandakan semuanya. Kini hanya tinggal pepohonan dan bebatuan yang berserakan. Menyisakan kesan gersang dan miris. Mengingat musibah tersebut banyak memakan korban.
Setelah menyusuri jalanan berpasir, kami kembali melewati jalan mulus. Bersih. Dengan latar Gunung Gamalama dan lautan yang membiru. Bentangan pulau Halmahera terlihat dari sini. Menjadi perpaduan yang sempurna untuk menikmati sore. Untuk mencapai ke lokasi ini, kita bisa menempuhnya dengan kendaraan bermotor. Jangan khawatir, kecuali lokasi bekas bencana, kondisi jalan menuju Bongkahan Batu Hangus sangatlah mulus. Kayak gini nih:
Dan....Inilah dia! Si Cantik Batu Hangus dari Gunung Gamalama :
Kami menghentikan mobil beberapa saat untuk berfoto. Nggak menyia-nyiakan kesempatan berpose tentunya. Lagi-lagi, Zul jadi fotografer dadakan :D
Setelah puas menikmati suasana di Batu Hangus, tujuan berikutnya adalah Benteng Tolukko! Sebuah situs peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu penjajahan Bangsa Portugis.
Subscribe to:
Posts (Atom)






























