Search This Blog

Saturday, November 21, 2015

Menikmati sore di Manggar, kota seribu warung Kopi



Selain Aceh, ternyata Manggar juga mendapatkan julukan Kota Seribu Warung Kopi. Rasanya memang pantas kota ini mendapat julukan tersebut. Warung-warung kopi berjajar, dari mulai warung kopi yang kecil, hingga yang berukuran besar dengan banyak meja dan kursi di dalamnya. Di jalan masuk warung kopi, berdiri monumen megah yang berbentuk Teko, dengan cangkirnya. Melambangkan kalau disini memang pusatnya kopi Manggar.

Monumen Kota Manggar
Setelah puas mengelilingi Belitung Timur, dalam perjalanan pulang saya pun singgah di salah satu warung Kopi. Kami memesan satu porsi pisang goreng, segelas kopi Manggar, dan segelas teh tarik. Namanya warkop Millenium, terletak di depan bangunan hotel apa gitu saya lupa.

Namanya Warkop Millenium
Kopi Manggar memang punya citarasa tersendiri. Harumnya tidak begitu menyengat, dan rasanya cocok sekali buat saya. Berbeda dengan kopi Aceh atau Makassar yang keras dan berat, Kopi Manggar menawarkan rasa yang ringan, namun khas sekali. Kalau buat saya, Kopi Manggar merupakan kopi terenak di Indonesia. No offense ya, kembali lagi ke selera. Karena meskipun saya pecinta kopi, saya nggak sanggup minum kopi yang terlalu berat seperti kopi Toraja, Takengon, atau Ulee Kareng. Bahkan kopi Lampung dan kopi AAA dari Jambi pun masih terkesan berat buat saya.

Ini dia tampilan Kopi Manggar :

Kopi Hitam khas Manggar dan Pisang Goreng
Harga untuk satu cangkir kopi Manggar, Satu Porsi Pisang Goreng, dan Satu gelas teh tarik dibanderol IDR 30.000. 
 
Saat ngopi-ngopi, saya mendapat BBM dari teman lama, Bisma. Dia teman kuliah saya dulu. Gara-gara saya update status, dia tahu saya sedang berada di Manggar. Terus teman saya ini bilang kalau di Manggar juga ada Kiki, teman saya satu jurusan. Sekarang bekerja di Dinas PU Belitung Timur. OMG...tadi padahal kantornya kelewatan. Tak berapa lama, Kiki mengontak saya. Duh sayang banget nggak bisa ketemuan karena Kiki masih di Kantor, dan masih lama pulangnya. Sementara saya juga takut kemalaman tiba di Tanjung Pandan. Akhirnya kami hanya bisa ngobrol via BBM deh.

Nggak apa-apa lah ya...yang penting tahu Kiki ada di Manggar. Jadi lain waktu, saya akan atur pertemuan dengannya.

No comments:

Post a Comment